Dusun VIII Desa Pertahanan, Sei Kepayang Belum Terjamah Pembangunan Infrastruktur Jalan Dan Aliran Listrik

MenaraToday.Com - Asahan 

Warga Dusun VIII Desa Pertahanan, Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan, Sumatera Utara belum merasakan arti kemerdekaan sesungguhnya, pasalnya hingga saat ini warga sangat merindukan adanya aliran listrik dan pembangunan infrastruktur jalan ke kampungnya .

Menurut Kepala Dusun VIII Desa Pertahanan, Nazar Muliyono saat berbincang dengan wartawan mengatakan warganya merasa iri dengan dusun lainnya yang telah teraliri listrik.

"Jujur kami merasa di anak tiri kan sama pemerintah dan kami juga merasa iri dengan dusun lainnya yang telah terang benderang karena telah mendapatkan pasokan listrik. Tapi mau bagaimana lagi, hingga saat ini kami masih belum mendapatkan aliran listrik ke Dusun kami. Padahal kami telah berulang kali bermohon kepada pemerintah Kabupaten Asahan, namun yang kami dapatkan hanya janji tinggal janji" ujarnya kepada awak media, Kamis (11/6/2026)

Nazar juga menyebutkan bahwa Dusun nya ibaratkan kampung terisolir karena tidak pernah menikmati hasil pembangunan baik itu infrastruktur jalan yang telah rusak parah dimana jika musim hujan maka jalan di Dusunnya sudah seperti kubangan kerbau dan bila musim kemarau maka jalannya berdebu.

"Ya Seperi ini lah kondisi dusun kami bang, bila malam gelap, hanya lampu sentir la yang menerangi malam kami selain itu infrastruktur jalan kami bila musim hujan jalanan becek seperti kubangan kerbau, jika musim kemarau, jalannya berdebu" ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Nurdin Nasution (70) warga Dusun VIII yang sangat merindukan adanya pembangunan infrastruktur dan pembangunan tiang listrik untuk penerangan di Dusun tempat tinggalnya.

"Kondisinya ya Seperi ini bang, jika malam gelap gulita, selain itu jalan di Dusun kami sudah tidak layak disebut jalan karena kondisinya sudah rusak parah dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Jujur bang sebagai warga sini kami telah berangan-angan bisa segera menikmati fasilitas seperti listrik dan jalan dan hendaknya angan angan itu dapat terwujud belum akhir hayat saya". Ujarnya sambil menitikkan air mata

Ia juga menyebutkan dengan melihat kondisi seperti ini dapat dikatakan kampungnya seperti kampung mati dan kampung hantu.

"Bayangkan bang, karena kondisi seperti ini sudah banyak warga yang meninggalkan rumah karena tidak tahan hidup  tanpa listrik mengingat anak- anak  yang harus belajar dan bersekolah harus rela gelap-gelapan untuk mengerjakan tugas sekolah dirumah. Padahal Dusun ini dihuni sekitar 120 orang. Sementara jarak jaringan tiang listrik terakhir ke Dusun kami hanya berjarak sekitar 3 Km dan Dusun kami ini hanya berjarak beberapa kilo meter dari pusat Kecamatan". Jelasnya.

Ia juga menyebutkan warga di Dusun VII ini sebagian berpenghasilan dari hasil perkebunan.

"Masyarakat sini berpenghasilan dari perkebunan yang juga ikut menyumbangkan pajak ke pemerintah, namun sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah. Abang bisa lihat sendiri rumah rumah disini sebagian besar dibangun di atas lahan masing-masing warga dengan berdinding kayu papan dan berlantaikan tanah. Yang jelas kami mohon kiranya pemerintah Kecamatan dapat menyampaikan aspirasi kami ke Pemkab  Asahan agar kampung ini tidak menjadi kampung terisolir dan juga jangan dijadikan anak tiri pembangunan" ujarnya menunduk sedih. (FM)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama