Didampingi Relawan, Balita dari Pandeglang Siap Berjuang Lawan Tumor Ganas Di Jakarta

MenaraToday.Com - Pandeglang : 

Di sebuah sudut Kampung Simpang, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten, seorang balita berusia tiga tahun bernama Farhan (3,8) terbaring lemah. Tubuh kecilnya harus melawan tumor ganas yang perlahan menggerogoti kesehatannya, sebuah perjuangan yang sempat terhenti bukan karena menyerah, melainkan karena keterbatasan.

Beberapa bulan terakhir, hari-hari Farhan dihabiskan di rumah sederhana bersama orang tuanya. Tanpa akses pengobatan yang memadai, penanganan yang ia terima hanya sebatas obat warung. Kondisinya pun kian memburuk.

Padahal, harapan sempat menyala pada Januari lalu. Farhan pernah menjalani pengobatan di RSUD Banten dan RSU Tangerang, sebelum akhirnya dirujuk ke RS Dharmais di Jakarta. Namun perjalanan itu terhenti di tengah jalan. Biaya transportasi dan akomodasi menjadi tembok besar yang tak mampu ditembus keluarganya.

Sejak itu, Farhan kembali ke kampung halaman membawa harapan yang tertunda.

Perubahan mulai datang ketika kisah Farhan menyebar luas dan menyentuh banyak hati. Dari dunia maya, kepedulian menjelma menjadi gerakan nyata. Relawan dari Fesbuk Banten News (FBn) bersama relawan gabungan turun tangan.

Pada Selasa malam (7/4/2026), mereka datang menjemput Farhan dan keluarganya. Perjalanan panjang menuju pengobatan pun dimulai bukan lagi sendirian.

“Alhamdulillah adik Farhan sudah kita jemput. Sekarang sudah berada di rumah singgah FBn,” ujar Lulu Jamaludin, yang turut mendampingi proses tersebut.

Malam itu bukan sekadar penjemputan. Ia menjadi titik balik peralihan dari keterbatasan menuju harapan.

Untuk sementara, Farhan dan keluarganya tinggal di rumah singgah relawan di Serang. Di tempat sederhana itu, mereka beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Rencananya, Farhan akan menjalani pengobatan lanjutan di RS Dharmais, Jakarta, pada Kamis (9/4/2026). Seluruh proses akan didampingi relawan, memastikan Farhan mendapatkan penanganan yang selama ini sulit dijangkau.

Jika perawatan harus berlangsung lama, relawan juga telah menyiapkan tempat tinggal sementara di rumah singgah milik Pemprov Banten di kawasan Tebet.

“Mudah-mudahan ini menjadi titik terang bagi keluarga Farhan,” kata Lulu, penuh harap.

Di tengah perjalanan ini, rasa syukur tak henti diucapkan oleh sang ibu, Nia. Baginya, bantuan yang datang bukan hanya soal biaya atau fasilitas, tetapi juga tentang kepedulian yang menguatkan.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, baik tenaga, doa, donasi, hingga pendampingan. Semoga semua kebaikan ini dibalas oleh Allah SWT,” tuturnya.

Nia menuturkan, pada saat dalam kandungan Dan dilahirkan kondisi Farhan normal tidak ada kelainan apapun. Semua terjadi ketika usia Farhan menginjak 3,5 tahun.

"Normal, tapi pas usia 42 bulan (3,5) kesehatan anak saya mulai terganggu akhirnya muncul benjolan kecil dikepala," ungkapnya.

Kini, langkah kecil Farhan menuju kesembuhan kembali dimulai. Di balik tubuhnya yang lemah, tersimpan harapan besar, harapan untuk sembuh, untuk kembali bermain, dan untuk menjalani masa kecil yang sempat tertunda.

Perjalanan ini mungkin masih panjang. Namun setidaknya, Farhan tidak lagi berjalan sendirian. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama