MenaraToday.Com - Pandeglang :
Sore itu, Sabtu (28/3/2026), aliran Sungai Cilemer di Desa Idaman, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, tampak seperti biasa. Air mengalir tenang, sebagian warga masih beraktivitas di tepian, ada yang mencari kerang, ada pula yang sekadar mencuci dan mandi. Namun, ketenangan itu mendadak terusik oleh kabar yang cepat menyebar dari mulut ke mulut, seekor buaya terlihat di sungai.
Kabar tersebut pertama kali dipastikan oleh Endang (38), relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Desa Idaman. Sekitar pukul 14.02 WIB, ia mengaku melihat langsung sosok buaya kecil muncul di permukaan air.
“Saya lihat sendiri ada buaya kecil di Sungai Cilemer tadi sore. Panjangnya kurang lebih 50 sentimeter sampai 1 meter,” tutur Endang.
Menurut Endang, kemunculan buaya itu sontak membuat warga yang berada di sekitar sungai panik dan segera menjauh. Ia pun langsung menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat lain agar tidak ada yang mendekat ke aliran sungai.
Meski ukurannya tidak besar, kemunculan buaya itu cukup membuat warga resah. Sungai Cilemer bukan sekadar aliran air bagi masyarakat Desa Idaman, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas ekonomi sederhana hingga kebutuhan rumah tangga, banyak warga menggantungkan diri pada sungai tersebut.
Sebagai relawan kebencanaan yang kerap berinteraksi dengan masyarakat, Endang segera bergerak cepat memberikan imbauan. Ia meminta warga untuk sementara waktu menghentikan aktivitas di sungai demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.
“Saya himbau kepada warga untuk sementara jangan dulu main atau beraktivitas di sungai. Meski kecil, buaya tetap berbahaya. Lebih baik kita waspada,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan warga yang biasa mencari kerang, mandi, atau mencuci di sungai agar lebih berhati-hati jika terpaksa mendekat.
“Kalau memang harus ke sungai, tetap hati-hati dan jangan sendirian,” tambahnya.
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Bagi warga Kecamatan Patia, ingatan akan insiden serangan buaya muara di masa lalu masih membekas. Sungai Cilemer sendiri pernah menjadi sorotan akibat kejadian serupa yang menimbulkan korban.
Endang berharap warga dapat segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila kembali melihat buaya tersebut, agar bisa segera ditangani.
“Kalau ada yang lihat lagi, segera laporkan supaya bisa cepat ditindaklanjuti,” katanya.
Kini, suasana di tepian Sungai Cilemer berubah. Aktivitas yang biasanya ramai mulai berkurang. Warga memilih menahan diri dan meningkatkan kewaspadaan, sembari menunggu langkah penanganan dari pihak terkait.
Di tengah kekhawatiran itu, warga Desa Idaman diingatkan kembali bahwa hidup berdampingan dengan alam memerlukan kehati-hatian. Sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan, sewaktu-waktu juga bisa menghadirkan ancaman yang tak terduga. (ILA)
