MenaraToday.Com - Pandeglang :
Sopir bus Murni Jaya dengan kode 95 yang sebelumnya diduga menghalangi laju Ambulans gawat darurat di Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang, Banten, akhirnya angkat bicara.
Melalui sebuah video yang beredar luas di media sosial pada Rabu (21/1/2026), sopir bernama Jaya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka.
Dalam video tersebut, Jaya tampak menyesali perbuatannya yang telah memicu kemarahan publik. Dengan raut wajah serius, ia menyampaikan permintaan maaf kepada relawan Ambulans serta keluarga pasien yang saat itu sedang dibawa dalam kondisi kritis.
“Saya memohon maaf kepada relawan Ambulans dan keluarga pasien atas kejadian kemarin. Saya mengakui adanya kekeliruan dan sangat menyesal,” ujar Jaya dalam rekaman tersebut.
Momen haru pun terlihat ketika Jaya berjabat tangan dengan Ade, pengemudi Ambulans yang terlibat langsung dalam insiden itu. Keduanya berdiri di depan sebuah mobil Ambulans, menandai upaya penyelesaian secara damai dan kekeluargaan atas peristiwa yang sempat viral di jagat maya.
Ade menerima permohonan maaf tersebut dengan lapang dada. Ia berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama terhadap kendaraan medis yang sedang menjalankan misi kemanusiaan.
“Semoga ini jadi pelajaran bersama, agar ke depan semua pengemudi lebih peduli terhadap ambulans yang membawa pasien darurat,” ucap Ade.
Diberitakan sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan Ambulans membawa pasien dalam kondisi gawat darurat diduga dihalangi oleh sebuah bus antar kota viral di media sosial. Peristiwa memilukan itu terjadi di Kabupaten Pandeglang dan melibatkan bus Murni Jaya berkode 95.
Dalam rekaman yang beredar, Ambulans terlihat telah menyalakan sirine darurat dengan volume tinggi sebagai tanda meminta prioritas jalan. Namun, sepanjang perjalanan, bus tersebut justru tidak memberikan ruang. Beberapa kali ambulans mencoba menyalip saat kondisi jalan tampak lengang, tetapi bus diduga sengaja memepet sehingga upaya tersebut selalu gagal.
Situasi semakin memprihatinkan karena kejadian berlangsung di tengah hujan gerimis dengan kondisi jalan licin, yang seharusnya membuat pengendara lebih berhati-hati dan mengutamakan keselamatan. Alih-alih melambat dan memberi jalan, bus tetap bertahan di jalurnya, seolah menutup kesempatan ambulans untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan. (ILA)
