Dihantam Hujan Deras, Bendungan Badudun Kembali Longsor

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Deru air bercampur lumpur terdengar lebih keras dari biasanya di kawasan wisata air alami Badudun. Hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Banyu Biru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, selama beberapa hari terakhir kembali meninggalkan luka pada bendungan tua yang telah berusia puluhan tahun. Dinding bendungan Badudun longsor, membuat kawasan wisata tersebut porak poranda.

Longsor terjadi dua kali dalam satu hari, yakni sekitar pukul 07.00 WIB dan kembali terjadi pada pukul 10.00 WIB. Kamis (15/1/2026). 

Sekretaris Desa Banyu Biru, Ahmad Hasanudin alias Acang, mengatakan peristiwa tersebut dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi bangunan bendungan yang sudah lapuk dimakan usia.

“Kejadiannya ada dua kali. Penyebabnya hujan deras yang bikin debit air meninggi dan bangunan bendungan yang memang sudah tua. Kalau yang longsor di depan bendungan murni karena hujan, sementara di bagian utama bendungan karena faktor bangunan,” ujar Acang kepada menaratoday.com.

Akibat longsor tersebut, kondisi wisata air alami Badudun mengalami kerusakan cukup parah. Material tanah dan bebatuan menutup pintu air bendungan, sementara saluran air melebar tak beraturan.

“Hancur kondisinya. Sebelumnya juga sudah pernah longsor, dan yang ambrol kemarin itu sisa-sisa yang dulu. Sekarang pintu air tertutup longsoran, saluran air melebar, benar-benar porak poranda. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” tuturnya.

Meski saat ini ketinggian air masih dalam batas normal, kekhawatiran tetap menghantui warga sekitar. Jika hujan terus turun, debit air dikhawatirkan akan berbelok arah menuju permukiman.

“Yang kami takutkan air mengarah ke pemukiman warga Kampung Bantar Panjang. Itu yang jadi perhatian utama kami sekarang,” ungkap Acang.

Kondisi tersebut dibenarkan oleh pengelola wisata air alami Badudun, Abdullah. Ia menyebut longsor tidak hanya terjadi pada dinding bendungan, tetapi juga berasal dari lahan di bagian atas bendungan.

“Lebih parah memang. Longsor bukan cuma dari dinding bendungan, tapi juga dari lahan yang berada tepat di atas bendungan,” jelasnya.

Terkait masa depan wisata Badudun, Abdullah belum bisa memastikan apakah lokasi tersebut akan kembali dibuka untuk umum dalam waktu dekat.

“Gimana nanti aja,” ujarnya singkat.

Sebagai informasi, Bendungan Badudun yang dibangun sekitar 42 tahun lalu memiliki peran vital bagi warga sekitar. Selain menjadi destinasi wisata air alami, bendungan ini juga mengairi sekitar 450 hektare lahan pertanian dan menjadi sarana mandi serta mencuci bagi warga. Pada 2024 lalu, bendungan ini sempat mengalami ambrol untuk pertama kalinya, dan kini, sejarah pahit itu kembali terulang. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama