MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di bawah terik matahari siang, puluhan perempuan berseragam sederhana berdiri berjejer di halaman Kantor Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang. Rabu (4/2/2026) itu bukan hari pelayanan posyandu, melainkan hari mereka menagih janji, honor yang tak kunjung dibayar selama enam bulan.
Turut hadir Camat Labuan, Kepala Puskesmas Labuan dan perwakilan dari Polsek Labuan.
Sebanyak 45 kader Posyandu datang dengan perasaan campur aduk, lelah, kecewa, namun tetap berharap. Selama ini, merekalah garda terdepan pelayanan kesehatan ibu dan anak di desa. Mereka menimbang balita, mencatat perkembangan gizi, mengedukasi ibu hamil, hingga mengantar warga yang membutuhkan layanan kesehatan dasar. Namun, jerih payah itu belum berbuah hak yang semestinya mereka terima.
“Kami sudah mencoba semua cara. Kami bicara baik-baik, menunggu, bahkan semalam Pak Carik datang menemui kami. Katanya hari ini beliau dan Pak Kades akan hadir jam satu siang. Tapi sampai sekarang, tak satu pun datang,” ujar seorang kader dengan nada kecewa.
Bagi para kader, persoalan ini bukan semata soal uang. Ada rasa tidak dihargai yang perlahan menggerus semangat mereka. Setiap kali honor cair, selalu ada potongan dengan alasan iuran BPJS. Namun ironisnya, nama mereka tak pernah tercantum sebagai peserta.
“Kalau memang untuk BPJS, kami ingin tahu, kami terdaftar atau tidak? Potongan itu ke mana? Kami hanya ingin kejelasan,” tutur salah satu kader lainnya.
Di hadapan para kader, Camat Labuan, Yayat Hidayat, SKM, mencoba menengahi. Ia bertanya apakah para kader bersedia menerima pembayaran meski Kepala Desa dan Sekretaris Desa belum hadir.
“Seandainya, kalau sampai batas waktu mereka tidak datang, apakah insentif akan tetap dibayarkan? Karena informasinya dananya sudah ada,” ucap Yayat.
Namun, jawaban para kader bulat, mereka memilih menunggu. Bagi mereka, kehadiran pimpinan desa bukan sekadar formalitas, melainkan simbol tanggung jawab dan penghargaan.
“Uang penting, tapi kejelasan dan sikap terbuka jauh lebih penting,” sahut beberapa kader hampir bersamaan.
Di Desa Cigondang, terdapat 50 kader Posyandu. Honor yang belum dibayarkan selama enam bulan mencapai Rp1,2 juta per orang, jumlah yang mungkin kecil bagi sebagian orang, namun besar bagi para kader yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang mengabdikan waktu dan tenaga untuk kesehatan masyarakat.
Hari itu, halaman kantor desa bukan hanya menjadi tempat tuntutan, tetapi juga saksi kesabaran para kader yang terus bertahan. Mereka pulang dengan langkah berat, namun dengan harapan bahwa janji yang tertunda akhirnya akan ditepati dan pengabdian mereka tak lagi dianggap remeh. (ILA)
