Di Usia ke-46, Taman Nasional Ujung Kulon Santuni Puluhan Anak Yatim

MenaraToday.Com - Pandeglang  :

Suasana hangat terasa di aula kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon pada Jumat (6/3/2026). Tidak hanya menjadi momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46, momen tersebut juga diisi dengan kegiatan berbagi kepada sesama. Sebanyak 50 anak yatim dari warga sekitar diundang untuk menerima santunan.

Kegiatan itu berlangsung sederhana namun penuh makna. Selain santunan anak yatim piatu, juga diisi dengan tausiyah dan Buka Puasa Bersama (Bukber). 

Sejumlah tamu undangan turut hadir, mulai dari mitra yayasan hingga awak media yang selama ini ikut mendukung berbagai program konservasi di kawasan tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Ardi Andono, S.TP., M.Sc., mengatakan peringatan HUT tahun ini sengaja dirayakan secara sederhana dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan.

“Alhamdulillah di tahun ini TNUK HUT ke-46 dirayakan dengan cara yang sederhana, mengundang rekan-rekan mitra dari yayasan, media, dan santunan anak yatim yang berasal dari warga terdekat,” ujar Ardi Andono. 

Bagi Ardi, menjaga kawasan konservasi seperti Taman Nasional Ujung Kulon tidak hanya dilakukan melalui patroli dan pengawasan. Ada pendekatan lain yang dianggap sama pentingnya, yakni membangun kedekatan dengan masyarakat.

Menurutnya, ancaman seperti perambahan maupun pencurian kawasan hutan tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi. Karena itu, pengelolaan taman nasional tidak hanya mengandalkan penegakan hukum, tetapi juga pendekatan sosial.

Salah satu yang dilakukan adalah membangun “pagar sosial”. Santunan kepada anak-anak yatim, kata Ardi, merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan antara pengelola kawasan dengan masyarakat sekitar

“Kegiatan ini merupakan bentuk kedekatan kita dengan masyarakat, terutama masyarakat yang kurang beruntung,” katanya.

Tidak hanya itu, berbagai kegiatan sosial lain juga dilakukan. Saat banjir yang terjadi pada awal tahun lalu, pihak balai menyalurkan ratusan bantuan kepada warga terdampak, termasuk santunan kepada pesantren.

Selain pendekatan sosial, pihak balai juga mengembangkan “pagar ekonomi”. Melalui program pemberdayaan masyarakat, warga diajak memanfaatkan potensi alam di sekitar kawasan secara bijak.

Salah satunya dengan mengolah bambu yang banyak ditemukan di hutan menjadi berbagai produk bernilai guna. Untuk itu, balai taman nasional menggelar workshop dan memberikan bantuan peralatan kepada kelompok pengrajin.

“Bambu bisa dimanfaatkan menjadi bilik, pagar, atau berbagai produk lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Ardi.

Program pemberdayaan ini juga membuka peluang bagi anak-anak muda di wilayah Ujung Jaya untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif, termasuk melalui sistem penyewaan peralatan yang disediakan bagi masyarakat.

Selain pagar sosial dan ekonomi, terdapat pula “pagar pendidikan” yang bertujuan membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan konservasi.

Sementara itu, program “pagar kehidupan” diwujudkan dengan memberikan tanaman penghidupan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan taman nasional.

Menurut Ardi, seluruh program tersebut harus berjalan seiring dengan penegakan hukum terhadap berbagai pelanggaran yang terjadi di kawasan konservasi.

“Program ini harus sejalan dengan penegakan hukum. Peristiwa yang ramai sekarang sebenarnya terjadi pada November lalu, tetapi kembali diangkat oleh para pengacara di Pandeglang. Namun kami tidak surut,” tandasnya.

Di usia ke-46 ini, Taman Nasional Ujung Kulon tidak hanya dikenal sebagai rumah bagi satwa langka dan kekayaan alam, tetapi juga sebagai ruang yang terus berupaya mendekatkan konservasi dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama