Siap Hadapi Situasi Darurat, Ratusan Pelajar di Banten Ikuti Pelatihan Dasar SAR,

MenaraToday.Com - Pandeglang : 

Pagi itu, suasana di Kampus Alfiah Murokah Indonesia (AMI), Menes, Kabupaten Pandeglang, Bnten, terasa berbeda. Ratusan pelajar dan mahasiswa tampak sigap mengikuti arahan instruktur. Helm, tali, hingga perlengkapan penyelamatan menjadi bagian dari keseharian mereka selama tiga hari terakhir.

Sebanyak 100 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Banten berkumpul dalam satu tujuan: belajar menjadi relawan tangguh menghadapi bencana. Melalui Pelatihan Dasar SAR yang digelar Forum Potensi SAR Banten sejak 3 hingga 5 April 2026, mereka tidak hanya ditempa secara fisik, tetapi juga mental dan kepedulian sosial.

Di bawah terik matahari, para peserta bergantian mempraktikkan teknik evakuasi korban. Ada yang belajar mengevakuasi korban dari ketinggian melalui vertical rescue, ada pula yang berlatih penyelamatan di air. Di sudut lain, peserta tampak serius mengikuti simulasi penanganan korban gigitan ular hingga kebakaran.

Pelatihan ini memang dirancang menyeluruh. Mulai dari Medical First Responder (MFR), Snake Rescue, Fire Rescue, hingga Water Rescue, semua diberikan agar peserta siap menghadapi berbagai kemungkinan terburuk.

Ketua Pokja Relawan Banten, Lulu Jamaludin, menyebut wilayah Banten sebagai daerah dengan kerentanan bencana yang tinggi dan beragam.

“Banten ini bisa dikatakan wilayah multi bencana. Semua jenis bencana memungkinkan terjadi, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, hingga potensi gas berbahaya dan kecelakaan air,” ujarnya. Senin (6/4/2026).

Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Banten kerap dihadapkan pada berbagai bencana, mulai dari banjir hingga gempa dan longsor. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan yang tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga masyarakat, terutama generasi muda.

Di sinilah pentingnya pelatihan seperti ini. Bagi Lulu, para peserta yang hadir bukan sekadar peserta biasa, melainkan cikal bakal relawan masa depan.

“Membentuk generasi muda yang peduli dan tangguh terhadap kebencanaan sangat penting untuk memperkuat ketahanan daerah,” katanya.

Lebih dari sekadar pelatihan teknis, kegiatan ini juga menjadi ruang pembentukan karakter. Para peserta diajak memahami arti solidaritas, kerja sama, dan kepedulian terhadap sesama.

Siti Nabilah Ilmia Wati, salah satu peserta, merasakan langsung pengalaman tersebut. 

Mahasiswi asal Kabupaten Serang dari Universitas Bina Bangsa (UNIBA) ini mengaku pelatihan yang diikutinya memberikan perspektif baru tentang kesiapsiagaan.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat. Kami tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan,” ujarnya.

Baginya, pengalaman ini bukan hanya soal menambah keterampilan, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat

“Jadi lebih paham bagaimana cara menolong korban dan menghadapi situasi darurat. Ini juga melatih kepedulian kami terhadap sesama,” katanya.

Selama pelatihan, para peserta juga mendapatkan pembekalan dari berbagai pihak, mulai dari organisasi SAR hingga instansi seperti TNI, Polri, Basarnas, Damkar, dan BPBD Provinsi Banten. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama.

Tak hanya itu, para peserta juga dilatih kemampuan penting lainnya, seperti manajemen posko, komunikasi darurat, hingga teknik evakuasi yang aman dan cepat. 

Keterampilan ini diharapkan dapat diterapkan tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Di akhir pelatihan, lelah yang terpancar dari wajah para peserta seolah terbayar dengan pengalaman dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Mereka pulang bukan hanya sebagai pelajar atau mahasiswa, tetapi sebagai individu yang lebih siap menghadapi situasi darurat.

Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa di tengah ancaman bencana yang selalu mengintai, harapan tetap ada lahir dari generasi muda yang terlatih, peduli, dan siap menjadi garda terdepan saat dibutuhkan.

Untuk diketahui, total peserta yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 120 peserta. Dengan prosentase dari Kabupaten Pandeglang 60 persen. Sisanya dari kota dan Kabupaten lainnya di Banten. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama