MenaraToday.Com - Pandeglang :
Pengambilan bantuan sosial (bansos) pangan di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, tampak lengang pada Sabtu (5/9/2026). Kondisi ini berbeda dibandingkan penyaluran bansos sebelumnya yang biasanya dipadati warga. Kali ini, sebagian warga memilih mengungsi di tengah kekhawatiran menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Staf Desa Teluk, Dede Nahri Jueni, mengatakan suasana sepi terjadi karena sebagian warga meninggalkan rumah untuk mengungsi ke sejumlah lokasi yang dianggap lebih aman.
"Betul, biasanya setiap pencairan bantuan terjadi penumpukan massa di halaman kantor desa. Kali ini tampak lengang karena adanya erupsi Gunung Anak Krakatau sehingga menimbulkan kekhawatiran warga akan terjadi hal-hal yang membahayakan," kata Dede.
Menurut Dede, warga ada yang mengungsi ke dataran tinggi, hunian tetap (huntap), hingga rumah sanak saudara.
"Ada yang mengungsi ke dataran tinggi, ke huntap dan sanak saudara. Keluarga saya juga sama, sudah pada mengungsi," ujarnya.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau pada Sabtu juga dilaporkan dirasakan warga di Kecamatan Labuan dan sekitarnya. Sejumlah warga mengaku merasakan getaran pada rumah sejak dini hari.
Dede menyebutkan terdapat 1.916 keluarga penerima manfaat (KPM) yang terdata sebagai penerima bantuan pangan di Desa Teluk.
Jumlah tersebut bertambah sekitar 100 KPM dibandingkan data sebelumnya.
"Sekarang jumlahnya 1.916 KPM. Ada penambahan sekitar 100 penerima," kata Dede saat ditemui di lokasi penyaluran bantuan.
Ia menjelaskan, perubahan jumlah penerima terjadi setelah dilakukan pemutakhiran data secara berkala.
Dalam pembaruan tersebut, terdapat penerima baru dan beberapa penerima sebelumnya yang digantikan berdasarkan hasil pemutakhiran data.
"Biasanya setiap tiga bulan ada pembaruan. Jadi ada yang baru dan ada juga yang diganti," tuturnya.
Dengan jumlah penerima yang mencapai ribuan, proses pengambilan bansos pangan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu hari.
Terlebih, kondisi sebagian warga yang mengungsi membuat proses penyaluran harus menyesuaikan keadaan di lapangan.
Dede mengatakan, pihak desa tetap berupaya menyelesaikan penyaluran secepat mungkin.
"Kalau kami ingin secepatnya. Tapi dengan kondisi seperti ini, dua sampai tiga hari juga bisa karena penerimanya cukup banyak," katanya.
Jika sebelumnya warga menerima 20 kilogram beras ditambah empat liter minyak goreng, kali ini bantuan berupa beras dengan jumlah lebih banyak, namun tanpa minyak goreng.
Pihak desa sebelumnya juga sempat mempertimbangkan pembagian jadwal pengambilan berdasarkan kampung untuk menghindari antrean dan kepadatan. Namun, pola tersebut pernah dicoba dan warga tetap datang hampir bersamaan.
"Pernah dicoba dibagi per kampung berdasarkan jam, tapi tetap saja datangnya bareng-bareng," ujar Dede.
Dalam proses pengambilan bansos pangan, warga membawa barcode atau surat undangan.
Dokumen tersebut kemudian dikumpulkan oleh pihak desa. Petugas desa bersama RT membantu melakukan pendataan dan daftar hadir sebelum data penerima diunggah ke aplikasi.
Meski suasana penyaluran relatif sepi, pemerintah desa tetap memastikan proses pendataan penerima bantuan berjalan.
Di tengah kekhawatiran warga terkait erupsi Gunung Anak Krakatau, pemerintah Desa Teluk mengimbau masyarakat tidak mudah panik terhadap informasi yang beredar di media sosial.
Dede meminta masyarakat memastikan informasi mengenai aktivitas gunung api diperoleh dari sumber resmi.
"Kalau ada informasi terbaru, cari yang akurat, misalnya dari BNPB atau kecamatan. Jangan langsung percaya informasi yang beredar di media sosial kalau belum jelas sumbernya," katanya.
Perlu diketahui, pada Sabtu (5/9/2026), aktivitas Gunung Anak Krakatau memang meningkat. Laporan pemantauan menyebut adanya erupsi disertai suara gemuruh dan dentuman, sementara getaran aktivitas gunung dirasakan masyarakat di Kecamatan Labuan.
Meski sejumlah warga memilih mengungsi, sebagian lainnya tetap berada di rumah.
Salah seorang warga Desa Teluk, Junaenti, mengatakan dirinya memilih tidak mengungsi meski saudara dan tetangganya banyak yang meninggalkan rumah.
"Saudara, tetangga juga banyak yang mengungsi. Tapi saya enggak, di rumah saja karena itu sudah sering terjadi, jadi enggak terlalu panik juga," ujar Junaenti.
Kondisi tersebut membuat pengambilan bansos pangan di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang, berlangsung lebih lengang dibandingkan penyaluran bantuan dalam kondisi normal.
Di tengah proses penyaluran bansos, warga juga diminta tetap mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui informasi resmi dari pemerintah dan instansi berwenang. (ILA)
