Raih Putri Budaya Banten Persahabatan 2026, Wawah Sri Sunenti Bawa Semangat Pendidikan dan Pengabdian dari Tangerang

Prestasi Putra Putri Budaya Banten 2026, pendidikan, pengabdian, perjalanan digital, dan bisnis lokal dari Tangerang.

Wawah Sri Sunenti dalam rangkaian Putra Putri Budaya Banten 2026.
Wawah Sri Sunenti dalam rangkaian Putra Putri Budaya Banten 2026.

Angle utama: pencapaian Putri Budaya Banten Persahabatan 2026 sebagai pintu masuk cerita perjalanan pendidikan, pengabdian, digital, dan bisnis lokal.

Raih Putri Budaya Banten Persahabatan 2026, Wawah Sri Sunenti Bawa Semangat Pendidikan dan Pengabdian dari Tangerang

MenaraToday.Com - Tangerang : Wawah Sri Sunenti meraih gelar Putri Budaya Banten Persahabatan 2026 dalam rangkaian ajang Putra Putri Budaya Banten 2026. Bagi perempuan muda asal Tangerang itu, penghargaan tersebut bukan sekadar selempang, melainkan ruang baru untuk mengenal lebih dalam budaya Banten sekaligus membawa nilai persahabatan, pendidikan, dan pengabdian dalam perjalanan yang ia jalani.

Wawah mengikuti ajang tersebut karena ingin lebih dekat dengan budaya daerah tempat ia lahir dan bertumbuh. Selama menjadi finalis, ia menjalani proses pengembangan diri, pembekalan, dan interaksi dengan peserta dari berbagai daerah di Banten. Pengalaman itu kemudian membawanya memperoleh gelar persahabatan.

"Saya masuk Putra Putri Budaya Banten karena ingin mengenal budaya di tempat saya lahir dengan lebih serius. Setelah menjalani prosesnya, saya merasa budaya bukan hanya sesuatu yang ditampilkan di panggung. Ada nilai tentang cara kita menghargai orang lain, menjaga hubungan, dan memahami identitas daerah kita sendiri," ujar Wawah.

Menurutnya, gelar persahabatan memiliki arti khusus karena lahir dari proses membangun komunikasi dan hubungan dengan sesama finalis. Ia ingin menjadikan penghargaan itu sebagai dorongan untuk terus belajar tentang Banten dan ikut memperkenalkan nilai budayanya kepada generasi muda melalui cara yang relevan dengan kehidupan saat ini.

Perjalanan Panjang Sebelum Berdiri di Panggung Budaya

Di balik pencapaiannya pada 2026, perjalanan Wawah tidak dimulai dari kondisi yang mudah. Setelah lulus SMA, ia sempat menjalani gap year selama satu tahun setelah belum berhasil masuk Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi negeri.

Pada saat yang sama, kondisi ekonomi keluarga membuat pilihan untuk melanjutkan kuliah dengan biaya mandiri menjadi sangat terbatas. Karena itu, pada 2021 Wawah kembali mengikuti berbagai seleksi pendidikan, mulai dari perguruan tinggi negeri, seleksi pendidikan perawat Kementerian Kesehatan, hingga lebih dari lima seleksi perguruan tinggi swasta melalui skema Kartu Indonesia Pintar Kuliah atau KIP Kuliah.

Kesempatan akhirnya datang ketika ia diterima sebagai penerima KIP Kuliah di Politeknik LP3I Kampus Utama Bandung pada Program Studi D3 Manajemen Informatika. Melalui program tersebut, biaya kuliahnya ditanggung pemerintah dan ia menerima bantuan biaya hidup selama menempuh pendidikan sampai lulus pada 2024.

"Tanpa KIP Kuliah, pada kondisi saya saat itu akan sangat sulit untuk melanjutkan pendidikan. Jadi ketika kesempatan itu datang, saya merasa harus benar-benar memanfaatkannya dan tidak berhenti hanya karena sebelumnya pernah gagal," katanya.

Kuliah, Organisasi, dan Pengabdian di PMI Kabupaten Tangerang

Selama menjalani pendidikan di Bandung, Wawah juga aktif dalam berbagai organisasi kampus, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa, himpunan mahasiswa, hingga kegiatan kerohanian Islam.

