Call Center0852-7610-8862
Emailmenaraindonesia123@gmail.com

Covid-19 Tak Kunjung Berakhir, Ini Dia Curahan Hati Si Bocil

MenaraToday.Com - Batu Bara : 

Masa pandemi covid-19 belum juga berakhir di negeri ini. Hal ini tentunya sangat mengganggu didalam kehidupan. Bukan hanya bagi orang-orang dewasa saja, namun para Bocil (Bocah Cilik) juga turut merasakan dampaknya.

Mulai terganggu dari segi pendidikannya hingga dunia bermain dengan teman-teman di lingkungannya.

Seperti halnya dengan Asyifah Azzahra Tanjung (8), seorang bocah SD yang tinggal di Dusun V, Desa Mangkai Baru, Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara ini. Beliau mengaku bosan dengan keadaan pandemi covid-19.

"Dulu enak, setiap hari bisa sekolah. Bisa jumpa sama teman-teman, jumpa sama guru, belajarnya pun langsung jelas, beda sama sekarang om, sekolahnya cuma seminggu 2 kali aja, terus belajarnya kebanyakan pake HP, udah gitu gak bisa jumpa teman-teman sekolah pula," ujar sang juara kelas di SDN 013873 Mangkai Baru itu dengan kecewa.

Lebih lanjut lagi dikatakan bocah yang akrab dipanggil Syifah ini, masa bermainnya pun harus dibatasi oleh kedua orang tuanya.

"Sekarang memang sering libur sekolah tapi gak enak om. Karena Syifa dimarahin bunda kalau mainnya kumpul ramai-ramai sama kawan, terus kalau keluar pun sekarang dikasih masker sama bunda. Kata bunda biar nggak kena covid om, jadi sekarang Syifa mainnya dirumah ajalah sama adek om," jelasnya.

Kekhawatiran itu pun terucap dari mulut Sang Bunda. Menurut Eka pandemi covid -19 ini memang sangat berbahaya, dan dirinya takut apabila penyakit yang mematikan ini sampai menyerang putra-putrinya yang masih kecil.

"Kalau kita lihat berita, sudah banyak sekali korban covid-19 ini. Jadi takut aja kalau sampai kena sama anak-anak. Apalagi anak saya si Syifah ini, dia mainnya agak lasak, dia itu paling senang kalau kumpul-kumpul dan banyak temannya. Jadikan kita sebagai orang tua khawatir, makanya jarang saya kasih main-main keluar, namun sekali-sekali kalau dia maksa pingin keluar terpaksa saya izinin juga tapi tetap saya pakaikan masker," jelas Sang Bunda.

Sementara saat dimintai keterangannya mengenai sekolah tatap muka, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Batu Bara Ilyas Sitorus, SE mengaku telah membukanya sejak bulan September lalu dan beliau juga berharap kepada para pelajar dan pengajar agar dapat bersabar menghadapi situasi ini.

"Kita sudah tatap muka sejak 7 September 2020 yang lalu sampai dengan sekarang, dengan pola pembelajaran tatap muka terbatas di 162 sekolah di Batu Bara.

Inn Shaa Allah Tahun Pembelajaran baru 2021-2022 kita akan perluas jika memungkinkan untuk semua sekolah sampai dengan SMP sepanjang sekolah siap mengikuti prokes bidang pendidikan dan ada persetujuan dari orang tua siswa. Jika tidak ada persetujuan maka pembelajaran pada anak yg bersangkutan akan tetap Daring PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Saya juga berharap kepada para Pengajar dan adik-adik pelajar dapat bersabar dengan situasi ini. Mari kita sama-sama berdoa agar pandemi covid-19 ini dapat segera berakhir," ujar pria yang akrab disapa Ncek Il ini.

Lebih lanjut dijelaskan Ilyas bahwa hingga saat ini PTM Terbatas telah berjalan lancar.

"Alhamdulillah kita sudah jalani hampir satu tahun PTM Terbatas ini dan Alhamdulillah berkat kerjasama semua pihak, anak-anak dalam pembelajaran berjalan lancar dan tetap dalam lindungan Allah swt sampai dengan saat ini.

Sepanjang upaya dan usaha kita mengikuti dan mematuhi prokes Inn Shaa Allah akan aman," jelasnya.

Ncek Il juga menjabarkan alasannya kenapa harus berupaya agar sekolah secepatnya memberlakukan metode PTM (Pembelajaran Tatap Muka) .

"Suasana kita sangat beda dengan daerah lain. Kita umumnya ditepian pantai, jika anak dirumah sajo dianggap sebagian orang tua anaknya libur bukan sekolah, jadi diajaklah membantu, akhirnya anak bisa lupa sama sekolahnya karena anak akan bekerja dan mendapatkan upah, dan lain-lain," jelasnya.

Maka dari itu, Ilyas juga berharap kepada Dinas Kesehatan agar mengutamakan tenaga pendidik dan kependidikan diprioritaskan untuk mendapatkan vaksinasi. 

"Kita baru 4700an yang sudah mendapatkan vaksinasi dari jumlah guru kita 6.600an. Jadi ada sekitar 2000an lagi yang belum divaksin. Tapi belum termasuk yang kemaren mengikuti vaksinasi massal, karena guru-guru juga kita hadirkan. Himbauan kita melalui Disdik ke Dinkes agar mengutamakan tenaga pendidik dan kependidikan di prioritaskan mendapatkan vaksinasi," harapnya. (Dwi)

Posting Komentar

Tab #2 Letakkan Judul Kontent disini !

Isikan Kontent Anda disini !

Tab #3 Letakkan Judul Kontent disini !

Isikan Kontent Anda disini !