Terkendala Biaya Pengobatan, Balita Penderita Tumor Ganas Asal Cigeulis Butuh Bantuan Para Dermawan

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Di sebuah rumah sederhana di Kampung Simpang, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, tangis lirih sesekali memecah kesunyian. Dari dalam, seorang balita bernama Farhan (3) terbaring lemah. 

Tatapannya kosong, tubuhnya tak lagi seaktif dulu. Di wajah kecilnya, sebuah benjolan besar di sisi kiri terus tumbuh menjadi tanda perjuangan yang belum menemukan ujungnya.

Empat bulan lalu, semuanya tampak biasa saja. Ibunya, Nia, mengira benjolan kecil di wajah anaknya hanya akibat benturan ringan. Tak ada yang menyangka, benjolan itu justru membesar dengan cepat, mengubah hari-hari ceria Farhan menjadi deretan rasa sakit dan ketidakpastian.

“Awalnya kecil, seperti bekas jatuh. Tapi dalam waktu satu bulan langsung besar,” tutur Nia dengan suara bergetar. Selasa (7/5/2026).

Sejak saat itu, kondisi Farhan perlahan menurun. Demam kerap datang, membuatnya rewel dan sulit beristirahat. Langkah kecilnya yang dulu lincah kini terhenti, ia tak lagi mampu berjalan seperti anak seusianya.

Di tengah kondisi itu, harapan keluarga sempat menyala. Farhan telah dibawa ke beberapa rumah sakit, mulai dari RSUD Labuan hingga RSUD Tangerang. Dari sana, dokter menyarankan rujukan ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap di Jakarta, seperti RS Dharmais.

Namun, harapan itu kembali tertahan oleh kenyataan yang tak mudah dilawan, keterbatasan ekonomi.

Ayah Farhan, Udin, seorang nelayan dengan penghasilan tak menentu, hanya bisa menatap kondisi anaknya dengan rasa cemas yang tak terucap. Untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka harus berjuang, apalagi membiayai perjalanan dan kebutuhan hidup selama pengobatan di luar daerah.

“Kalau lagi panas, paling cuma dikasih obat warung. Kami ingin berobat, tapi tidak punya biaya,” ujarnya pelan.

Meski terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan, biaya non-medis seperti transportasi, penginapan, dan konsumsi menjadi beban yang tak mampu mereka tanggung. Bantuan dari pemerintah pun belum kunjung datang.

Di sudut rumah itu, Nia setia mendampingi Farhan. Tangannya tak pernah lepas mengelus tubuh anaknya, seolah ingin mengurangi rasa sakit yang tak terlihat. Di matanya tersimpan harapan sederhana, melihat Farhan kembali tersenyum dan berlari.

“Saya hanya ingin anak saya sembuh,” ucapnya lirih.

Kepala Dusun setempat, Ade Komarudin, mengatakan bahwa pihaknya telah berupaya mengoordinasikan kondisi Farhan dengan pemerintah desa hingga kecamatan. Sejumlah relawan kemanusiaan juga mulai bergerak, mencoba membuka jalan bagi pengobatan bocah tersebut.

Di tengah segala keterbatasan, harapan itu masih ada. Harapan bahwa akan ada tangan-tangan yang terulur, membantu Farhan mendapatkan perawatan yang layak.

Di wajah kecilnya yang kini dipenuhi luka, tersimpan harapan besar, untuk kembali menjadi anak yang bisa bermain, tertawa, dan memanggil ibunya tanpa rasa sakit. Dan bagi Farhan, waktu adalah sesuatu yang tak bisa menunggu terlalu lama. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama