MenaraToday.Com - Pandeglang :
Sampah Pasar Baru Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, menumpuk selama sekitar lima bulan. Kondisi tersebut dikeluhkan warga Kampung Cigondang Masjid, Desa Cigondang, karena menimbulkan bau menyengat dan membuat sampah berserakan hingga ke lingkungan permukiman.
Warga menyebut penumpukan sampah terjadi karena volume sampah yang dihasilkan dari aktivitas pasar lebih besar dibandingkan kapasitas pengangkutan yang tersedia.
Salah satu warga Kampung Cigondang Masjid, Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Uun Unayah, mengatakan pengangkutan sampah sebenarnya dilakukan setiap hari. Namun, armada yang tersedia dinilai belum mampu mengangkut seluruh sampah yang dihasilkan.
“Kondisi ini sudah sejak 5 bulan lalu, diangkut tiap hari, tapi volume sampah lebih banyak dari aktivitas pengangkutan. Sampai menggunung,” ujar Uun, Minggu (20/9/2026).
Menurut Uun, persoalan sampah di Pasar Baru Labuan tidak hanya berupa tumpukan. Sampah juga mudah terbawa angin dan berpindah ke sejumlah lokasi. Saat angin bertiup pada siang hari, sampah disebut dapat masuk ke selokan hingga ke depan rumah warga.
“Ada yang ke Cikolomberan (selokan), ada yang ke depan rumah. Jadi kalau pagar dibuka, sudah dipastikan sampah masuk, karena lokasi sampahnya dekat dengan rumah warga,” ungkapnya.
Uun mengatakan, sampah yang menumpuk didominasi sampah dari aktivitas pasar. Kondisi tersebut, menurut dia, membutuhkan penanganan lebih serius agar tidak terus mengganggu kebersihan lingkungan.
Ia juga menyebut pengangkutan sampah terkadang hanya dilakukan satu kali dalam sehari. Dalam kondisi tertentu, dua kendaraan pengangkut dapat segera penuh karena harus mengambil sampah dari berbagai lokasi.
“Kadang dua mobil, setengahnya sudah penuh mobilnya, sampah dari mana-mana,” ujarnya.
Uun menjelaskan, satu kendaraan pengangkut harus melayani wilayah yang cukup luas, bahkan mencakup beberapa kecamatan. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu kendala dalam mengimbangi volume sampah yang terus dihasilkan.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan instansi terkait melakukan evaluasi terhadap sistem pengangkutan sampah di Kecamatan Labuan, termasuk jumlah armada dan frekuensi pengangkutan.
Penambahan frekuensi pengangkutan dinilai dapat mengurangi potensi sampah menumpuk terlalu lama di sekitar pasar dan permukiman.
“Pengen enggak ada pembuangan sampah di situ lagi,” harap Uun.
Menanggapi keluhan warga, Koordinator Sampah Kecamatan Labuan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pandeglang, Aminudin, membenarkan bahwa pengangkutan sampah terus dilakukan.
Namun, ia mengakui volume sampah yang dihasilkan masyarakat lebih besar dibandingkan kapasitas pengangkutan yang tersedia.
“Sebetulnya untuk pengangkutan selalu kami lakukan, tetapi karena volume sampah yang dihasilkan dari masyarakat lebih banyak daripada yang kita angkut, sehingga sampah selalu ada sisa,” jelas Aminudin.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab masih terdapat sampah yang tersisa di sejumlah lokasi di Kecamatan Labuan.
Aminudin mengatakan, pengangkutan tetap dilakukan untuk mengurangi penumpukan sampah yang berasal dari aktivitas masyarakat.
“Persoalan volume sampah yang lebih besar dibandingkan kapasitas pengangkutan menjadi tantangan dalam menjaga kebersihan wilayah Kecamatan Labuan. Penanganan sampah di wilayah ini juga membutuhkan pengangkutan yang optimal serta peran masyarakat dalam mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” tandasnya.
Sementara itu, pihak PT Sinar Labuan Sejahtera (SLS) selaku pengelola Pasar Baru Labuan ketika dikonfirmasi lewat pesan singkat tidak memberikan penjelasan apapun padahal kondisi pesan sudah terbaca.
Warga berharap persoalan sampah Pasar Baru Labuan segera mendapat perhatian dari pemerintah daerah dan pihak terkait. Selain penambahan kapasitas pengangkutan, warga juga berharap tidak ada lagi penumpukan sampah yang berdekatan dengan permukiman. (Ila)
