MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di balik hiruk-pikuk dunia pendidikan, tak jarang muncul persoalan yang sejatinya berawal dari perbedaan pemahaman. Hal itulah yang terjadi di SDN Cigondang 02. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN 02 Cigondang juga menegaskan bahwa persoalan yang sempat mencuat di sekolahnya tidaklah sebesar yang diberitakan dan kini telah selesai tanpa konflik.
Plt Kepala SDN 02 Cigondang, Saeful Bahri, S.Pd., mengungkapkan bahwa sejak awal sebenarnya tidak ada polemik besar.
“Kalau orang itu berilmu, sebenarnya tidak ada persoalan yang begitu wah,” ujarnya kepada menaratoday.com. Selasa (10/2/2026).
Ia bercerita, sebelum dirinya menjabat sebagai Plt Kepala Sekolah, terdapat dua tenaga honorer penjaga sekolah yang berijazah Paket B.
"Salah satu dari mereka sempat dipercaya mengajar olahraga oleh kepala sekolah sebelumnya. Padahal, secara regulasi, seorang guru honorer seharusnya memiliki ijazah S1 yang linier dengan mata pelajaran yang diampu," ucapnya.
Lanjutnya, perubahan mulai terjadi ketika keduanya diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) paruh waktu. Dalam Surat Keputusan (SK) yang mereka terima, keduanya tercatat sebagai Tenaga Teknis.
"Dalam SK yang diterima mereka tercatat dengan jelas yang satu sebagai penjaga sekolah, dan satu lagi sebagai pustakawan. Dan kami menugaskan mereka sesuai dengan SK tersebut," ujarnya.
Namun, masih kata Saeful, penugasan baru itu sempat menimbulkan kegelisahan. Salah satu tenaga yang sebelumnya mengajar olahraga merasa berat menerima tugas sebagai pustakawan. Ia merasa telah lama mengabdi sebagai pengajar, bukan sebagai tenaga administrasi.
Saeful memahami perasaan itu, tetapi ia juga menyadari tanggung jawabnya sebagai pimpinan sekolah untuk menegakkan aturan.
“Kalau saya tetap menugaskan dia mengajar olahraga, justru itu yang salah, karena ijazahnya Paket C. Sedangkan guru harus S1,” tegasnya.
Proses dialog pun terjadi. Tidak ada suara tinggi, tidak ada konflik terbuka. Yang ada hanyalah upaya saling memahami dan menyelaraskan peran dengan aturan yang berlaku. Perlahan, suasana mencair. Yang semula terasa berat, kini berubah menjadi lapang.
“Alhamdulillah, sekarang sudah beres dan selesai. Tidak ada lagi persoalan atau konflik apa pun,” tutur Saeful dengan lega.
Ketua PGRI Kecamatan Labuan, Jupri, S.Pd., membenarkan hal tersebut.
“Semua sudah saling memahami. Persoalannya sekarang sudah beres, Alhamdulillah,” katanya singkat.
Kisah di SDN Cigondang 02 ini menjadi pengingat bahwa dalam dunia pendidikan, bukan hanya ilmu yang penting, tetapi juga komunikasi, empati, dan keteguhan dalam menegakkan aturan. Sebab, dari situlah harmoni dapat tumbuh, dan pendidikan dapat berjalan dengan lebih bermartabat. (ILA)
