MenaraToday.Com - Pandeglang:
Sejak bayi, Amelia Contesa (10), warga Kampung Tanjungsari RT/RW 02/05, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Kakinya tak mampu menopang tubuh, bicaranya pun terbatas. Kondisi ini telah dialaminya selama hampir sepuluh tahun terakhir.
Amelia merupakan anak kedua dari pasangan nelayan sederhana. Kedua orang tuanya hanya mengandalkan hasil melaut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus biaya pengobatan sang anak. Keterbatasan ekonomi membuat upaya penyembuhan yang dilakukan tak maksimal, hingga kondisi Amelia kian memburuk.
Atin (31), ibu kandung Amelia, mengungkapkan bahwa putrinya lahir dalam kondisi normal tanpa kelainan apa pun. Namun, mimpi buruk mulai menghampiri keluarganya saat Amelia berusia sembilan bulan.
“Waktu lahir normal semuanya. Tapi pas usia sembilan bulan, Amel mengalami demam tinggi sampai step. Setelah itu anak saya nggak bisa bicara, kakinya lemas dan nggak bisa jalan. Sehari-hari cuma bisa terbaring di tempat tidur,” ujar Atin dengan mata berkaca-kaca kepada MenaraToday.Com, Jumat (26/12/2025).
Ibu dari tiga anak ini menegaskan, selama masa kehamilan tidak ada tanda-tanda kelainan yang dialaminya. Pemeriksaan kehamilan pun berjalan normal.
“Lagi hamil juga nggak ada apa-apa, semuanya sehat. Tapi pas usia sembilan bulan itu kondisinya langsung drop. Kata dokter, anak saya kena urat tegang,” tuturnya.
Berbagai upaya pengobatan telah ditempuh Atin dan suaminya. Mulai dari membawa Amelia ke puskesmas, rumah sakit besar, hingga pengobatan alternatif. Namun, hasilnya belum menunjukkan perkembangan berarti.
“Dari awal demam tinggi itu sudah dibawa ke puskesmas, rumah sakit juga sudah, sampai ke alternatif. Tapi kondisinya masih begini, nggak ada perubahan,” ungkapnya lirih.
Selama ini, Atin mengaku berjuang sendiri bersama suaminya tanpa bantuan dari pihak mana pun. Penghasilan suami sebagai nelayan langsung habis untuk biaya berobat Amelia.
“Kami cuma ngandelin hasil melaut bapaknya. Kalau pulang bawa uang, langsung buat berobat. Nggak ada bantuan dari siapa-siapa. Tadinya berharap ada bantuan dari pemerintah, tapi sampai anak saya umur 10 tahun belum ada. Baru sekarang dapat BLT Dana Desa,” katanya.
Ia berharap ke depan Amelia bisa mendapatkan bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) agar pengobatan anaknya dapat berlanjut.
“Saya pengen anak saya bisa sekolah, sehat, dan normal lagi. Soalnya waktu bayinya kan normal,” ucap Atin dengan suara bergetar.
Menanggapi hal tersebut, Staf Desa Teluk, Umdatul Haeriyah (Uum), menyatakan pihak desa akan segera menindaklanjuti kondisi Amelia.
“Terus terang saya baru tahu soal ini karena saya bertugas di bagian pemerintahan dan hari ini kebetulan diperbantukan di Kesra. Insyaallah kami akan berkoordinasi dengan Pak Kades dan secepatnya berkunjung ke rumah Amelia. Jika memang layak, akan kami usulkan untuk mendapatkan bantuan,” jelasnya.
Kisah Amelia menjadi potret nyata perjuangan keluarga kecil di pesisir Pandeglang yang bertahan di tengah keterbatasan, sembari berharap uluran tangan agar sang anak dapat kembali merasakan masa depan yang lebih baik. (ILA)
