MenaraToday.Com - Semarang :
Dia Mursyid thoreqoh as syadziliyah. Jamaah dan santrinya puluhan ribu. Dengan Zawiyah nya (tempat melakukan suluk atau tawajuhan) di beberapa tempat.
Terakhir kali KH Moses Zainal Abidin bin Zen saking cintanya kepada Nabi, dia mengembang kan rothibul hadad Di beberapa pondok pesantren. Termasuk pondok pesantren An Nuriyah Soko tunggal jalan Sendang Guwo Raya No. 40 Semarang. Namanya sendiri tidak dia hiraukan.dia lebih senang sembunyi di belakang layar. Padahal dialah panglima laskar militan Jokowi, dari Sokotunggal.
Kemarin saya ke Gunung Salak. Membawa dua stel pakaian di koper kecil. Rencana nya pakaian hitam Senopati Nusantara PGN akan saya pakai di makam kyai Santri cucu buyut Pangeran Samber Nyowo sekaligus sambang ke rumah mantan sekjen Firkhagama Jawa Barat. Haryanto.
Pakaian itu tidak sempat saya pakai saya bawa balik ke Semarang lagi. Perjalanan demikian jauh lewat darat membuatku capek banget. Seperti limbung. Bahkan sampai pertemuan dengan beberapa santri dan keluarga dekat saya kurang konsentrasi.
Jam 23.00 sama masih buka WhatwApp tetapi tidak membumi. Hingga jam dua pagi baru bisa merem. Tetapi terbangun. membayang wajah adik ku ini. Hanya saya tidak menduga dia pamit. Karena dia tersenyum dan nampak sehat.
Duh ternyata sang adik yang Tawadhuk dan loyal serta pemberani ini mendahuluiku. Dia panglima laskar militan Jokowi yang berjuang tanpa pamrih, Dia tangguh. Sabar . Meski di maki dan di bicarakan 'keburukan' yang tidak dilakukan nya. Saya jitu 'kangmas' katanya suatu saat kepadaku.
Allah humma firlahum warhamhum wa afihim wa'fuanhum. Allah Huma inna nas aluka ridloka wal Jannah wa naudzu bika min Sakhotika wan nar ya Aziz ya Ghofar ya rabbal alamin. (adm)

