Status Facebook Berujung Petaka, Guru MTs Di Patia Diduga Jadi Korban Penganiayaan

MenaraToday.Com - Pandeglang :

Suasana di Desa Surianeun, Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, Banten, mendadak ramai pada Senin (11/05/2026). Sebuah cekcok yang disebut berawal dari status Facebook berujung dugaan aksi penganiayaan terhadap seorang guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) bernama Santalia.

Peristiwa itu menyita perhatian warga setempat. Apalagi, nama Santalia bukan hanya dikenal sebagai tenaga pendidik, tetapi juga disebut terlibat sebagai Person In Charge (PIC) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patia Mandiri.

Awalnya, persoalan itu diduga dipicu unggahan status di media sosial Facebook. Seorang warga berinisial MDI (44) merasa tulisan dalam akun tersebut menyindir dirinya. Perasaan itu muncul lantaran sebelumnya ia sempat mengkritik menu MBG yang disalurkan dari dapur tempat Santalia terlibat mengelola.

“Saya merasa status Facebook itu menyinggung saya,” ujar MDI saat memberikan penjelasan.

Kecurigaan itu kemudian dibawa ke pertemuan langsung. Saat bertemu Santalia, MDI mengaku mencoba memastikan maksud dari status tersebut. Namun percakapan keduanya justru memanas.

Menurut MDI, Santalia menjawab dengan nada yang dianggap menantang.

“Naon dia nanya’an status Facebook aing, pan dia anu mimitian,” tutur MDI menirukan ucapan Santalia, yang berarti, “Apa kamu menanyakan status Facebook saya, kan kamu yang memulai.”

Perdebatan pun tak terhindarkan. Ketegangan di antara keduanya disebut memancing emosi pihak lain yang berada di lokasi. MDI mengaku, tanpa diduganya, adik kandungnya berinisial U tiba-tiba melayangkan pukulan ke arah Santalia.

“Mungkin karena melihat saya sedang beradu mulut,” kata MDI. Jumat (15/5/2026).

Meski demikian, MDI menegaskan insiden tersebut tidak berkaitan langsung dengan penyaluran program MBG sebagaimana ramai diperbincangkan di media sosial.

“Ini murni persoalan pribadi, bukan soal penyaluran MBG,” tegasnya.

Ia juga membantah tudingan yang menyebut dirinya mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap Santalia jika persoalan itu dibawa ke ranah hukum.

Menurutnya, kabar tersebut justru telah merugikan dirinya dan mencemarkan nama baiknya di tengah masyarakat.

“Saya tidak merasa mengucapkan ancaman seperti itu. Kalau memang ada yang menuduh, harus bisa dibuktikan,” ucap MDI.

Ia bahkan berencana melaporkan dugaan fitnah tersebut ke Polres Pandeglang.

Di sisi lain, Santalia yang merasa menjadi korban membenarkan adanya dugaan ancaman tersebut saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.

Kasus ini pun menjadi perhatian warga setempat. Di tengah derasnya penggunaan media sosial, persoalan yang bermula dari unggahan status kini berujung pada konflik nyata yang menyeret banyak pihak. (ILA)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama