MenaraToday.Com - Pandeglang :
Ratusan masyarakat Kampung Kelapa Cagak, Desa Teluk Lada, Kecamatan Sobang, Kabupaten Pandeglang, Banten, antusias menghadiri tradisi Mapag Sri, sebuah ritual adat yang rutin digelar sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi setelah tiga hingga empat bulan masa tanam. Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu (15/2/2026) ,bertempat di Balai Kampung Kalapa Cagak.
Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati (Wabup) Pandeglang Iing Andri Supriyadi, SH., jajaran Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Pandeglang, Dinas Pariwisata (Dispar) Pandeglang, sembilan Dewan Adat Kampung Kalapa Cagak, Sekretaris Camat (Sekmat) Sobang, Kepala Desa (Kades) Teluk Lada, serta sejumlah tamu undangan lainnya.
Kehadiran Wakil Bupati Pandeglang dan para tamu undangan disambut meriah dengan berbagai kesenian tradisional khas Kampung Cagak, mulai dari tari penyambutan tamu agung, pertunjukan pencak silat, tari topeng, hingga ditutup dengan makan bersama masyarakat.
Usai penyambutan, Wabup Pandeglang diarak menuju Balai Kampung Cagak dengan menaiki Buraq berbentuk singa.
Selain penyerahan simbolis hasil panen, prosesi Mapag Sri tahun ini juga dirangkaikan dengan penobatan kembali Wakil Bupati Pandeglang sebagai anak adat untuk kedua kalinya. Ia dianugerahi gelar Pinangeran Banureksa, yang memiliki makna pemimpin yang menjaga dan menyayomi Kabupaten Pandeglang.
Dalam sambutannya, Iing Andri Supriyadi mengungkapkan rasa syukur dan harunya dapat hadir di tengah masyarakat Kampung Kalapa Cagak pada momen istimewa tersebut.
“Saya merasa bersyukur, merasa bahagia, dan terharu bisa hadir di tengah-tengah keluarga besar Kampung Kalapa Cagak yang hari ini merayakan Mapag Sri atau tasyakuran panen hasil bumi. Mudah-mudahan ini menjadi tanda syukur kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas jerih payah selama tiga sampai empat bulan bertani di sawah dan kebun masing-masing,” ujarnya.
Ia berharap hasil panen yang diperoleh para petani menjadi berkah dan membawa kebaikan ke depan. Menurutnya, keberhasilan panen tidak hanya berdampak pada kesejahteraan petani, tetapi juga pada ketahanan bangsa secara keseluruhan.
“Mudah-mudahan hasil yang didapatkan menjadi berkah, sehingga ke depan panen kita semakin bagus, semakin subur. Karena bagaimanapun juga, petani adalah tulang punggung negara. Tanpa petani, tanpa pangan, negara pun akan rapuh,” tegasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya ketahanan pangan sebagai bagian dari program nasional yang tengah digalakkan pemerintah, termasuk upaya menciptakan kemandirian pangan di berbagai daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Iing mengaku kehadirannya di Kampung Kalapa Cagak terasa seperti pulang kampung.
“Saya hadir di sini bukan sebagai tamu. Saya merasa seperti pulang kampung,” katanya.
Namun demikian, ia menyampaikan permohonan maaf kepada para kasepuhan, tokoh adat, dan seluruh tamu undangan karena tidak dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai. Ia dijadwalkan menghadiri Haul Akbar Ulama di Kecamatan Menes, agenda organisasi di Serang, serta kegiatan kenegaraan di Jakarta pada sore harinya.
“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena tidak dapat mengikuti agenda ini sampai selesai. Insya Allah di lain waktu dan kesempatan, kita bisa kembali bersilaturahmi,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Mapag Sri, Zaenal Abidin, menuturkan bahwa tradisi tersebut merupakan agenda tahunan yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dengan tujuan mempererat persatuan masyarakat.
“Ini agenda tahunan kami yang selalu diadakan setiap masa panen tiba sebagai bentuk rasa syukur. Sebetulnya ada dua agenda rutin, yakni Mapag Sri dan Sedekah Bumi yang digelar menjelang bercocok tanam dengan harapan agar masa penanaman dan masa panen berjalan lancar dan melimpah,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, meskipun hasil panen tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, hal itu tidak menyurutkan semangat masyarakat untuk tetap melaksanakan tradisi Mapag Sri.
“Dari satu hektare menghasilkan 5–6 ton. Namun panen tahun ini mengalami penurunan dibanding tahun lalu karena musim hujan yang mengakibatkan sekitar 600 hektare lahan sawah petani banyak yang gagal panen karena banjir. Tapi meski begitu kami tetap antusias mengadakan tradisi Mapag Sri, semoga panen yang akan datang jauh lebih baik,” tandasnya.
Zaenal juga berpesan kepada para petani agar tetap semangat dan optimistis dalam bercocok tanam demi terwujudnya swasembada pangan nasional.
“Tetap bahagia di tengah situasi alam yang tidak bersahabat dan terus bercocok tanam sampai Indonesia swasembada pangan,” tutupnya.
Acara Mapag Sri berlangsung meriah, tradisi ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi, tetapi juga menunjukkan bahwa masyarakat Kampung Cagak memiliki tradisi dan kebudayaan yang kuat dalam mempererat tali silaturahmi serta memperkuat nilai gotong royong dalam kehidupan pedesaan. (ILA)