Pada akhir 2021, ia mengambil langkah lain dengan mengikuti seleksi Korps Sukarela Palang Merah
Indonesia Kabupaten Tangerang. Ia dinyatakan lolos, kemudian mengikuti pelantikan yang saat itu
dipimpin oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang. Aktivitas sebagai relawan tersebut masih
dijalaninya hingga kini.

Bagi Wawah, pengalaman menjadi relawan memperluas makna pendidikan. Ia tidak hanya belajar dari kelas dan organisasi kampus, tetapi juga dari aktivitas sosial yang menuntut kepedulian, disiplin, dan kemampuan bekerja bersama orang lain.

"Di PMI saya belajar bahwa kemampuan yang kita punya seharusnya tidak hanya berhenti untuk diri sendiri. Ada nilai pengabdian dan tanggung jawab sosial yang membuat saya melihat pendidikan dengan cara yang berbeda," ungkapnya.

Menjalani Double Degree di Tengah Keterbatasan

Pada 2022, ketika masih menempuh D3 Manajemen Informatika, Wawah memutuskan mengikuti program double degree di Universitas STEKOM dan STIE STEKOM Kartasura pada bidang Manajemen dan Bisnis. 

Sebagian uang saku KIP Kuliah yang diterimanya digunakan untuk membiayai pendidikan tambahan tersebut. Keputusan itu membuat ruang finansialnya semakin sempit, sementara biaya hidup di Bandung tetap harus dipenuhi. Ia harus membagi kebutuhan makan, tempat tinggal, aktivitas perkuliahan, organisasi, dan biaya pendidikan tambahan secara bersamaan.

Kesulitan tersebut terus dijalani sampai memasuki tahun terakhir pendidikan D3 pada 2024. Namun, Wawah memilih mempertahankan keduanya karena menilai kesempatan memperoleh ilmu di bidang teknologi dan bisnis akan menjadi bekal penting untuk masa depannya.

Belajar Mandarin, Bekerja Sebelum Sidang, dan Masuk Dunia Digital

Memasuki awal 2024, ketika banyak mahasiswa tingkat akhir mulai memusatkan perhatian pada tugas akhir, Wawah pergi ke Papar, Jawa Timur, selama sekitar dua bulan untuk belajar bahasa Mandarin. Tujuannya adalah menambah kemampuan agar dapat bekerja sebelum lulus.

Ia bahkan sempat berencana menjalani sidang tugas akhir menggunakan bahasa Mandarin. Karena rencana tersebut tidak dapat diterapkan, Wawah kemudian memilih mempersiapkan sidangnya menggunakan bahasa Inggris.

Pada periode yang sama, bantuan biaya hidup terakhir yang diterimanya telah dialokasikan untuk pendidikan lain. Sementara biaya sidang dan wisuda masih harus dipenuhi. Kondisi itu membuatnya menetapkan target untuk memperoleh pekerjaan sebelum sidang.

Setelah melalui proses melamar kerja, Wawah diterima bekerja di DCLIQ, sebuah agensi digital yang beroperasi di kawasan BSD dan Gading Serpong, bahkan sebelum proses sidang dan wisudanya selesai. Ia menjalani sidang tugas akhir pada Oktober 2024 dan wisuda pada Desember 2024 sambil tetap bekerja. Pendidikan D3 Manajemen Informatika tersebut diselesaikannya dengan IPK 3,75.

Pengalaman kerja dan perkembangan kompetensi profesionalnya juga terdokumentasi melalui profil LinkedIn Wawah Sri Sunenti, yang memuat perjalanan kariernya di ranah digital.

Pengalaman Digital Melahirkan Ruang Belajar Bisnis melalui Shoekoerin.id

Dunia kerja kemudian mempertemukan Wawah dengan berbagai keterampilan baru, termasuk digital marketing, pengelolaan website, search engine optimization atau SEO, serta pengembangan brand.

Dari proses tersebut, ia mengembangkan Shoekoerin.id, brand jasa perawatan dan cuci sepatu yang berbasis di Tangerang. Shoekoerin.id diarahkan sebagai layanan perawatan sepatu bagi masyarakat Tangerang Raya dengan pendekatan yang praktis, termasuk layanan penjemputan dan pengantaran.

