Tradisi Ketupat Pertengahan Ramadan di Banten, Simbol Syukur dan Pengingat Ibadah

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Tradisi membuat ketupat pada pertengahan bulan Ramadan masih terus dilestarikan oleh masyarakat Banten, khususnya di Kabupaten Pandeglang. Selain menjadi bagian dari budaya leluhur, tradisi tersebut juga memiliki makna religius yang mendalam bagi umat Muslim. 

Pengurus Pondok Pesantren Huffazd Manbaul Quran (PHMQ) sekaligus Ketua Dewan Pengurus Daerah Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten (DPD M3CB) Pandeglang, Sirojudin ZA, menjelaskan bahwa secara harfiah tradisi membuat ketupat di pertengahan Ramadan merupakan wujud rasa syukur umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa selama 15 hari atau 15 Ramadan 1447 Hijriyah yang jatuh pada hari Kamis (5/3/2026).

“Tradisi ini bukan sekadar budaya turun-temurun, tetapi juga bentuk rasa syukur kepada Allah SWT karena umat Muslim telah melaksanakan setengah perjalanan ibadah puasa Ramadan,” ujar Sirozudin kepada menaratoday.com. 

Menurutnya, di wilayah Banten, tradisi tersebut sudah berlangsung sejak lama dan menjadi bagian dari kearifan lokal yang perlu terus dijaga. Ia menekankan pentingnya melestarikan budaya tersebut agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi ini juga memiliki makna pengingat bagi umat Islam. Sirozudin menjelaskan bahwa setelah memasuki pertengahan Ramadan, terdapat tambahan doa qunut yang dibaca pada rakaat terakhir dalam shalat witir pada malam-malam selanjutnya.

“Ketupat di pertengahan Ramadan juga menjadi tanda atau pengingat bahwa mulai malam-malam berikutnya dalam bulan Ramadan, umat Muslim membaca doa qunut pada rakaat terakhir shalat witir,” jelasnya.

Dengan demikian, tradisi membuat ketupat tidak hanya mempererat kebersamaan masyarakat, tetapi juga menjadi sarana edukasi keagamaan yang mengingatkan umat Islam untuk meningkatkan ibadah di sisa bulan Ramadan. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama