MenaraToday.Com - Pandeglang :
Aroma ikan asin dan sayur-mayur segar bercampur di udara Pasar Tradisional Pandeglang, Senin pagi (23/2/2026). Aktivitas jual beli sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya meninggi. Di antara hiruk-pikuk tawar-menawar, langkah Bupati Pandeglang Raden Dewi Setiani menyusuri lorong-lorong pasar menarik perhatian para pedagang dan pembeli.
Tanpa seremoni panjang, Dewi menyapa satu per satu pedagang bahan pokok mulai dari beras, cabai, daging, hingga ikan asin yang ditata bertumpuk di atas meja kayu. Ia berhenti sesekali, menanyakan harga, pasokan, dan keluhan yang dirasakan pedagang.
“Bagaimana harga hari ini, Bu? Ada kenaikan?” tanyanya kepada seorang pedagang sayur.
“Masih stabil, Bu. Tapi pembeli sekarang lebih selektif,” jawab si pedagang sambil tersenyum.
Bagi Dewi, sidak bukan sekadar agenda formal. Ia ingin memastikan dua hal penting: harga tetap terjangkau dan pangan yang beredar aman dikonsumsi. Karena itu, sidak kali ini turut melibatkan tim dari Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Serang.
Di salah satu sudut pasar, Kepala BBPOM Serang, Fauzi Ferdiansyah, bersama timnya tampak serius memeriksa sejumlah sampel makanan. Beberapa produk olahan diambil untuk diuji cepat di lokasi. Wajah para pedagang terlihat tegang namun penasaran menunggu hasilnya.
Tak lama kemudian, hasil pemeriksaan awal mengungkap temuan yang mengejutkan. Salah satu sampel teri Medan yang dijual di pasar terindikasi mengandung bahan berbahaya.
“Kami menemukan indikasi adanya bahan berbahaya pada sampel teri Medan ini. Temuan ini akan kami tindak lanjuti lebih lanjut,” ujar Fauzi dengan nada tegas.
Teri Medan, yang selama ini menjadi pelengkap favorit berbagai hidangan rumahan, mendadak menjadi sorotan. Bahan tambahan berbahaya seperti Rhodamin B (zat pewarna tekstil) atau formalin yang kerap disalahgunakan untuk mengawetkan makanan, menjadi ancaman nyata bagi kesehatan jika dikonsumsi terus-menerus.
Fauzi mengingatkan para pedagang agar tidak tergiur menggunakan bahan tambahan terlarang demi menjaga tampilan atau daya tahan produk.
“Penggunaan bahan seperti Rhodamin B dan formalin sangat berbahaya. Dampaknya bisa serius bagi kesehatan konsumen,” tegasnya.
Sementara itu, Dewi menegaskan komitmennya untuk memperkuat pengawasan pangan di wilayahnya. Menurutnya, pasar tradisional adalah denyut ekonomi rakyat yang harus dijaga, bukan hanya dari sisi harga, tetapi juga kualitas dan keamanannya.
“Kita ingin masyarakat merasa aman saat berbelanja. Jangan sampai ada yang dirugikan karena pangan yang tidak layak konsumsi,” ujarnya.
Sidak pagi itu pun menjadi pengingat bahwa di balik ramainya aktivitas pasar, ada tanggung jawab besar untuk memastikan setiap bahan pangan yang berpindah tangan tetap aman hingga tersaji di meja makan keluarga. Di antara aroma asin teri dan suara riuh tawar-menawar, pesan tentang pentingnya keamanan pangan bergema lebih kuat dari biasanya. (ILA)
