MenaraToday.Com - Pandeglang :
Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di salah satu sudut Kecamatan Labuan. Pagi itu, puluhan siswa sekolah dasar tampak bersiap dengan penuh percaya diri. Ada yang merapikan peci, ada pula yang mengulang hafalan dalam hati. Mereka datang bukan sekadar untuk berlomba, tetapi membawa semangat belajar dan kecintaan pada Al-Qur’an dalam ajang Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI). Selasa (5/5/2026), bertempat di SD Negeri Kalang Anyar 01, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten.
Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan bagi 25 sekolah dasar negeri dan satu sekolah swasta di Kecamatan Labuan. Di bawah koordinasi Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Islam (KKGPAI), seluruh sekolah berpartisipasi mengirimkan siswa terbaiknya.
Ahmad Suhaimi, S.Pd.I., Ketua KKGPAI Kecamatan Labuan yang juga Kepala SDN Sukamaju 1, menyebut kegiatan ini sebagai lebih dari sekadar perlombaan.
“Ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak belajar mencintai Al-Qur’an sejak dini dan berani tampil di depan umum,” tuturnya.
Tiga cabang lomba menjadi panggung utama, yakni Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Hifzil Quran (MHQ), dan dai cilik. Dari setiap sekolah, tiga peserta dikirimkan, sehingga total sekitar 75 siswa ikut ambil bagian.
"Mereka tampil dengan kemampuan terbaik, mulai dari membaca ayat suci dengan tartil, menghafal dengan lancar, hingga menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui ceramah," jelasnya.
Di balik suasana kompetitif, tersimpan proses panjang pembinaan di sekolah masing-masing. Para guru dengan sabar membimbing, melatih pelafalan, memperbaiki tajwid, hingga menanamkan rasa percaya diri pada siswa. Hasilnya terlihat di atas panggung, anak-anak yang tampil dengan penuh keyakinan, meski usia mereka masih belia.
Menariknya, lanjut Suhaemi, sistem penilaian dalam lomba ini tidak menggunakan sistem gugur. Para juri memberikan penilaian secara independen, yang kemudian dikalkulasikan untuk menentukan nilai tertinggi.
"Demi menjaga objektivitas, identitas sekolah peserta pun tidak disebutkan saat penilaian berlangsung bahkan tim juri penilai pun diambil dari luar kecamatan untuk memastikan hasil penilaian berjalan dengan fair (adil)," ujarnya.
Kegiatan ini, masih kata Suhaemi, sejalan dengan semangat penguatan pendidikan karakter yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi bersama Kementerian Agama Republik Indonesia.
"Tujuannya jelas, menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam nilai-nilai keagamaan," jelasnya.
Bagi para peserta, panggung Pentas PAI ini menjadi langkah awal menuju jenjang yang lebih tinggi. Setiap cabang lomba akan memilih satu peserta terbaik untuk mewakili Kecamatan Labuan di tingkat kabupaten. Dari sana, perjalanan bisa berlanjut hingga ke tingkat provinsi.
"Alhamdulillah untuk Kecamatan Labuan sudah ada yang berhasil masuk ke tingkat nasional, semoga di angkatan lomba kali ini ada juga Yang berhasil menembus kesana," ucapnya.
Namun lebih dari itu, ada kebanggaan tersendiri yang dirasakan para penyelenggara. Kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan dari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan panitia lokal, membuat kegiatan ini berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Semua sudah terbagi tugasnya, dari teknis hingga konsumsi. Kami bisa fokus pada kegiatan inti. Ini bentuk kerja sama yang luar biasa,” ungkap Ahmad Suhaimi.
Di akhir hari, mungkin hanya ada beberapa nama yang keluar sebagai juara. Tetapi bagi puluhan siswa yang hadir, pengalaman ini menjadi bekal berharga. Mereka pulang tidak hanya membawa hasil lomba, tetapi juga keberanian, pengalaman, dan yang terpenting cinta yang semakin tumbuh pada Al-Qur’an.
Di Labuan, melalui langkah-langkah kecil di panggung Pentas PAI, benih generasi Qur’ani tengah ditanam dengan harapan akan tumbuh kuat di masa depan. (ILA)