Bagi Wawah, Shoekoerin.id bukan ditempatkan sebagai daftar pencapaian bisnis, melainkan sebagai ruang untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh dari teknologi, pemasaran digital, dan studi bisnis. Ia belajar mengelola komunikasi dengan pelanggan, menyusun informasi layanan, membangun kehadiran digital, dan memahami kebutuhan masyarakat lokal.

"Saya banyak belajar dari dunia digital dan mencoba menerapkannya secara langsung ketika membangun Shoekoerin.id. Bagi saya, usaha ini adalah proses belajar tentang pelayanan, komunikasi, dan bagaimana sebuah brand tumbuh dengan memahami kebutuhan orang yang dilayaninya," jelas Wawah.

Membawa Pengalaman Digital ke Ruang Budaya

Pengalaman di bidang digital tersebut juga menjadi salah satu hal yang ingin dibawanya setelah meraih gelar Putri Budaya Banten Persahabatan 2026. Wawah menilai bahwa generasi muda saat ini sangat dekat dengan internet, sehingga pengenalan budaya dapat dikemas melalui medium yang lebih akrab seperti website, media sosial, dan konten digital.

Ia tidak melihat teknologi dan budaya sebagai dua dunia yang bertentangan. Sebaliknya, kemampuan digital dapat menjadi salah satu alat untuk membantu cerita, nilai, dan kekayaan budaya Banten menjangkau audiens yang lebih luas. Aktivitas budaya dan proses pengembangan dirinya juga kerap ia bagikan melalui Instagram @hi.wawah.

"Kalau saya punya kemampuan di bidang digital, saya ingin kemampuan itu juga bisa berguna untuk budaya. Tidak selalu harus lewat sesuatu yang besar. Menceritakan budaya Banten dengan cara yang lebih dekat dengan anak muda juga bisa menjadi langkah awal," ujarnya.

2026 Menjadi Tahun Penting untuk Budaya dan Pendidikan

Tahun 2026 juga menjadi periode penting dalam perjalanan akademik Wawah. Setelah menyelesaikan D3 Manajemen Informatika, ia sedang menjalani tahapan akhir program double degree pada bidang Manajemen dan Bisnis.

Wawah mencatatkan IPK 3,87 pada pendidikan lanjutannya. Ia juga menyampaikan telah menulis empat artikel ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal terindeks Sinta 4 dan Sinta 5. Saat ini ia tengah mempersiapkan proses sidang dan wisuda untuk menyelesaikan studi tersebut.

Meski demikian, ia tidak ingin gelar akademik maupun penghargaan budaya hanya menjadi deretan pencapaian. Menurutnya, hal yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara seseorang bersikap dan memberi manfaat kepada lingkungan.

Dari kegagalan masuk perguruan tinggi yang diinginkan, menjalani gap year, bergantung pada kesempatan KIP Kuliah, membagi biaya hidup untuk pendidikan, bekerja sebelum wisuda, menjadi relawan PMI, mengembangkan usaha, hingga akhirnya meraih Putri Budaya Banten Persahabatan 2026, Wawah menilai setiap tahap memiliki pelajaran yang berbeda.

"Saya pernah gagal, pernah berada di kondisi tidak mampu kuliah tanpa bantuan, dan pernah tidak tahu bagaimana membiayai proses kelulusan. Jadi saya ingin pencapaian ini menjadi pengingat bahwa kita tidak harus berhenti ketika satu jalan tertutup. Kita masih bisa mencari jalan lain sambil terus belajar," katanya.

Kini, gelar Putri Budaya Banten Persahabatan 2026 menjadi ruang baru bagi Wawah untuk melanjutkan proses tersebut. Ia berharap dapat terus belajar mengenai budaya Banten, membangun relasi dengan generasi muda lainnya, serta menggunakan pengalaman di bidang pendidikan, digital, bisnis, dan pengabdian untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

"Saya masih harus banyak belajar tentang Banten. Tetapi saya ingin memulai dari hal yang saya bisa: mengenal, menjaga, dan ikut memperkenalkannya. Saya berharap semakin banyak anak muda Banten yang merasa dekat dan bangga dengan budayanya sendiri," pungkas Wawah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama