Saat INALUM Bertemu Hutan Toba Dan Mangrove Batu Bara
Menulis Jejak Untuk Bumi
Oleh : Ibnu Hajar
Bising mesin peleburan aluminium di Kuala Tanjung terdengar hingga ke luar pagar pabrik. Tapi di luar suara itu, PT Indonesia Asahan Aluminium [INALUM] sedang mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih sunyi: menanam.
Bukan menanam saham atau pabrik baru. Melainkan bibit kemenyan di lereng Danau Toba, mangrove di pesisir Batu Bara dan kesadaran baru tentang bagaimana industri harus bertahan.
Pertanyaan yang diajukan INALUM hari ini sederhana tapi mengusik: ketika pabrik terus berproduksi, apa yang tersisa untuk 20 atau 30 tahun ke depan? Tanpa hutan yang menahan debit air Danau Toba, tanpa pantai yang ditopang mangrove, rantai pasok energi dan produksi itu sendiri bisa runtuh.
Dari Kepatuhan ke Pencegahan
INALUM bukanlah perusahaan tambang. Mereka mengolah bauksit menjadi aluminium, bukan menggali langsung dari perut bumi. Karena itu, logika konservasinya berbeda dari mayoritas industri ekstraktif.
Jika perusahaan tambang umumnya masuk dengan skema “Rusak Dulu, Pulihkan Kemudian”, INALUM memilih skema preventif: jaga dulu sebelum rusak.
Pendekatan ini berpayung hukum pada PP No. 70/2009 tentang Konservasi Energi, PP No. 22/2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta Kepmen LHK No. 1375/2025 tentang PROPER. Tapi menurut manajemen, motor penggeraknya bukan hanya regulasi.
“Konservasi merupakan bagian penting dari komitmen INALUM dalam mewujudkan bisnis yang berkelanjutan, Kami berupaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan generasi mendatang,” kata Benny Wiwoho, Direktur Strategic Support & Human Capital INALUM..
Jejak Pertama: Menutup Luka DTA Danau Toba
Bukti paling nyata ada di hulu. Sejak 2018, INALUM telah melakukan reboisasi di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba seluas 2.304 hektare. Capaian tahunan bergerak naik: 400 Hektar pada 2018-2020, 247 Hektar di 2021, 260 Hektar di 2022, 370 Hektar di 2023, lalu 500 Hektar di 2024 dan ditargetkan 500 Ha lagi di 2025.
Di dalam kawasan itu ada Taman Keanekaragaman Hayati Paritohan seluas 4 hektare. Tempat ini berfungsi ganda: bank benih tanaman endemik sekaligus ruang edukasi publik. Sejak 2022, INALUM membudidayakan 1.455 pohon endemik Toba di sana. Rinciannya: 1.300 pohon kemenyian, 90 pohon sampinur, 30 pohon sotul, 110 pohon andalaman, 90 pohon antumurangan, dan 65 pohon suren. (Kehati).
Fasilitasnya tidak sekadar kebun. Ada biopori, sumur resapan, kolam ikan, hingga penangkaran rusa. Tujuannya jelas: mengembalikan fungsi ekologis kawasan hulu yang selama ini jadi penentu debit air danau.
Jejak Kedua: Mengunci Garis Pantai dengan Mangrove
Dari hulu, jejak INALUM turun ke hilir. Di Kabupaten Batu Bara, perusahaan menanam 15.000 bibit mangrove pada 2025 melalui program “Pohon Asuh”. Skemanya berbasis adopsi, sehingga masyarakat, kelompok tani, dan pihak ketiga bisa ikut terlibat langsung.
Capaian 2025 meliputi penanaman oleh KTH Lestari Pesisir di Dusun Kuala Sipare Desa Medang, dukungan ke Himpunan Masyarakat Nelayan Indonesia (HMNI) Batu Bara, serta pengayaan jenis mangrove oleh Kelompok Tani Cinta Mangrove (KTCM) di Desa Perupuk.
Mangrove di sini bukan hiasan. Pantai timur Batu Bara sepanjang 59,9 km adalah jalur migrasi burung air internasional. Data Yayasan Warisan Hidup Sumatera (WHS) mencatat 148.978 individu burung air dan 618 burung terestrial di 53 titik dari Langkat hingga Labuhan Batu.
Di antara mereka ada spesies kritis: 174 ekor Bangau Bluwok, 2.750 Kedidi Besar, 69 Trinil Nordmann, dan 2 Gajahan Timur.
Agar ekosistem itu tidak terganggu, INALUM menjalankan Program Edukasi Publik Burung Migran Air, Ekowisata Bird Watching, dan sosialisasi Peraturan Desa tentang perlindungan burung air bermigrasi. Smelter Kuala Tanjung pun diposisikan sebagai “sahabat burung migran”.
Jejak Ketiga: Memotong Emisi dari Dalam Pabrik
Konservasi INALUM tidak berhenti di luar pagar. Di dalam pabrik, transformasi energi berjalan cepat. Pangsa energi listrik dari PLTA untuk proses produksi aluminium naik dari 94,29% pada 2024 menjadi 95,51% pada 2025.
Langkah teknis lain: penggantian motoruc berbahan bakar biodiesel menjadi motoruc listrik. Dampaknya: pengurangan emisi 4,2 Ton CO² Eq per tahun.
“Upaya ini merupakan wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan nilai yang tidak hanya berdampak bagi bisnis, tetapi juga bagi masyarakat dan lingkungan,” kata Daniel Hutahuruk, Ka-Grup Layanan Strategis INALUM.
Melampaui Slogan
INALUM juga menggarap sisi sosial-ekologis. Program Metode Tani Nusantara sudah diterapkan di 4 lokasi seluas 8 Ha pada 2024 dan diperluas ke seluruh area penanaman di 2025. Hasilnya: produktivitas panen naik lebih dari 3 kali lipat. Sebanyak 41 SMP dibina menjadi Sekolah Peduli Lingkungan, dan 10 Kelompok Masyarakat Peduli Api dibentuk hingga Oktober 2025 untuk mencegah kebakaran di DTA Danau Toba.
Dari Paritohan ke Kuala Sipare, dari PLTA ke smelter, narasinya sama: keberlanjutan bukan kosmetik. Ia syarat hidup.
“Alam bukan hanya bagian dari lingkungan operasional, tetapi juga aset bersama yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” tegas Benny Wiwoho.
Karena pada akhirnya, yang ditulis INALUM hari ini bukan angka di laporan keuangan. Tapi bibit yang tumbuh, air yang tertahan, burung yang kembali singgah, dan emisi yang berkurang. Sebuah jejak yang, jika dijaga, tidak akan terhapus waktu. (**)
