Rombongan Manasik TK Alami Lakalantas Di Saketi, GPIB Pandeglang Desak Disdikpora Evaluasi Kegiatan

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Kecelakaan Lalulintas yang terjadi kepada rombongan manasik haji TK Nurul Bahari di Jalan Raya Ciandur–Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten, Rabu (21/10/2026), memunculkan sorotan terhadap urgensi, biaya, dan keselamatan kegiatan manasik haji bagi anak usia dini. Gerakan Pendidikan Indonesia Baru (GPIB) Kabupaten Pandeglang mendesak Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga (Disdikpora) Pandeglang mengevaluasi kegiatan.

Ketua GPIB, Eka Supriatna, meminta kegiatan manasik haji untuk anak taman kanak-kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dievaluasi. Menurutnya, pelaksanaan kegiatan tersebut perlu mempertimbangkan risiko perjalanan, manfaat pendidikan, serta kemampuan ekonomi orang tua.

“Kegiatan manasik haji TK/PAUD memang harus dievaluasi. Pertama, ancaman risikonya cukup besar, urgensinya juga tidak terlalu mengemuka. Mereka secara materiil harus banyak berkorban,” kata Eka. Kamis (22/10/2026)

Ia menilai, biaya kegiatan manasik haji yang mencakup tiket perjalanan dan seragam dapat menjadi beban bagi sebagian keluarga, terutama orang tua dengan kondisi ekonomi terbatas.

“Beli tiket, seragam, biasanya satu paket anaknya ikut ibunya. Itu juga lumayan secara materiil. Mungkin saja mereka memaksakan, bahkan pinjam sana-sini untuk melaksanakan program itu,” ujarnya.

Eka pun mengimbau Dinas Pendidikan Kabupaten Pandeglang mengevaluasi pelaksanaan kegiatan manasik haji bagi anak usia dini agar sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dan tahap perkembangan peserta didik.

“Kalau untuk SLTA, mungkin mereka lebih mendekati untuk melaksanakan umrah. Kalau usia dini, kan masih jauh ke masa balig. Makanya, saya mengimbau kepada teman-teman Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi kegiatan ini,” tandasnya.

Sorotan terhadap kegiatan manasik haji TK di Pandeglang juga disampaikan salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Ia berpandangan bahwa pendidikan agama bagi anak usia dini sebaiknya tidak hanya berfokus pada simulasi ibadah haji, tetapi juga menekankan pembiasaan ibadah sehari-hari dan pembentukan karakter.

“Orang tua juga wajib mengaji secara rutin di majelis ilmu di kampung masing-masing. Jangan hanya berfokus pada kegiatan manasik haji untuk anak TK atau PAUD yang membutuhkan biaya,” ujarnya. 

Menurutnya, kegiatan manasik haji dapat menjadi sarana pengenalan ibadah kepada anak-anak. Namun, pihak sekolah perlu menjelaskan tujuan kegiatan, rincian biaya, serta mekanisme keikutsertaan agar orang tua memahami manfaatnya.

Ia juga mempertanyakan kemungkinan beban biaya bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, terutama jika orang tua merasa harus mengikutsertakan anak karena kegiatan tersebut menjadi bagian dari program sekolah.

“Bagi orang tua yang mampu, mungkin tidak menjadi masalah. Tetapi, bagaimana dengan orang tua yang ekonominya terbatas dan merasa harus mengikutsertakan anaknya karena kegiatan itu menjadi bagian dari program sekolah?” katanya.

Warga tersebut menegaskan bahwa kritik terhadap kegiatan manasik haji bukan berarti menolak pendidikan agama sejak dini. Menurutnya, pembelajaran keagamaan perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Ia menilai, pembiasaan menjaga kebersihan, menaati aturan, menghormati guru, belajar mandiri, serta tidak menyakiti teman merupakan bagian penting dari pendidikan karakter.

“Anak TK lebih membutuhkan pembelajaran tentang kedisiplinan dan cara bersosialisasi yang baik. Mereka perlu belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pendidikan karakter yang diterapkan secara konsisten dapat membantu anak membangun kebiasaan positif di rumah, sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Kecelakaan rombongan manasik haji TK Nurul Bahari di Kecamatan Saketi pada Rabu (21/10/2026), turut menyoroti pentingnya keselamatan peserta didik dalam kegiatan di luar sekolah.

Persiapan kegiatan yang melibatkan anak usia dini perlu memperhatikan kelayakan kendaraan, kesiapan pengemudi, kapasitas angkutan, pengawasan peserta, serta koordinasi antara pihak sekolah, penyelenggara, dan orang tua.

Peristiwa tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pihak terkait untuk memastikan kegiatan pendidikan di luar sekolah memiliki tujuan yang jelas dan dilaksanakan dengan prosedur keselamatan yang memadai.

Warga berharap pendidikan agama tetap menjadi bagian penting dalam pembelajaran anak usia dini, tetapi harus diimbangi dengan pembentukan karakter dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.

“Sebelum mengajarkan anak menjadi tamu Allah di Tanah Suci, kita juga perlu mengajarkan mereka bagaimana menjadi manusia yang baik di sekolah dan di lingkungan masyarakat,” tuturnya.

Evaluasi kegiatan manasik haji TK dan PAUD di Pandeglang diharapkan mencakup manfaat pendidikan, transparansi pembiayaan, dan standar keselamatan perjalanan. 

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Nonformal (Kabid Bidpem Paud dan PNF) Dinas Pendidikan Pemuda Dan olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pandeglang ketika dikonfirmasi lewat pesan singkat WhatsApp hingga berita ini ditayangkan belum memberikan keterangan apapun. (Ila) 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama