MBG Pandeglang Tuai Kontroversi, Wali Murid Minta BGN Bertindak Tegas

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Polemik tidak tersalurkannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke SDN Labuan 3 menuai protes dari orang tua siswa. Mereka mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengambil tindakan tegas terhadap Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (KSPPG) dapur Labuan Mandiri.

Salah satu wali murid berinisial M menilai penghentian distribusi MBG tidak dapat dibenarkan. Menurutnya, selama belum ada nota kesepahaman (MoU) baru antara pihak sekolah dengan dapur lain, tanggung jawab penyaluran masih berada di dapur sebelumnya.

“Ini bukan sekadar miskomunikasi. Saya menilai KSPPG dapur Mandiri Labuan tidak profesional, terkesan lari dari masalah dan cuci tangan,” ujarnya.

M juga menyoroti bahwa seorang KSPPG seharusnya memiliki kompetensi dan tanggung jawab tinggi, mengingat latar belakang pendidikan dan pelatihan yang dimiliki. Namun, ia menilai tindakan yang terjadi justru mencoreng citra jabatan tersebut.

Ia menambahkan, pihak dapur seharusnya tetap melakukan koordinasi aktif dengan SPPG lain hingga ada kejelasan terkait MoU dan jadwal distribusi lanjutan.

“Harusnya ada komunikasi lanjutan sampai jelas siapa yang melanjutkan distribusi. Jangan dilepas begitu saja tanpa tanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, Menyikapi tidak adanya pengiriman program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke SDN Labuan 3 sejak Senin hingga Selasa (28/5/2026), Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPG Labuan, Haryanto, memastikan bahwa seluruh pihak dapur yang terlibat telah mengetahui berakhirnya masa kontrak kerja sama pengiriman MBG.

Haryanto menjelaskan, baik SPPG lama maupun SPPG baru sebelumnya telah dikumpulkan dalam satu pertemuan untuk membahas hal tersebut. Dalam forum itu, seluruh pihak dipastikan sudah memahami bahwa kontrak kerja sama antara SDN Labuan 3 dengan SPPG Mandiri Labuan sebagai penyedia dapur telah berakhir.

“Karena semua SPPG sudah dikumpulkan belum lama ini, dan masing-masing sudah dapat dipastikan mengetahui terkait habisnya masa kontrak dengan sekolah terkait,” ungkap Haryanto kepada menaratoday.com, Selasa (28/5/2026).

Ia menambahkan, pada periode saat ini memang belum ada pengiriman MBG ke sekolah-sekolah. Hal itu disebabkan proses administrasi kerja sama baru yang masih berjalan. Umumnya, pengiriman MBG akan dimulai sekitar satu minggu setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

“Untuk periode baru ini memang belum ada pengiriman MBG ke sekolah-sekolah. Biasanya seminggu setelah penandatanganan atau bahkan bisa lebih cepat tergantung kesiapan dapurnya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Haryanto mengungkapkan adanya kebijakan baru dalam pengelolaan program MBG. Setiap dapur nantinya diwajibkan untuk menangani sebanyak 2.000 paket makanan bergizi.

“Jadi sekarang aturannya semua dapur akan mengelola program MBG sebanyak 2.000 paket. Namun untuk dapur yang baru beroperasi, di tahap awal akan mengelola 1.000 paket terlebih dahulu secara bertahap,” paparnya.

Terkait distribusi ke SDN Labuan 3, Haryanto menyebutkan bahwa penyalurannya kini diserahkan kepada SPPG Banyu Mekar, dengan mempertimbangkan kesiapan dan kapasitas produksi pihak dapur tersebut.

“Untuk SDN Labuan 3 ini diserahkan ke pihak dapur Banyu Mekar terkait kesanggupannya,” tutup Haryanto.

Sebelumnya diberitakan, Kepala SDN Labuan 3, Aat Supriatna, S.Pd., mengaku situasi ini sempat membuat pihak sekolah kebingungan. Ia tak menyangka distribusi MBG bisa terhenti secara mendadak.

“Iya betul, kami juga sempat bingung. Anak-anak sudah menunggu, tapi makanan tidak datang. Ternyata mungkin ada miskomunikasi,” ujarnya.

Belakangan diketahui, penyebabnya adalah berakhirnya kerja sama dengan SPPG Labuan Mandiri, pihak yang selama ini memasok MBG ke sekolah tersebut. Informasi itu sebenarnya sudah disampaikan, namun terjadi kesalahpahaman mengenai kelanjutan distribusi.

Aat mengira, setelah kontrak dengan pihak lama berakhir, pengiriman akan langsung dilanjutkan oleh dapur baru, SPPG Banyu Mekar. Nyatanya, hal itu belum terjadi karena nota kesepahaman (MoU) dengan pihak baru belum ditandatangani.

“Mereka sudah pamit sebelumnya, bilang MoU selesai hari Senin. Saya kira yang baru sudah siap kirim. Anak-anak sudah menunggu, tapi tidak datang sampai hari ini,” tuturnya. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama