MenaraToday.Com - Pandeglang :
Proses pembagian kartu ATM Bank Mandiri untuk 3.061 keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, terpaksa dihentikan, Senin (25/8/2025). Penghentian dilakukan lantaran suasana tidak kondusif dan sulit dikendalikan.
Berdasarkan pantauan, hingga menjelang maghrib warga masih saja antri di Kantor Kecamatan Labuan untuk melakukan pengambilan kartu ATM yang disalurkan oleh salah satu anggota himpunan bank negara (Himbara) yakni Bank Mandiri.
Salah satu KPM, Itoh (56), mengaku kecewa karena sudah menunggu sejak pagi namun akhirnya diminta pulang tanpa kejelasan.
“Saya sudah di sini dari jam setengah delapan pagi. Tadi sempat pulang jam 2 siang untuk salat dan makan, pas balik nama saya sudah diselang orang lain. Eh, malah disuruh pulang karena kondisi kacau,” keluhnya.
Koordinator PKH Kecamatan (Korcam) Labuan, Herawati, membenarkan penghentian tersebut. Menurutnya, warga tidak mematuhi jadwal yang sudah diatur berdasarkan undangan, sehingga situasi menjadi tidak terkendali.
“Iya betul, kami hentikan karena warga sulit diatur, semua merangsek masuk ke ruangan. Padahal setiap desa sudah dijadwalkan jam pengambilannya,” jelasnya.
Herawati menambahkan, hanya empat desa yang tetap bisa melanjutkan proses pengambilan kartu, yakni Kalang Anyar, Banyu Biru, Cigondang, dan Caringin. Sementara lima desa lainnya yakni Banyu Mekar, Teluk, Sukamaju, Labuan, dan satu desa lain diminta pulang dan menunggu informasi lanjutan.
“Hasil komunikasi dengan Pak Camat, diputuskan hanya empat desa yang lanjut. Untuk desa lain akan diinformasikan kemudian,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, Dinas Sosial Kabupaten Pandeglang memerintahkan agar kegiatan dievaluasi.
“Besok semua pendamping PKH dan TKSK dipanggil ke kabupaten untuk evaluasi,” tambahnya.
Sulaeman Apandi, Koordinator PKH Kabupaten (Korkab), menilai pemusatan lokasi di Kantor Kecamatan Labuan menjadi penyebab utama kekacauan. Keputusan tersebut, kata dia, merupakan kewenangan pihak Bank Mandiri.
“Penentuan lokasi ini murni keputusan Bank Mandiri dengan alasan efektivitas. Tapi kenyataannya malah chaos. Bahkan ada KPM asal Cigondang yang pingsan, di Cibaliung ada yang melahirkan. Kami sejak awal menyarankan agar pembagian dilakukan di desa masing-masing, tapi tidak diindahkan,” bebernya.
Menurut Apandi, kurangnya dukungan pengamanan dan fasilitas kesehatan memperparah kondisi di lapangan.
“Tim kesehatan tidak ada, keamanan hanya satu anggota Brimob. Lalu lintas pun macet. Semoga ini jadi evaluasi agar tidak terulang,” tandasnya.
Sementara itu, Iqbal selaku PIC Bank Mandiri di lokasi mengaku tidak mengetahui detail teknis mengenai penentuan tempat maupun penyediaan fasilitas pendukung.
“Soal alasan lokasi, tim kesehatan, dan teknis lainnya saya tidak tahu. Saya hanya PIC di sini. Untuk keamanan memang ada satu anggota Brimob Polda,” ujarnya singkat. (ILA)
