MenaraToday.Com - Pandeglang :
Suasana belajar di SDN 5 Caringin kini terasa berbeda. Di salah satu ruang kelas yang bersih dan rapi, anak-anak kelas 4 terlihat antusias menatap layar besar di depan kelas. Bukan sekadar televisi biasa, layar itu adalah smart TV Hisense commercial display berukuran 75 inci (189 cm) yang mulai digunakan sejak awal Oktober 2025.
Kepala Sekolah SDN 5 Caringin, Yayah Nurfiah, S.Pd.I, mengatakan bahwa kehadiran perangkat ini menjadi langkah penting dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah yang memiliki enam ruang kelas dengan total 81 siswa itu.
“Anak-anak jadi lebih semangat belajar. Mereka senang bisa melihat video pembelajaran, gambar, dan animasi langsung dari layar besar. Guru juga lebih mudah menjelaskan materi,” ujar Yayah kepada menaratoday.com. Selasa (11/11/2025).
Dengan jumlah siswa kurang dari 20 orang di setiap kelas, suasana belajar di SDN 5 Caringin memang terasa lebih personal. Kini, dengan tambahan fasilitas teknologi, guru dapat menggabungkan metode konvensional dengan pendekatan digital interaktif.
“Kami gunakan untuk pelajaran kelas 4 sampai 6. Misalnya, untuk pelajaran IPA, anak-anak bisa langsung melihat tayangan eksperimen atau dokumenter singkat. Jadi, mereka tidak hanya membayangkan, tapi melihat langsung,” tambah Yayah.
Kehadiran smart TV di sekolah-sekolah dasar seperti SDN 5 Caringin dan SDN 1 Janaka menjadi bukti nyata bahwa inovasi pendidikan tidak hanya milik sekolah perkotaan. Dengan perangkat yang terhubung ke internet, guru dapat mengakses bahan ajar digital, video pembelajaran, dan sumber edukatif lain yang memperkaya pengalaman belajar siswa.
“Harapannya, teknologi ini bisa membuat anak-anak lebih terbuka terhadap dunia luar, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai lokal dan karakter yang kuat,” tutur Yayah Nurfiah.
Sementara itu, di sekolah lainnya, yakni SDN 1 Janaka juga mulai memanfaatkan teknologi serupa. Menurut Harun, salah satu guru di sekolah tersebut, smart TV mulai digunakan pertengahan Oktober 2025 untuk mendukung pembelajaran di seluruh kelas, dari kelas 1 hingga 6.
“Siswa sangat antusias, karena lebih praktis dan menarik. Kami bisa memutar video, menampilkan soal, bahkan memperlihatkan gambar-gambar interaktif tanpa perlu proyektor,” ungkap Harun.
Meski demikian, Harun tak menampik adanya kendala.
“Tantangannya ada di jaringan Wi-Fi yang kadang tidak stabil, juga kemampuan SDM dalam bidang IT yang masih perlu ditingkatkan. Tapi kami terus belajar dan saling bantu,” katanya optimis.
Di tengah tantangan keterbatasan infrastruktur, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi pondasi besar bagi kemajuan pendidikan di daerah. (ILA)
