Mantap, Warga Desa Teluk Sulap Tumpukan Sampah Di Pesisir Teluk Pandeglang Jadi Rupiah

MenaraToday.Com - Pandeglang

Pagi itu angin laut berhembus pelan di pesisir Teluk, Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Ombak kecil bergulung membawa sesuatu yang bukan hanya kerang atau kayu hanyut, tetapi juga tumpukan sampah plastik yang menggunung di bibir pantai. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terasa mengkhawatirkan. Sampah yang berserakan dianggap sebagai ancaman bagi lingkungan dan laut. Namun bagi sebagian warga Kampung Teluk, tumpukan sampah yang datang terutama saat musim penghujan justru menghadirkan peluang kecil untuk menambah penghasilan.

Dengan langkah pelan, Mak Uyum (65) menyusuri garis pantai sambil membawa karung bekas. Matanya sesekali menunduk, tangannya cekatan memungut plastik bekas kemasan minuman yang terselip di antara pasir dan ranting.

“Mungutin sampah plastik, bekas kemasan minuman,” kata Mak Uyum saat ditemui di pesisir pantai. Kamis (5/3/2026).

Baginya, aktivitas memungut sampah bukan sekadar membersihkan pantai. Dari plastik-plastik yang dikumpulkan, ada sedikit rupiah yang bisa dibawa pulang.

Menurut Mak Uyum, ketika musim penghujan tiba, sampah yang terbawa arus laut sering menumpuk di sepanjang pantai Teluk. Kondisi itu membuat warga seperti dirinya memanfaatkan plastik-plastik yang masih bisa dijual ke pengepul.

“Banyak yang mungutin juga karena lumayan. Kadang sehari dapat dua kilo. Sekilonya Rp1.500,” ujarnya.

Namun plastik yang didapat biasanya tidak langsung dijual. Ia memilih mengumpulkannya terlebih dahulu hingga cukup banyak.

“Kadang gak langsung dijual ke pengepul, dikumpulin dulu. Kalau udah sekitar 10 kilo baru dijual. Lumayan dapat Rp15 ribu,” tutur Mak Uyum.

Meski begitu, memungut sampah bukanlah pekerjaan tetap bagi perempuan lanjut usia tersebut. Ia hanya melakukannya ketika tidak ada kegiatan lain dan cuaca sedang bersahabat.

“Sehari-hari di rumah aja. Mungut sampah plastik kalau lagi mau aja. Kebetulan ini lagi gak hujan jadi ke sini,” katanya sambil tersenyum.

Tak jauh dari Mak Uyum, Sarta (72) juga tampak berjalan menyusuri pantai dengan membawa karung. Bagi nelayan sepuh itu, memungut sampah menjadi kegiatan pengisi waktu ketika ia tidak bisa melaut.

“Keseharian sih nelayan,” kata Sarta.

Namun dalam beberapa hari terakhir, perahu yang biasa ia gunakan untuk mencari ikan terpaksa bersandar di darat. Cuaca buruk membuatnya tak bisa melaut.

“Perahunya lagi gak jalan karena cuacanya lagi pabarat (buruk). Jadi ya mungut aja daripada nganggur, karena dapur harus tetap ngebul,” ujarnya.

Bagi warga pesisir seperti Mak Uyum dan Sarta, tumpukan sampah di pantai bukan hanya persoalan lingkungan. Di balik bau plastik dan serpihan sampah yang terbawa ombak, ada harapan kecil yang bisa diubah menjadi uang untuk menyambung hidup sehari-hari.

Meski nilainya tidak seberapa, plastik-plastik yang dipungut dari pantai itu setidaknya memberi mereka alasan untuk tetap melangkah menyusuri pesisir menunggu karung penuh, dan sedikit rupiah untuk dibawa pulang. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama