MenaraToday.Com - Pandeglang :
Sebanyak tiga ruang kelas SDN Padahayu 2 di Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengalami kerusakan berat dan hingga kini belum juga direhabilitasi. Kerusakan yang telah berlangsung sekitar enam tahun itu mengganggu proses belajar mengajar, terutama saat musim hujan.
Bangunan sekolah yang telah berusia tua mengalami kerusakan pada bagian atap dan dinding. Ketika hujan turun, air masuk ke dalam ruang kelas sehingga siswa terpaksa dipindahkan ke ruangan lain yang masih layak digunakan.
Kepala SDN Padahayu 2, Tedi Rustandi, mengatakan kondisi tersebut membuat kegiatan belajar mengajar tidak berjalan maksimal. Bahkan, pihak sekolah harus mengubah fungsi ruang guru menjadi ruang belajar bagi siswa kelas VI.
"Jelas pasti mengganggu, apalagi kalau saat musim hujan. Atapnya bocor dan mau tidak mau siswa harus dipindahkan ke ruang kelas lain yang kondisinya masih layak," ujar Tedi.
Menurut Tedi, pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan usulan rehabilitasi kepada Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Namun hingga saat ini belum ada realisasi pembangunan.
"Katanya SDN Padahayu 2 ini sudah masuk di daftar revitalisasi, cuma mungkin masih menunggu antrean atau bagaimana, saya juga kurang tahu," katanya.
Meski harus belajar di tengah keterbatasan fasilitas, para siswa tetap mengikuti kegiatan belajar setiap hari. Pihak sekolah berharap rehabilitasi SDN Padahayu 2 Pandeglang segera direalisasikan agar siswa dapat belajar dengan aman dan nyaman.
"Harapannya saya mohon agar segera dibangun saja, agar kita mendapat ruang kelas yang lebih baik. Supaya anak-anak juga belajarnya bisa nyaman dan aman," harapnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang, Dr. H. Sutoto, S.Pd., M.Si, membenarkan adanya kerusakan pada bangunan SDN Padahayu 2. Berdasarkan hasil peninjauan, terdapat tiga ruang kelas yang mengalami keretakan pada bagian dinding.
"Direvitalisasi sudah kami cek dan sudah mengunjungi ke SDN 2 Padahayu. Memang yang diberitakan selama ini benar, gedung itu ada tiga yang retak. Sudah kita usulkan direvitalisasi di awal," katanya, Kamis (23/7/2026).
Ia menjelaskan, program revitalisasi sekolah saat ini memprioritaskan sekolah dengan jumlah peserta didik minimal 100 siswa. Sementara jumlah siswa di SDN Padahayu 2 saat ini kurang dari 57 orang sehingga belum masuk skala prioritas.
"Program revitalisasi itu memprioritaskan, salah satu persyaratannya jumlah murid minimal 100. Tapi bukan berarti tidak direalisasikan, nanti prosesnya sambil berjalan. Mungkin diprioritaskan murid yang 100 dulu," ujarnya.
Selain jumlah siswa yang sedikit, lokasi sekolah yang berada jauh dari permukiman juga menjadi salah satu tantangan dalam penanganan.
"Sekolahnya memang di ujung, jauh dari permukiman, jumlah muridnya sedikit sehingga kurang terpantau. Bukan tidak dilakukan pembenahan. Tapi dari dana BOS juga tidak memungkinkan karena jumlah peserta didiknya sedikit," jelasnya.
Disdikpora Siapkan Alternatif Pendanaan. Apabila belum masuk prioritas revitalisasi, Disdikpora Pandeglang akan mengupayakan perbaikan melalui program Specific Grant (SG), terutama untuk penanganan kerusakan yang bersifat mendesak.
"Kita coba dorong ke SG. Di SG itu didorong untuk rehabilitasi minimal. Yang berat itu pembangunan TPT di belakang ruang kelas. Di anggaran perubahan coba kita petakan untuk ditangani di luar revitalisasi," ucapnya.
Menurutnya, kebutuhan anggaran rehabilitasi satu ruang kelas dengan tingkat kerusakan sedang diperkirakan mencapai Rp. 130 juta hingga Rp. 140 juta.
Sementara itu, Kepala Bidang Sekolah Dasar (Kabid SD) Disdikpora Kabupaten Pandeglang, Rifa'i, S.IP., M.Si., menambahkan, hasil peninjauan menunjukkan kondisi sekolah lebih memprihatinkan dari yang terlihat.
"Kami sudah melihat lokasi sekolah tersebut. Ada empat ruang kelas dan satu toilet yang kondisi bangunannya mengalami tingkat kerusakan di atas 50 persen. Sekolah tersebut sudah kami usulkan dalam program revitalisasi, namun kami belum bisa menyampaikan kapan hal itu akan mulai dilakukan. Mudah-mudahan tahun ini," tandasnya. (ILA)
