Cegah Radikalisme, Peran Keluarga Jadi Sorotan di Seminar Pandeglang

MenaraToday.Com - Pandeglang : 

Seminar Wawasan Kebangsaan di Pandeglang Hadirkan Kisah Perjalanan Hidup Mantan Pelaku Teror Bom Polresta Solo, Munir Kartono. Nilai-nilai kebangsaan tidak hanya dibangun melalui sekolah atau institusi formal, tetapi berawal dari ruang paling dekat, yakni keluarga. Pesan itu mengemuka dalam seminar bertajuk “Wawasan Kebangsaan: Peran Keluarga dalam Menjaga Keutuhan Bangsa” yang digelar pada 7–8 Januari 2026 di Ballroom Hotel Horison Altama, Pandeglang, Banten.

Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta dari unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, organisasi perempuan, hingga perwakilan berbagai instansi ini berlangsung dinamis. Diskusi, pemaparan materi, hingga sesi tanya jawab diikuti dengan antusias pada Rabu (7/1/2026).

Para narasumber menitikberatkan materi pada penguatan nilai-nilai kebangsaan, pembinaan karakter generasi muda, serta pentingnya peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam menanamkan nilai persatuan dan toleransi. Keluarga, menurut mereka, adalah “benteng utama” yang mampu menangkal paham-paham yang berpotensi merongrong keutuhan bangsa.

Komunikasi yang hangat di dalam keluarga, pendidikan karakter sejak dini, serta keteladanan orang tua dinilai menjadi kunci. 

“Dengan pondasi keluarga yang kuat, anak-anak tumbuh dengan jati diri dan mampu menyaring pengaruh negatif,” demikian salah satu benang merah yang disampaikan narasumber Munir Kartono Pelaku teror Bom Polresta Surakarta, Solo pada 2016 lalu. 

Salah satu narasumber, Munir Kartono, membagikan pengalaman hidupnya. Ia pernah terjerumus dalam jaringan teror pada 2016 dan kemudian melalui proses hukum serta pembinaan hingga memilih meninggalkan dunia tersebut.

Munir menegaskan, bahwa faktor yang menyeret seseorang pada tindakan kekerasan ekstrem tidak selalu tunggal dan tidak semata-mata karena ideologi. Ia menyoroti aspek psikososial dalam keluarga, terutama relasi anak dengan orang tua. Ia menyebut dirinya mengalami fase “fatherless” kehilangan figur ayah secara emosional yang membuatnya merasa tidak memiliki tempat bersandar.

"Sejak kecil, hubungan dengan sang ayah diwarnai teguran yang ia rasakan keras. Ketika beranjak remaja, konflik makin kerap muncul hingga ia memilih meninggalkan rumah dan mencari pelarian di jalanan. Di masa itulah ia bertemu lingkungan pergaulan baru, merasa diterima, dan perlahan terseret pada lingkaran yang salah," ucapnya. 

Titik balik datang ketika ia menyaksikan langsung dampak nyata tindakan teror yang membahayakan orang lain. Kesadaran itu membawanya pada proses refleksi panjang, permintaan maaf, serta tekad untuk menata ulang hidupnya.

Kini, Munir memilih fokus pada keluarga kecilnya. Ia menekankan pentingnya kehadiran ayah dalam tumbuh kembang anak. 

“Mendidik anak ada caranya, ada ilmunya,” ujarnya, seraya berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi orang tua agar lebih hadir, menghargai, dan membangun komunikasi yang sehat dengan anak-anak. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama