MenaraToday.Com - Blitar :
Alon - Alun Lodoyo , Kecamatan Sutojayan , Kabupaten Blitar , menjadi saksi ribuan warga yang memadati area tempat siraman Gong Kiyai Pradah .
Mereka berkumpul untuk menyaksikan tradisi siraman pusaka Gong Kiyai Pradah , yang diadakan setiap tahun seiring dengan peringatan Maulud .
Siraman Gong Kiyai Pradah dimulai dengan kirab , yang mengeluarkan Gong dari temat penyimpanan menuju pendopo .
Setelah itu , Gong akan dibawa menuju ke bangunan panggung mirip dengan menara . Disitu Gong Kiyai Pradah dimandikan dengan air kembang , setelah bersih ditutup kembali dengan kain putih .
Air bekas siraman Gong Kiyai Pradah itu dibagikan ke para warga yang menunggu sejak pagi . Dua mobil damkar dikerahkan untuk menyirami warga dengan air bekas siraman tersebut , sejumlah warga ada yang membawa botol untuk menampung air tersebut .
Setelah selesai Gong Kiyai Pradah kembali dikirab ke tempat penyimpanan . Tak lama , pembacaan doa dan pemotongan tumpeng dilakukan sebagai penutup acara siraman Gong Kiyai Pradah .
Usai berdoa bersama , warga langsung menyerbu tumpeng yang ada dipendopo . Terlihat beberapa warga saling dorong mendorong untuk mendapat tumpeng dan gunungan berupa lauk pauk .
Warga masyarakat Desa Sumber Agung Kecamatan Panggung rejo , sengaja berangkat pagi keluarga nya . Ya...mau lihat acara siraman Gong Kiyai Pradah , setiap tahun kesini ," kata Ninin ( 42 ) salah seorang warga , Kamis ( 27/8/2026 ).
Ninin mengatakan datang untuk ingin mendapatkan berkah siraman Gong Kiyai Pradah itu .
Dia pun turut berebut mendapat kan tumpeng dan air bekas siraman Gong Kiyai Pradah .
"Ngalap berkah , biar dapat berkah dari siraman Gong Kiyai Pradah ini . Dari dulu ya seperti ini, Allhamdulillah dapat air sedikit. Sebenarnya ritual siraman Gong Kiyai Pradah ini sekali dua kali , pada Syawal dan Mauludan . Tetapi yang paling besar dan terbuka untuk umum adalah saat ini . Kemudian ini menjadi event budaya terbesar kita," terang nya dilokasi .
Warga menyebut kan bahwa Gong Kiyai Pradah merupakan simbul sejarah dari perjalanan Pangeran Prabu dari Mataram . Kemudian menjadi warisan para leluhur hingga saat ini . (Nanik)
