MenaraToday.Com - Pandeglang :
Suara gemericik air di pemandian alami Situs Batu Goong Citaman seharusnya menjadi pelipur lelah bagi para pengunjung. Terletak di Kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pandeglang, Banten, tempat ini dikenal dengan suasana asri dan kesejukan alaminya.
Namun, di balik keindahan itu, terselip cerita yang membuat sebagian wisatawan merasa kurang nyaman bukan karena alamnya, melainkan ulah oknum juru parkir di akses masuk kawasan wisata.
Seorang pengunjung yang enggan disebutkan namanya menuturkan pengalamannya. Ia bukan wisatawan baru di Citaman. Sudah belasan kali ia datang, menikmati suasana, dan memarkirkan sepeda motornya di area dalam dekat loket masuk.
Namun kunjungan terbarunya pada Jumat (3/4/2026) terasa berbeda.
“Saya sudah sering ke sini, selalu parkir di dalam. Tapi kali ini dihadang,” ujarnya kepada menaratoday.com. Sabtu (4/3/2026).
Ia bercerita, seorang pemuda tiba-tiba menghentikannya sambil menyodorkan tiket parkir tertulis Rp5000 untuk motor, Rp15000 untuk mobil. Dengan nada yang menurutnya tidak ramah, pemuda tersebut melarangnya membawa kendaraan masuk ke dalam area situs.
Belum sempat situasi mencair, seorang pemuda lain datang. Suaranya lebih tinggi, nada memaksa, bahkan cenderung intimidatif.
“Sempat debat karena maksa, jarinya menunjuk ke arah parkiran dan bilang kalau yang jaga di dalam sering marah kalau ada kendaraan parkir di sana,” kenang pengunjung itu.
Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya soal parkir. Namun bagi wisatawan, pengalaman seperti ini bisa mengubah kesan terhadap sebuah destinasi.
Di balik larangan tersebut, tersiar penjelasan yang mengarah pada persoalan yang lebih kompleks, batas wilayah dan pengelolaan. Area parkir luar disebut masuk wilayah Desa Sukaraja, sementara area dalam pemandian berada di wilayah Desa Sukasari.
Dua desa, dua pengelolaan, satu arus pengunjung.
"Pas nyampe ke dalem ternyata banyak kendaraan lain yang parkir, dari situ saya menduga ada semacam rebutan parkir kendaraan, dari tiket yang saya terima dari dua orang juru parkir didepan tercantum Paguyuban Pemuda-Pemudi Kampung Bonghas Lebak (PPPKBL), sementara tiket parkir didalam berbeda," katanya.
Dugaan itu bukan tanpa alasan. Di banyak destinasi wisata lokal, pengelolaan parkir kerap menjadi sumber pendapatan penting bagi warga sekitar. Ketika batas wilayah bertemu dengan peluang ekonomi, gesekan kecil bisa saja muncul ke permukaan.
Namun, di tengah cerita tersebut, suara berbeda datang dari Abah Kosim, juru pelihara Situs Batu Goong Citaman.
Dengan tenang, ia menegaskan bahwa tidak pernah ada aturan yang melarang kendaraan roda dua masuk ke dalam area situs.
“Motor boleh masuk, tidak ada larangan. Mau parkir di luar atau di dalam, sama saja,” ujarnya.
Baginya, persoalan ini seharusnya tidak menjadi sumber konflik. Ia menyebut pengelolaan parkir sebagai bagian dari upaya berbagi rezeki di antara masyarakat sekitar.
“Ini hanya soal berbagi saja, supaya semua bisa merasakan manfaat dari adanya wisata ini,” katanya.
Lebih jauh, Abah Kosim menjelaskan bahwa hasil retribusi yang diperoleh tidak masuk ke kantong pribadi seluruhnya, melainkan disalurkan untuk kepentingan bersama, mulai dari kebutuhan masjid hingga kegiatan sosial masyarakat.
Di Citaman, alam masih setia menawarkan ketenangan. Airnya tetap jernih, pepohonan tetap rindang, dan udara tetap sejuk. Namun, di pintu masuknya, cerita lain tengah bergulir tentang ruang, pengelolaan, dan harapan agar wisata tetap ramah bagi siapa saja yang datang.
Bagi para pengunjung, sederhana saja, mereka ingin menikmati alam tanpa rasa canggung. Dan bagi pengelola, mungkin ini saatnya duduk bersama, agar keindahan Citaman tidak terusik oleh hal-hal yang seharusnya bisa diselesaikan dengan musyawarah. (ILA)
