MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di bawah langit Sobang yang cerah, suasana Kampung Kalapa Cagak, Desa Teluk Lada, Minggu (15/2/2026), terasa berbeda. Warga berkumpul, para tokoh adat duduk berjejer, dan doa-doa dipanjatkan dalam balutan tradisi yang sarat makna. Hari itu, Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriyadi, kembali pulang bukan sekadar sebagai pejabat daerah, melainkan sebagai anak adat yang untuk kedua kalinya disematkan gelar kehormatan.
Gelar itu adalah Pinangeran Banureksa sebuah sebutan yang berarti pemimpin yang menjaga dan menyayomi. Sebuah gelar yang bukan hanya simbol kebanggaan, tetapi juga amanat.
Dalam prosesi yang khidmat, Iing berdiri di hadapan sembilan Dewan Adat Kalapa Cagak, para kasepuhan, ulama, perangkat desa, pemuda, hingga ibu-ibu kader. Ia menyapa satu per satu dengan penuh takzim, menyampaikan rasa hormat kepada camat, kepala desa, aparatur desa, hingga para tokoh masyarakat yang selama ini menjadi penjaga nilai-nilai kampung.
“Saya bersyukur bisa kembali hadir. Mudah-mudahan amanah ini bisa saya jaga kehormatannya dan saya tunaikan dengan sebaik-baiknya,” ucapnya, dengan nada haru.
Bagi Iing, Kalapa Cagak bukan sekadar titik di peta administratif. Ia mengaku pernah dinobatkan sebagai anak adat beberapa tahun lalu, dan selama hampir dua tahun terakhir belum sempat hadir dalam agenda adat setempat.
Kehadirannya kali ini seperti menuntaskan rindu.
“Meski jauh di mata, harus tetap dekat di hati,” ujarnya, disambut anggukan warga.
Ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan kekompakan. Baginya, harmoni sosial adalah fondasi pembangunan. Tanah yang subur dan kampung yang damai, katanya, lahir dari warganya yang guyub dan saling menjaga.
Namun, prosesi adat hari itu tak berhenti pada seremoni. Di balik gelar Pinangeran Banureksa, terselip amanat konkret dari warga, proposal perbaikan jalan melalui program Bang Andra.
Jalan yang dimaksud bukan sekadar akses biasa. Ia menghubungkan tiga Kecamatan, yakni Sobang, Sukaresmi, dan Angsana. Bagi warga, jalan itu adalah urat nadi ekonomi, jalur pendidikan, dan akses pelayanan kesehatan dari Anak Petani untuk Pandeglang
Di penghujung sambutannya, Iing tak lupa mengenang perjalanan politiknya. Ia menyebut dirinya sebagai anak petani, wong deso, yang kini diberi amanah menjadi Wakil Bupati.
“Jangan berhenti di Iing saja,” katanya,
Memotivasi warga agar membimbing putra-putri mereka menjadi generasi yang cerdas, beriman, dan kelak siap menjadi pemimpin.
Di Kampung Kalapa Cagak hari itu, gelar adat bukan sekadar kebanggaan budaya. Ia menjadi jembatan antara tradisi dan pembangunan, antara doa-doa para kasepuhan dan harapan warga atas jalan yang lebih baik.
Kini, masyarakat menunggu langkah berikutnya dari Pinangeran Banureksa membawa amanat kampung menuju meja pengambil kebijakan, dan semoga, menuju jalan yang benar-benar mulus di masa depan.
Ditempat yang sama, anggota Dewan Adat Kalapa Cagak, Taryana, menegaskan bahwa penganugerahan gelar kepada Wakil Bupati merupakan keputusan bersama masyarakat dan dewan adat. Gelar itu, katanya, mengandung tanggung jawab.
“Tugas pertama beliau sebagai anak adat adalah menyampaikan proposal pembangunan jalan ini kepada Bapak Gubernur melalui program Jalan Bang Andra,” ujar Taryana.
Bagi warga, menitipkan proposal kepada anak adat adalah bentuk kepercayaan. Mereka percaya, seorang pemimpin yang lahir dari rahim kampung akan lebih peka terhadap denyut kebutuhan masyarakatnya (ILA).
