Keranjang Rindu dari Porsea: Kisah Kutukan Pulau Simardan dan Peristirahatan Terakhir Sang Ibu di Bandar Pulau

Penulis : Suheri (Heri Terajana)

Legenda kedurhakaan Si Mardan meninggalkan dua jejak fisik nyata di tanah Asahan. Pertama, Pulau Simardan di Kota Tanjungbalai, yang diyakini sebagai jelmaan kapal megah yang mengeras menjadi daratan akibat kutukan.

Kedua, Tugu Parhorasan (Tugu Horas) yang berdiri sunyi di Desa Padang Pulau, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan.

Kisah bermula dari tanah hulu di Porsea, Toba. Seorang ibu membesarkan Mardan, sang putra tanah Batak, dengan peluh dan doa. Beranjak dewasa, Mardan merantau ke hilir menuju bandar perdagangan Kuala Asahan (Tanjungbalai) demi mengubah nasib.

Bertahun-tahun tanpa kabar, sang ibu yang dirundung rindu memutuskan menyusul dengan berjalan kaki membelah hutan Bukit Barisan.

Sesuai tradisi barter masa lalu, ia memikul keranjang bambu berisi sayur-mayur dari Porsea untuk ditukarkan dengan lauk-pauk berupa ikan di Tanjungbalai, sekaligus sebagai bekal di jalan.

Sesampainya di Tanjungbalai, sang ibu mendapati Mardan telah sukses menjadi saudagar kaya raya yang beristrikan bangsawan. Demi menjaga gengsi, Mardan tega berbohong tentang asal-usulnya. Ketika wanita tua berpakaian lusuh itu datang memeluknya, Mardan menepisnya dengan kasar dan menendang keranjang bawaannya hingga sayur-mayur itu berserakan. Mardan berteriak lantang:

"Ndang i, ndang dongan ni dainang i!" (Bukan dia, dia bukan ibuku!)

Hancur lebur, sang ibu melangkah surut ke sampannya. Sembari menatap langit, ia mengucapkan ratapan terakhir yang menjadi sumpah maut sekaligus penutup garis takdir anaknya:

"Anggo tung ima balosmu, mulak ma au tu Porsea. Sippul ma hangoluanmu dison!" (Jika memang begini balasanmu, kembalilah aku ke Porsea. Selesailah hidupmu di sini!)

Seketika badai dahsyat menghantam dan menenggelamkan kapal megah Mardan hingga membatu. Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, sebelum menjadi daratan, Pulau Simardan diyakini masih berupa perairan tempat kapal-kapal berlabuh. Lokasinya dipercaya berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Sentosa, Kelurahan Pulau Simardan, Kota Tanjungbalai.

Seiring berjalannya waktu, wilayah akibat kutukan kapal Mardan ini tumbuh menjadi sebuah pemukiman yang kini disebut Pulau Simardan.

Ibu yang malang itu kemudian berjalan kaki pulang menuju Porsea. Namun, batin yang remuk dan fisik yang kelelahan membuat raganya runtuh. Beliau mengembuskan napas terakhirnya di tepi jalan. Lokasi spesifik wafatnya beliau berada di Kampung Melati, Desa Padang Pulau, Kecamatan Bandar Pulau, Kabupaten Asahan. 

Jenazahnya yang telantar kala itu hanya sempat ditutupi dedaunan hutan.

Peristiwa pilu ini melahirkan tradisi kuno yang bertahan hingga kini. Setiap musafir yang melintasi jalur tersebut akan memetik selembar daun hijau (daun rata-rata) dan melemparkannya ke titik itu sembari berucap: "Horas Ma Boru Parhorasan."

Tepat di lokasi makam dan tempat wafatnya sang ibu di Kampung Melati, Desa Padang Pulau tersebut, kini berdiri Tugu Parhorasan (Tugu Horas). Prasasti batu tersebut memahat utuh dialog kepedihan masa lalu, seolah menjadi peringatan keras bagi seluruh anak rantau: seberapa tinggi pun takhta yang kau raih, jangan pernah menginjak rahim yang telah melahirkan mu (Penulis merupakan konten kreator sejarah muatan lokal Asahan)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama