MenaraToday.Com - Pandeglang :
Sebanyak 291 siswa sekolah dasar (SD) dari empat kecamatan di Kabupaten Pandeglang mengikuti tes psikologi (psikotest) khusus siswa inklusi zona 3. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu (17/1/2026) di SDN 1 Teluk, Kecamatan Labuan, Banten.
Pengurus Harian Kelompok Kerja Guru Sekolah Inklusi (KKGSI) Kabupaten Pandeglang, Eneng Nurhasanah, M.Pd., M.M., mengatakan bahwa peserta tes psikologi berasal dari Kecamatan Carita, Labuan, Pagelaran, dan Panimbang. Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi sejak dini kondisi perkembangan anak, khususnya siswa yang dinilai memiliki kebutuhan khusus.
“Seharusnya lima kecamatan, namun Cigeulis dilaksanakan terpisah karena jaraknya cukup jauh. Asesmen psikologis ini penting agar guru dan orang tua dapat memahami karakter, kemampuan, serta kebutuhan belajar masing-masing anak. Dengan begitu, metode pembelajaran bisa disesuaikan dengan usia mental dan kemampuan siswa,” ujar Eneng kepada Menaratoday.com.
Ia menjelaskan, asesmen dilakukan dalam satu hari dengan melibatkan tujuh orang psikolog. Peserta tes merupakan siswa yang telah diseleksi oleh guru pembimbing di sekolah masing-masing.
“Yang ikut tes hanya kelas 3 sampai 6. Anak kelas 1 dan 2 yang belum lancar membaca atau berhitung masih dianggap wajar, kecuali ada tanda-tanda yang terlihat jelas seperti Down Syndrome dan sejenisnya. Hasil tes nantinya diserahkan kepada guru dan orang tua sebagai bahan evaluasi dan pedoman dalam mendidik anak, baik di sekolah maupun di rumah,” tambahnya.
Eneng juga menyebutkan bahwa dalam proses pembelajaran di sekolah, siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) dibimbing oleh satu guru kelas dengan perbandingan sekitar lima siswa untuk satu guru pembimbing.
“Mengingat keterbatasan kuota, jumlah guru pembimbing menyesuaikan dengan jumlah siswa ABK di masing-masing sekolah. Meski bukan guru khusus ABK, para guru terus dibekali pelatihan dan materi pendukung,” katanya.
Melalui kegiatan ini, KKGSI Kabupaten Pandeglang berharap pembelajaran di sekolah-sekolah inklusi dapat berjalan lebih optimal dan membantu siswa berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
“Meski ada kendala dari orang tua yang kesulitan membawa anaknya karena sulit dibujuk, semoga dengan adanya tes psikologi ini anak-anak bisa lebih fokus belajar, sehingga meski berbeda tetap memiliki kemampuan yang sama di sekolah,” ujarnya.
Salah satu penguji, Maripah, M.Psi., menjelaskan bahwa kegiatan ini berupa asesmen psikologis dan perkembangan anak, meliputi observasi perilaku dan belajar, wawancara pendukung, serta screening kemampuan kognitif.
“Screening kemampuan kognitif dilakukan melalui tes psikologi, khususnya untuk anak-anak yang terindikasi slow learner (lambat belajar),” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kepala SDN 1 Teluk, Jupri, S.Pd., menuturkan bahwa dari sekolahnya terdapat sekitar 15 siswa yang mengikuti tes, tersebar di kelas 3, 4, dan 5.
“Sekolah kami ada 15 anak yang ikut, masing-masing lima orang per kelas nya. Tes ini untuk memastikan apakah anak-anak masuk kategori ABK atau tidak, agar penilaian guru tidak keliru,” paparnya.
Sebagai salah satu sekolah inklusi, Jupri menilai tes tersebut sangat membantu siswa dan guru dalam proses belajar mengajar.
“Dengan adanya tes ini, perkembangan anak-anak berkebutuhan khusus cukup signifikan. Mereka lebih fokus belajar dan guru pembimbing juga tidak terlalu terkendala dengan kondisi anak didiknya,” tandasnya. (ILA)
