MenaraToday.Com - Pandeglang :
Riuh sorak orang tua dan pelatih mengiringi langkah puluhan pesepak bola cilik yang berlari mengejar bola di Stadion Badak, Pandeglang, Minggu (31/5/2026). Di bawah terik matahari, mereka bukan sekadar bertanding memperebutkan kemenangan, tetapi juga menapaki jalan menuju mimpi yang lebih besar.
Sebanyak 18 tim dari berbagai Sekolah Sepak Bola (SSB) ambil bagian dalam turnamen perdana Piala Presiden 2026 Regional Pandeglang yang digelar oleh PSSI Kabupaten Pandeglang. Kompetisi ini menjadi panggung bagi talenta-talenta muda daerah untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sejak usia dini.
Di lapangan, semangat para pemain usia 10 dan 12 tahun terlihat begitu menggebu. Mereka berlari tanpa lelah, saling berebut bola, dan menunjukkan teknik permainan yang terus berkembang berkat latihan rutin di sekolah sepak bola masing-masing.
Ketua Pelaksana Piala Presiden 2026, Budi Handayani, M.Pd., menilai turnamen usia dini bukan hanya soal mencari juara, tetapi juga membangun karakter, mental bertanding, dan kecintaan anak-anak terhadap sepak bola sejak usia muda.
“Anak-anak membutuhkan ruang kompetisi yang sehat untuk mengembangkan kemampuan mereka. Selama ini mereka rutin berlatih di SSB, tetapi kemampuan itu harus diuji melalui pertandingan. Dari sini kita bisa melihat perkembangan teknik, mental, disiplin, dan sportivitas mereka,” kata Budi.
Ia berharap kompetisi seperti ini dapat berlangsung secara berkelanjutan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Kalau kompetisi kelompok umur terus berjalan, pembinaan akan lebih terarah. Kami ingin menciptakan ekosistem sepak bola yang baik di Pandeglang sehingga ke depan lahir pemain-pemain yang mampu berprestasi tidak hanya di tingkat kabupaten, tetapi juga provinsi bahkan nasional,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari para orang tua yang turut mendampingi putra-putra mereka sepanjang pertandingan. Salah satunya, Rahmat (42), yang mengaku bangga melihat anaknya berkesempatan tampil dalam turnamen resmi tingkat kabupaten.
“Sebagai orang tua tentu senang melihat anak-anak punya wadah untuk menyalurkan bakatnya. Mereka jadi lebih semangat berlatih karena ada tujuan yang ingin dicapai. Selain itu, mereka juga belajar disiplin, kerja sama tim, dan menghargai lawan,” katanya.
Menurut Rahmat, turnamen usia dini perlu lebih sering digelar agar anak-anak memiliki pengalaman bertanding yang cukup dan tidak hanya berlatih di lapangan latihan.
“Kalau sering ada kompetisi, anak-anak akan semakin termotivasi. Kami berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi agenda rutin setiap tahun karena manfaatnya sangat besar bagi perkembangan mereka,” tuturnya. (ILA)
