MenaraToday.Com - Pandeglang :
Warga Desa Rancatereup, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengeluhkan bau menyengat yang diduga berasal dari aktivitas pembakaran limbah kerompong di sebuah lapak rongsok yang berlokasi dekat permukiman. Warga khawatir asap hasil pembakaran limbah tersebut berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan balita.
Keluhan disampaikan warga Kampung Sukamulya, RT 03/RW 04, yang mengaku sudah cukup lama mencium bau tidak sedap setiap kali aktivitas pembakaran dilakukan. Selain mengganggu kenyamanan, warga juga menilai asap hitam yang muncul saat pembakaran berpotensi mencemari udara di lingkungan sekitar.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan, pembakaran limbah memang tidak dilakukan setiap hari. Namun, aktivitas tersebut berlangsung secara berkala, baik pada malam hari maupun siang hari.
"Saya punya anak kecil di rumah. Lokasi lapaknya sangat dekat dengan permukiman, jadi khawatir kalau asapnya berdampak terhadap kesehatan," ujarnya, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, bau yang ditimbulkan terkadang menyerupai bau obat-obatan maupun karet terbakar. Bahkan saat pembakaran dilakukan pada siang hari, asap hitam terlihat membumbung dari area lapak.
Ia juga mengungkapkan anaknya sempat menjalani perawatan selama empat hari di RSUD Labuan akibat bronkitis. Meski belum dapat dipastikan berkaitan dengan asap pembakaran limbah, ia berharap aktivitas tersebut dihentikan demi menghindari risiko terhadap kesehatan warga.
"Jangankan anak kecil, saya saja tidak kuat dengan baunya. Kami hanya ingin pembakaran tidak lagi dilakukan di dekat rumah warga," katanya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya. Mereka menduga bau menyengat berasal dari pembakaran limbah yang dilakukan di area lapak kerompong.
Menurut warga, di sekitar lokasi terdapat banyak rumah penduduk, termasuk balita yang dikhawatirkan rentan mengalami gangguan saluran pernapasan apabila aktivitas pembakaran terus berlangsung.
"Kami khawatir terjadi ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) karena di sekitar lapak ada balita. Harapannya ada tindakan dari pemerintah agar aktivitas seperti ini tidak terjadi lagi," papar warga.
Masyarakat berharap Pemerintah Desa Rancatereup bersama instansi terkait segera melakukan pengecekan terhadap dugaan pembakaran limbah tersebut serta mencari solusi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.
Menanggapi keluhan warga, pemilik lapak kerompong, Didit, mengakui selama ini memang melakukan pembakaran sampah di area usahanya. Namun, ia menegaskan yang dibakar hanya sampah berbahan plastik dan bukan limbah medis maupun limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
"Hanya plastik-plastik saja, itu pun sedikit. Tidak ada limbah logam ataupun limbah kimia dari puskesmas maupun rumah sakit. Untuk ban atau bahan karet hanya ditumpuk di belakang," jelasnya.
Didit menyampaikan, sebelumny sempat berkordinasi dengan pengangkutan sampah namun tidak menyanggupi.
"Sudah berkordinasi dengan yang suka ngangkut sampah tapi pihak mereka tidak menyanggupi padahal kami bayar juga kalau memang mereka bersedia mengangkut," terangnya.
Didit mengatakan aktivitas pembakaran tidak dilakukan setiap hari, melainkan bergantung pada kondisi cuaca dan jumlah sampah yang terkumpul.
Ia juga mengaku selama lima tahun menjalankan usaha di lokasi tersebut belum pernah menerima keberatan secara langsung dari warga maupun aparatur pemerintah desa.
Meski demikian, Didit menyatakan menerima masukan dari masyarakat dan berkomitmen menghentikan pembakaran sampah di area lapaknya.
"Terima kasih atas masukannya. Demi kebaikan bersama, insya Allah kami tidak akan membakar sampah lagi di area lapak. Mohon maaf kepada warga atas ketidaknyamanannya," ucapnya.
Komitmen tersebut langsung ditindaklanjuti dengan menginstruksikan para pekerja agar seluruh sampah dikemas ke dalam karung dan tidak lagi dibakar.
Warga berharap komitmen tersebut benar-benar dijalankan sehingga pencemaran udara dapat dicegah dan lingkungan sekitar permukiman menjadi lebih nyaman serta aman bagi kesehatan masyarakat. (ILA)
