MenaraToday.Com - Pandeglang :
Suara gemericik air Sungai Ci Surog terdengar bersahutan dengan tawa anak-anak yang berenang di sela aliran air jernih. Di bawah rindangnya pepohonan, puluhan warga tampak duduk santai menikmati kopi panas dan gorengan, sementara sebagian lainnya memilih “ngeueum” atau berendam menikmati dinginnya air pegunungan.
Begitulah suasana wisata pemandian alami Badudun di Kampung Bantar Panjang, Desa Banyu Biru, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, saat libur Lebaran Idul Adha 1447 Hijriah.
Bagi sebagian warga Pandeglang, Badudun bukan sekadar tempat wisata. Tempat ini sudah menjadi ruang berkumpul keluarga saat musim liburan tiba. Murah, dekat, dan suasananya masih alami menjadi alasan utama pengunjung terus berdatangan.
Asti (27), warga Kecamatan Panimbang, misalnya. Bersama keluarga dan tetangganya, ia hampir selalu menyempatkan diri datang ke Badudun setiap kali musim libur panjang.
Di pinggir sungai, sambil mengawasi anak-anak bermain air, Asti bercerita bahwa Badudun menjadi pilihan karena ramah di kantong.
“Selain terjangkau jaraknya, tarif masuknya juga murah banget Rp5 ribu doang untuk 2 orang, motor mah gak diminta,” kata Asti, Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, suasana di Badudun terasa nyaman karena pengunjung tidak dibebani aturan yang menyulitkan. Bahkan membawa makanan dari luar pun diperbolehkan.
“Standar aja harga minuman dan makanannya juga. Kopi item di sini cuma Rp4 ribu segelas, gorengan Rp1 ribu sampai Rp2 ribu satunya. Bawa makanan dari luar juga nggak dilarang, nyaman lah,” ujarnya sambil tersenyum.
Tak hanya warga sekitar, Badudun juga menjadi tujuan para perantau yang pulang kampung saat liburan. Salah satunya, Irma, pengunjung asal Bogor, Jawa Barat, yang mengaku selalu datang ke tempat itu demi menyenangkan anak-anaknya.
Menurutnya, Badudun punya daya tarik tersendiri dibanding wisata modern. Selain bermain air, anak-anak juga bisa belajar mengenal alam dan bendungan yang ada di lokasi tersebut.
“Karena anak-anak saya menyukai tempat wisata ini, makanya setiap kali liburan baik Idul Fitri ataupun liburan lainnya pasti ke sini. Selain anak-anak suka, juga ada edukasinya, mereka jadi tahu yang namanya bendungan,” ungkapnya.
Di sudut lain kawasan wisata, aroma kopi hitam dan gorengan hangat menyeruak dari warung-warung sederhana milik pedagang lokal. Libur panjang kali ini menjadi berkah tersendiri bagi mereka.
Jupe, salah seorang pedagang, mengaku penghasilannya meningkat sejak hari pertama Idul Adha. Meski keramaian biasanya baru terasa mulai siang hingga sore, jumlah pengunjung tetap membuat dagangannya laris.
“Alhamdulillah lumayan rame, kemarin apalagi pas hari rayanya banyak pengunjung yang datang dapet Rp500 ribu mah. Meski mulai siang hingga sore hari ramainya, namun cukup berdampak pada pendapatan,” tuturnya.
Bagi Jupe, menjaga harga tetap murah adalah cara agar pengunjung merasa nyaman dan mau kembali lagi ke Badudun.
“Saya mah standar aja ngasih harganya. Pop Mie Rp. 10 ribu, kopi Rp. 4 ribu, es kopi Rp. 5 ribu, cilok Rp. 1 ribu. Biar nggak pada kapok datang ke sini, biar mereka balik lagi ke sini. Kan kalau Badudun rame, kita-kita juga para pedagang di sini yang kecipratan,” tandasnya.
Pengelola wisata, Abdullah, menjelaskan, Badudun sempat sepi dan ditutup sementara karena ada longsor, tetapi sekarang sudah mulai ramai kembali.
"Untuk tarif kebersihan dikenakan lima ribu rupiah untuk dua orang, sedangkan parkir motor gratis, untuk mobil Rp. 10 ribu karena tanahnya milik warga. Momentum Lebaran biasanya ramai jadi tarif yang dikenakan juga itu untuk yang jaga dan kebersihan aja," tandasnya. (ILA)
