MenaraToday.Com - Pandeglang :
Di tepian Pantai Muara Bama, Desa Margagiri, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, Banten, hamparan hutan mangrove tumbuh subur menghadapi debur ombak. Di antara rimbunnya akar-akar yang mencengkeram tanah pesisir, buah pedada bergelantungan lebat, sebuah potensi alam yang selama ini nyaris terabaikan.
Buah mangrove yang satu ini kerap jatuh begitu saja ke tanah, membusuk tanpa sempat dimanfaatkan. Padahal, di balik tampilannya yang sederhana, tersimpan rasa manis yang mengejutkan dan peluang ekonomi yang menjanjikan.
Hal itu disadari betul oleh Kepala Desa Margagiri, Randhy Suharta, S.T. Baginya, pedada bukan sekadar buah liar di kawasan pesisir, melainkan harapan baru bagi desanya.
“Rasanya enak, manis. Saya sudah mencobanya sendiri. Sayang sekali kalau selama ini hanya dibiarkan jatuh dan tidak dimanfaatkan,” tuturnya suatu siang, dengan nada penuh keyakinan.
Di tengah keterbatasan desa, Randhy mulai menggagas ide sederhana namun penuh makna, yakni mengolah buah pedada menjadi minuman khas yang bisa dinikmati sekaligus dipasarkan.
Ia membayangkan suatu hari nanti, Margagiri dikenal bukan hanya karena pesisirnya, tetapi juga produk olahan mangrovenya.
Namun, jalan menuju mimpi itu tidaklah mudah. Pengetahuan masyarakat tentang manfaat pedada masih minim. Begitu pula dengan kemampuan teknis untuk mengolahnya menjadi produk siap jual. Kendala anggaran pun menjadi tembok yang belum bisa ditembus.
“Keinginan itu ada, bahkan besar. Tapi kami butuh dukungan, baik dari sisi pelatihan maupun pembiayaan,” ujarnya.
Harapan itu kini diarahkan kepada para investor dan pihak swasta yang memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan desa. Randhy membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin berkolaborasi, mengubah buah yang selama ini terabaikan menjadi sumber penghidupan baru.
Di sisi lain, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Wana Lestari 2, H. Sudrajat, melihat potensi yang sama. Ia pernah mengetahui bahwa buah pedada bisa diolah menjadi minuman, dan sejak itu keyakinannya tumbuh.
“Ini bukan sekadar buah liar. Kalau dikembangkan, bisa punya nilai jual dan membantu ekonomi masyarakat,” katanya.
Bagi warga Margagiri, pedada kini bukan lagi sekadar buah yang jatuh dan terlupakan. Ia mulai dilihat sebagai simbol peluang, tentang bagaimana alam yang sederhana bisa menjadi sumber kesejahteraan, jika dikelola dengan pengetahuan dan kemauan.
Di antara semilir angin laut dan akar mangrove yang kokoh, harapan itu perlahan tumbuh. Menunggu tangan-tangan yang siap mengolahnya, dan membuka jalan bagi masa depan desa yang lebih mandiri. (ILA)
