MenaraToday.Com - Pandeglang :
Riuh ombak dan tawa pengunjung memenuhi kawasan Pantai Carita pada Minggu siang, 22 Maret 2026. Libur Lebaran yang seharusnya menjadi momen kebersamaan keluarga, mendadak diwarnai kepanikan. Satu per satu laporan anak hilang mulai berdatangan.
Di tengah keramaian itu, sebagian orang tua tampak sibuk mengabadikan momen ber swafoto, merekam video, hingga asyik bermain media sosial. Tanpa disadari, anak-anak mereka perlahan menjauh, terseret arus kerumunan yang padat.
Balawista Banten mencatat, sebanyak 25 anak dilaporkan hilang atau terlepas dari pengawasan orang tua pada hari itu. Angka yang tidak kecil untuk satu kawasan wisata dalam satu hari.
Koordinator Bidang Teknis dan Operasi Balawista, Mad Kobar, masih mengingat betul situasi tersebut. Petugas berjibaku menyisir pantai, menyusuri titik-titik keramaian, hingga menenangkan anak-anak yang kebingungan mencari orang tuanya.
“Iya betul, 25 anak pada H+1 Lebaran,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (24/3/2026).
Menurutnya, lonjakan pengunjung menjadi tantangan tersendiri. Pantai yang dipadati wisatawan membuat pengawasan menjadi tidak mudah, baik bagi petugas maupun orang tua.
Namun, lebih dari itu, ada persoalan yang kerap berulang, lengahnya pengawasan.
“Ramai, kurang pengawasan dari orang tua, dan pengelola destinasi yang hanya memungut retribusi tanpa memperhatikan pengunjungnya,” kata Mad Kobar.
Di beberapa titik, anak-anak yang tersesat ditemukan dalam kondisi kebingungan. Ada yang menangis, ada pula yang hanya diam memandangi kerumunan, berharap wajah yang dikenalnya muncul dari antara banyak orang.
Beruntung, berkat kerja cepat petugas dan kepedulian pengunjung lain, seluruh anak berhasil ditemukan dan dikembalikan kepada keluarganya pada hari yang sama.
Peristiwa ini juga membuka fakta lain. Tidak semua destinasi di Pantai Carita terintegrasi dengan sistem pengawasan Balawista. Artinya, standar keselamatan di tiap lokasi belum merata.
Padahal, di tengah meningkatnya minat wisata, aspek keselamatan seharusnya menjadi prioritas utama.
Mad Kobar pun mengingatkan, liburan bukan hanya soal bersenang-senang, tetapi juga tentang tanggung jawab.
“Berwisata lah ke tempat yang standar pariwisatanya sudah terpenuhi sesuai surat edaran gubernur 2026,” tegasnya.
Kejadian ini menjadi refleksi sederhana di tengah kemajuan teknologi dan budaya berbagi momen di media sosial, perhatian terhadap hal paling dekat seperti keselamatan anak tidak boleh teralihkan.
Sebab, bagi seorang anak, liburan bukan tentang foto yang diunggah, melainkan rasa aman saat berada di sisi orang tuanya. (ILA)
