MenaraToday.Com - Pandeglang :
Langkah kaki itu datang tanpa tergesa. Menyusuri jalan panjang dari Desa Kanekes, rombongan masyarakat Baduy berjalan kaki, menapaki tradisi yang telah diwariskan turun-temurun. Seba Baduy bukan sekadar perjalanan, melainkan peristiwa budaya yang menyimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dan alam.
Namun, saat sebagian rombongan singgah di Pendopo Kabupaten Pandeglang, suasana terasa berbeda. Tak banyak pejabat yang hadir menyambut. Yang tampak, justru perwakilan dari Dinas Pariwisata setempat yang menerima kedatangan mereka.
Kepala Dinas Pariwisata Pandeglang, Rahmat Zultika, tak menampik kondisi tersebut. Ia membenarkan bahwa rombongan Seba Baduy di Pandeglang hanya dijamu oleh dinasnya. Menurutnya, Bupati dan Wakil Bupati tengah memiliki agenda lain pada waktu yang bersamaan sehingga tidak dapat hadir langsung.
“Memang hanya kami yang menyambut. Pimpinan daerah sedang ada kegiatan lain,” ujar Rahmat. Sabtu (25/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa Pandeglang bukan lokasi utama dalam prosesi Seba Baduy. Untuk informasi yang menjadi inti pembahasan atau pesan adat dalam kegiatan tersebut, ia menyarankan agar dikonfirmasi kepada Pemerintah Daerah Lebak.
“Kalau terkait isi atau hal-hal yang menjadi pembahasan dalam Seba Baduy, sebaiknya ke Pemda Lebak. Karena Pandeglang hanya bagian dari rangkaian perjalanan,” jelasnya.
Memang, perjalanan ini tidak berhenti di Pandeglang. Dari Kanekes, langkah-langkah itu terus berlanjut menuju Pendopo Gubernur Banten. Pandeglang hanyalah salah satu titik singgah, tempat di mana sebagian tokoh adat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Namun lebih dari sekadar perjalanan fisik, Seba Baduy membawa titipan yang tak lekang oleh waktu. Dalam kesempatan itu, Rahmat menyampaikan pesan yang dibawa masyarakat Baduy, sebuah pengingat agar alam tetap dijaga.
“Acaranya jam 08.00 wib sampe jam 09.30 wib. Mereka menitipkan pesan supaya hutan, gunung, sungai, termasuk badak, tetap dijaga kelestariannya agar tidak menimbulkan bencana,” tuturnya.
Pesan tersebut sederhana, tetapi mendasar. Alam, bagi masyarakat Baduy, bukan hanya ruang hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Kerusakan alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia.
Di tengah sorotan soal minimnya kehadiran pejabat, pesan itu justru menjadi hal yang paling lantang. Bahwa yang terpenting dari Seba Baduy bukanlah seberapa ramai penyambutan, melainkan seberapa jauh pesan itu didengar dan dijaga.
Dan dari langkah-langkah sunyi yang menempuh jarak jauh itu, masyarakat Baduy kembali mengingatkan, menjaga alam bukan pilihan, melainkan keharusan.
Sebelumnya diberitakan, Pelaksanaan tradisi tahunan Seba Baduy di Kabupaten Pandeglang pada Sabtu (25/5/2026), menuai sorotan. Agenda adat yang sarat makna ekologis dan sosial ini justru berlangsung tanpa kehadiran pimpinan daerah, baik Bupati maupun Wakil Bupati. Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari masyarakat terkait komitmen pemerintah daerah terhadap masyarakat adat.
Seba Baduy merupakan ritual penting bagi masyarakat Kanekes yang tidak hanya mengandung nilai spiritual, tetapi juga menjadi sarana komunikasi antara masyarakat adat dan pemerintah. Dalam tradisi ini, kunjungan ke Pandeglang memiliki arti simbolik sebagai bentuk “titipan” wilayah yang harus dijaga bersama, khususnya dalam menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan lingkungan.
Namun, dalam pelaksanaannya tahun ini, kegiatan yang telah terjadwal tersebut hanya dihadiri oleh satu instansi, yakni Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang. Minimnya keterlibatan lintas sektor dinilai mencerminkan lemahnya pemahaman pemerintah terhadap makna strategis Seba Baduy.
Sejumlah kalangan menilai, absennya pejabat daerah menunjukkan terputusnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat adat. Padahal, kehadiran pemerintah dalam tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan administratif dalam menjaga amanat adat. (ILA)
