Empat Hari Berdesakan Di Mina, Jamaah Haji Asal Pandeglang Keluhkan Kondisi Tenda

MenaraToday.Com - Mina, Arab Saudi :

Di tengah kekhusyukan menjalankan rangkaian ibadah haji, sejumlah jamaah asal Kabupaten Pandeglang, Banten, justru dihadapkan pada persoalan yang menguras kenyamanan dan kondisi fisik mereka. Bukan soal makanan atau transportasi, melainkan kondisi tenda tempat mereka beristirahat selama berada di Mina.

Bagi jutaan umat Islam yang menunaikan ibadah haji, Mina merupakan salah satu lokasi penting dalam pelaksanaan puncak ibadah. Di tempat inilah para jamaah menghabiskan beberapa hari untuk bermalam dan menjalankan sejumlah rangkaian ibadah. Namun bagi sebagian jamaah asal Pandeglang, hari-hari di Mina terasa berat karena kondisi tenda yang dinilai terlalu padat.

Seorang jamaah yang enggan disebutkan namanya menceritakan, tenda yang ditempatinya berukuran sekitar 20 x 40 meter. Tenda tersebut dihuni hampir 200 jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.

"Kalau dilihat ukurannya memang besar, tapi ketika diisi oleh 165 orang rasanya sempit sekali. Bahkan, ada yang diisi oleh lebih dari 200 jamaah, tergantung kloternya. Untuk bergerak saja susah, apalagi kalau semua jamaah sedang berada di dalam tenda," tuturnya, Sabtu (30/5/2026).

Menurutnya, kepadatan penghuni membuat waktu istirahat menjadi tidak maksimal. Padahal, kondisi fisik yang prima sangat dibutuhkan untuk menjalani seluruh rangkaian ibadah haji yang cukup menguras tenaga.

"Jumlah jamaah tergantung kloter, bahkan yang dari lampung disatukan antara laki-laki dan wanita," ungkapnya.

Tak hanya soal sempitnya ruang, kebersihan tenda juga menjadi sorotan. Ia mengaku masih menemukan sejumlah perilaku yang mengganggu kenyamanan bersama, mulai dari kebiasaan meludah sembarangan hingga kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan tenda.

"Kondisinya jadi kurang nyaman. Banyak orang berkumpul dalam satu tempat, sementara kesadaran menjaga kebersihan belum semuanya sama," ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan jamaah lainnya asal Pandeglang. Menurutnya, kondisi tenda yang padat membuat sebagian jamaah kesulitan mendapatkan ruang yang cukup untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas ibadah yang melelahkan.

"Kalau siang hari masih bisa keluar tenda, tapi ketika malam semua jamaah masuk, terasa sekali sesaknya. Banyak yang tidur berhimpitan karena ruangnya terbatas," katanya.

Meski demikian, ia mengaku para petugas tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada jamaah. Hanya saja, keterbatasan kapasitas tenda membuat kenyamanan jamaah tidak bisa maksimal.

"Kami memahami jamaah memang banyak, tetapi mudah-mudahan ke depan ada penambahan kapasitas atau pengaturan yang lebih baik supaya jamaah bisa istirahat dengan nyaman," ujarnya.

Hal senada diungkapkan jamaah lainnya. Ia menilai kondisi tenda yang terlalu padat berpotensi memengaruhi kesehatan jamaah, terutama mereka yang berusia lanjut.

"Yang kasihan itu jamaah lansia. Mereka butuh istirahat yang cukup. Kalau suasananya terlalu padat dan sulit tidur, tentu fisik mereka bisa cepat lelah," katanya.

Meski mengeluhkan kondisi tenda di Mina, para jamaah menegaskan bahwa pelayanan lain yang diterima selama berada di Tanah Suci cukup memuaskan. Fasilitas transportasi, distribusi makanan, hingga kebutuhan konsumsi harian dinilai berjalan baik.

"Kalau kendaraan bagus, makanan juga sangat cukup. Bahkan snack tidak pernah kekurangan. Jadi sebenarnya pelayanan yang lain sangat baik, hanya persoalan tenda di Mina yang menurut kami perlu diperbaiki," kata salah seorang jamaah.

Keluhan itu bukan tanpa alasan. Berbeda dengan Arafah yang hanya ditempati selama sehari saat pelaksanaan wukuf, jamaah harus bermalam di Mina hingga empat hari. Waktu yang cukup panjang membuat kualitas tempat istirahat menjadi kebutuhan penting.

"Di Arafah masih bisa ditoleransi karena cuma satu hari. Kalau di Mina sampai empat hari. Kalau tidak bisa istirahat dengan baik, fisik bisa turun. Padahal haji itu ibadah yang sangat mengandalkan kekuatan fisik," tuturnya.

Di balik lautan tenda putih yang setiap tahun menampung jutaan jamaah dari berbagai negara, harapan sederhana para jamaah asal Pandeglang itu sebenarnya tidak muluk. Mereka hanya ingin memiliki ruang istirahat yang lebih layak agar dapat menjalankan ibadah dengan kondisi tubuh yang tetap bugar.

Mereka berharap keluhan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara haji, sehingga pada musim haji mendatang para jamaah Indonesia dapat menjalani hari-hari di Mina dengan lebih nyaman, tanpa harus berdesakan di tengah padatnya tenda yang menjadi tempat bernaung selama puncak ibadah berlangsung. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama