MenaraToday.Com - Pandeglang :
Aroma ketupat yang baru matang mulai tercium dari sudut-sudut kampung di Kabupaten Pandeglang setiap kali pertengahan Ramadan tiba. Di dapur-dapur rumah warga, anyaman daun kelapa muda yang berisi beras direbus dalam panci besar. Tradisi yang dikenal dengan sebutan Qunutan ini kembali hadir pada Kamis (5/3/2026), bertepatan dengan 15 Ramadan 1447 Hijriah.
Ketupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa muda, kemudian direbus hingga matang. Sementara lepet merupakan olahan beras ketan yang dibungkus daun kelapa dengan rasa gurih khas. Pada malam atau pagi menjelang 15 Ramadan, sebagian warga memasak ketupat di rumah untuk kemudian dibawa ke masjid. Setelah didoakan bersama, ketupat tersebut dibagikan kembali kepada masyarakat sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Namun, tidak semua orang sempat membuat ketupat sendiri. Sebagian warga memilih membeli ketupat dan lepet yang sudah matang di pasar atau dari pedagang dadakan yang bermunculan saat Qunutan tiba. Momen ini pun membawa berkah tersendiri bagi para penjual.
Salah satu pedagang, Anah (36), tampak sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Tumpukan ketupat dan lepet yang sudah matang tertata di lapaknya. Meski demikian, menurutnya, permintaan tahun ini terasa tidak seramai tahun sebelumnya.
“Gak kayak tahun kemarin, kayaknya tahun ini yang belinya kurang semangat, gak tahu karena apa. Padahal tahun kemarin lumayan penjualannya banyak,” kata Anah.
Ia menjelaskan, harga ketupat dan lepet tahun ini justru lebih murah dibandingkan tahun lalu. Anah menjual ketupat seharga Rp. 20 ribu untuk 10 biji, sementara lepet Rp. 22 ribu per 10 biji.
“Kalau tahun kemarin saya jual Rp. 25 ribu karena harga beras cukup mahal,” ujarnya.
Di tempat lain, Marni (27) memilih cara berbeda untuk berjualan. Ia tidak membuka lapak, melainkan berkeliling kampung menawarkan ketupat dan lepet kepada warga. Dengan membawa dagangannya menggunakan wadah besar, Marni menyusuri jalan-jalan kecil di perkampungan. Menurutnya, cara ini lebih efektif karena tidak semua orang sempat pergi ke pasar, terlebih saat musim hujan.
“Sekarang orang-orang suka malas pergi ke pasar, apalagi musim hujan seperti sekarang. Makanya saya lebih pilih ngider (keliling) ke kampung-kampung, memudahkan pembeli juga,” ujarnya.
Usahanya pun membuahkan hasil. Dari 50 ikat ketupat dan lepet yang ia bawa sejak pagi, kini hanya tersisa beberapa saja.
“Alhamdulillah ini tinggal sedikit lagi,” katanya sambil tersenyum.
Bagi masyarakat Pandeglang, Qunutan bukan hanya soal makanan. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, berbagi dengan sesama, sekaligus mengingatkan bahwa perjalanan Ramadan masih harus dilanjutkan dengan penuh makna.
Sementara bagi para pedagang seperti Anah dan Marni, Qunutan adalah momen yang membawa rezeki, sebuah berkah kecil yang hadir di tengah hangatnya tradisi Ramadan (ILA).
