Operasi TMC Sebagai Solusi Banjir Jabodetabek

Dilihat 0 kali
Sabtu, 04 Januari 2020 / 16:37

MenaraToday.Com - Jakarta : 

Dalam rangka menanggulangi bencana banjir di wilayah Jabodetabek dan kota penyangga sekitarnya yang terjadi karena faktor tingginya intensitas hujan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan TNI Angkatan Udara (TNI AU) melakukan upaya reduksi dan redistribusi curah hujan menggunakan metode Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).


Kepala BPPT Hammam Riza menyatakan bahwa pihaknya siap untuk menjalankan operasi TMC sebagai solusi berbasis teknologi dari masalah banjir yang dipicu oleh faktor cuaca. Operasi TMC tersebut sedianya dilaksanakan mulai  Jumat (3/1/2019).

“Aplikasi TMC dapat dimanfaatkan dengan tujuan mengurangi intensitas curah hujan di wilayah Jabodetabek. Dengan demikian risiko terjadinya banjir yang berpotensi meluas dapat diredam,” jelas Hammam saat meluncurkan Operasi TMC untuk Menanggulangi Banjir Jabodetabek di Kantor BPPT, Jakarta (3/1).

Secara teknis penerapan TMC dilakukan untuk menurunkan hujan ke wilayah yang aman dan jauh dari permukiman penduduk atau sebelum awan memasuki kawasan padat penduduk seperti di wilayah Selat Sunda atau Laut Jawa.

Hujan diturunkan menggunakan Natrium Klorida (NaCl) yang diangkut dan ditebarkan ke bibit awan menggunakan pesawat Casa 212-200 dan CN-295 milik TNI AU dari Skuadron Udara 2 Halim Perdanakusuma dan Skuadron Udara 4 Abdurrachman Saleh di Malang.

Pelaksanaan operasi TMC untuk penanggulangan bencana banjir di Jabodetabek dan sekitarnya tentunya harus memperhatikan pertumbuhan awan. Hal itu menjadi faktor penting yang harus terus dipantau secara berkesinambungan.

Oleh sebab itu, guna membantu pengamatan cuaca dan kondisi awan di wilayah target, BPPT bekerjasama dengan BMKG untuk analisa data cuaca dari radar Stasiun Meteorologi Cengkareng.

Manfaat TMC untuk Penanggulangan Bencana adalah selain mereduksi dan meredistribusi curah hujan untuk menanggulangi masalah banjir, TMC juga dimanfaatkan untuk operasi penanggulangan bencana lainnya seperti pemadaman kebakaran hutan dan lahan, pembasahan lahan gambut, pengisian waduk atau embung, hingga meningkatkan elevasi sungai untuk irigasi sehingga dapat meningkatkan produksi pertanian.

Pada puncak musim kemarau tahun 2019, BNPB bersama BPPT dan BMKG juga telah menggunakan operasi TMC untuk memadamkan karhutla di sejumlah titik di Sumatera dan Kalimantan. Upaya tersebut telah membuahkan hasil seperti yang dilakukan di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro mengapresiasi upaya BNPB bersama BPPT, BMKG, K/L lain serta dari unsur TNI dan Polri dalam kegigihan upaya menanggulangi bersama. Menurut Bambang, sudah saatnya Indonesia mulai menerapkan teknologi untuk mengurangi dampak bencana alam.

“Saya memberikan apresiasi BNPB dan K/L lain yang selalu berupaya untuk menanggulangi bencana. TMC dilakukan untuk mengurangi risiko bencana agar tidak lebih buruk lagi. Bencana harus kita hadapi dan kita harus bisa menggunakan teknologi untuk mengurangi risiko bencana,” ungkap Bambang.

Dalam kesempatan yang sama Kepala BNPB Doni Monardo mengatakan bahwa kapasitas manusia hanya dapat mengurangi potensi bencana dengan merawat alam. Bagaimanapun manusia tidak bisa menahan kekuatan alam itu sendiri.

“Tidak ada manusia yang mampu menahan kekuatan alam, tapi kita masih bisa mengurangi apa yang dapat menjadi potensi bencana. Kita bisa mengurangi 20 persen dan itu sudah membantu menyelamatkan masyarakat,” kata Doni.

Bagi alumni Akademi Militer 1985 itu operasi TMC menjadi suatu keharusan sebagai upaya pencegahan dan pengurangan risiko bencana sebagai penyelamatan, sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo bahwa keselamatan masyarakat adalah prioritas utama.

Mantan Komandan Jenderal Paspampres itu juga menegaskan bahwa apabila alam diganggu maka alam akan mengganggu kita, oleh karena itu Doni mengajak semua unsur masyarakat agar dapat menjaga alam, karena dengan kita alam maka alam jaga kita.

 Siklus Cuaca Berubah

Menutup seluruh arahan dari K/L, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan beberapa pelajaran yang harus diperhatikan sebagai bagian dari mitigasi bencana yang dipicu oleh faktor cuaca.

Menurut data BMKG siklus pergerakan cuaca sudah banyak berubah. Siklus cuaca ekstrem memendek, yang sebelumnya datang 10 tahunan menjadi 5 tahunan bahkan 2 tahunan sekali terjadi karena perubahan kondisi alam.

Oleh karena itu, mendukung arahan Kepala BNPB Doni Monardo, “Srikandi Penanggulangan Bencana” itu juga menghimbau agar masyarakat bisa beradaptasi dan bisa mengurangi risiko bencana dengan menjaga alam.

Selain itu, Dwikorita juga mengingatkan agar masyarakat dapat menggunakan informasi prakiraan cuaca dari BMKG sebagai peringatan dini sehingga segala bentuk ancaman dan risiko bencana dapat dikurangi.

“Percayalah prakiraan cuaca dari BMKG meski akurasinya terbatas. Semoga apa yang kita upayakan dapat membantu masyarakat, tutup Dwikorita.(efrizal)
Komentar Anda

Terkini