MenaraToday.Com - Pandeglang :
,mPemerintah Desa (Pemdes) Sukamaju, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, angkat bicara terkait keluhan warga Desa Rancatereup, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengenai tumpukan sampah yang menimbulkan bau menyengat di wilayah perbatasan Desa Sukamaju dan Desa Rancateureup. Pihak desa mengakui bahwa persoalan sampah di kawasan tersebut cukup rumit karena melibatkan kebiasaan masyarakat dari berbagai daerah yang masih membuang sampah sembarangan.
Sekretaris Desa (Sekdes) Sukamaju, Tedi Firmansyah, mengatakan titik lokasi yang dikeluhkan warga memang berada di Kampung Sukajaya, Desa Sukamaju. Menurutnya, persoalan tersebut sebenarnya sudah beberapa kali dibahas melalui musyawarah bersama RT dan warga setempat.
"Memang betul titik lokasi berada di Kampung Sukajaya, Desa Sukamaju. Sebelumnya sudah pernah dibahas, bahkan RT dan warga setempat sudah berupaya membersihkan. Namun, persoalan sampah sekarang semakin menjadi dilema, apalagi lokasinya berbatasan langsung dengan desa tetangga," kata Tedi. Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, masalah sampah di Desa Sukamaju bukan hanya terjadi di satu lokasi. Masih terdapat beberapa titik pembuangan liar yang kerap dipenuhi sampah rumah tangga.
"Salah satunya di saluran drainase menuju jalan raya dan di sekitar Pondok Pesantren Abah Sukanta. Saat kami membersihkan bersama warga, banyak ditemukan kantong-kantong sampah berisi kemasan belanja online dengan alamat penerima dari luar Desa Sukamaju, seperti Kalumpang, Badur, Panguseupan, Kadugadung, dan wilayah lainnya," ungkapnya.
Berdasarkan pantauan dilapangan, untuk mengurangi kebiasaan tersebut, pihak desa bahkan memasang beberapa spanduk peringatan dengan kalimat bernada sarkas sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat. Mulai dari spanduk bertuliskan: "Dilarang Keras !!! Buang Sampah Di Area Ini
Kecuali Monyet" hingga "Dilarang Buang Sampah Disini Nyawa Taruhannya, Dibacok Warga Jangan Salahkan Kami"
Selain itu, Tedi mengungkapkan bahwa warga pernah memergoki seseorang membuang sampah dari dalam angkutan kota (angkot). Kejadian tersebut terjadi pada pagi hari saat pelaku melintas di sekitar jembatan dekat SPBU.
"Pernah ada yang melempar plastik berisi sampah dari dalam angkot. Warga yang melihat langsung melapor di grup, kemudian angkot itu dikejar dan sampahnya diminta dimasukkan kembali," ujarnya.
Menurut Tedi, pemasangan spanduk imbauan terbukti cukup efektif. Sejak dipasang, volume sampah di salah satu titik yang sebelumnya sering menumpuk kini mulai berkurang.
"Hanya untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan di wilayah kami. Alhamdulillah, setelah dipasang spanduk peringatan, kondisi sampah di titik tersebut berangsur berkurang," katanya.
Tedi juga menegaskan bahwa sistem pengelolaan sampah di Desa Sukamaju secara umum telah berjalan dan dikoordinasikan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Warga yang terdaftar dalam layanan tersebut juga membayar iuran bulanan untuk biaya pengangkutan sampah.
"Untuk Desa Sukamaju saya pastikan tidak ada persoalan dalam sistem pengelolaan sampah karena kami sudah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. Setiap bulan warga diminta iuran untuk pengangkutan sampah. Sementara untuk persoalan di Kampung Sukajaya, kami akan berkoordinasi dengan RT agar dijadwalkan kegiatan gotong royong melalui program Selasa Bersih atau Jumat Bersih," tegasnya.
Sementara itu, salah seorang warga Perumahan BTN Aswanda Desa Sukamaju, mengaku warga di lingkungannya masih harus membakar sampah rumah tangga lantaran belum ada layanan pengangkutan yang menjangkau kawasan tersebut.
"Tidak ada yang mau mengangkut sampah ke sini, alasannya terlalu jauh untuk mobil pengangkut. Makanya sampah di sini sering dibakar. Kalau yang membuang sampah di lokasi atas, saya pernah lihat, tapi bukan warga BTN sini. Padahal sudah dipasang papan larangan dan pagar, tetapi masih saja ada yang membuang sampah di situ," tuturnya.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran warga jika tumpukan sampah terus bertambah. Pasalnya, posisi Perumahan yang ditempatinya berada tepat di bawah lokasi pembuangan liar tersebut sehingga dikhawatirkan sampah dapat longsor ke area permukiman.
"Bahkan warga di BTN sini khawatir kalau sampah itu semakin banyak dan longsor ke bawah karena posisi perumahan kami berada tepat di bawah lokasi tersebut," pungkasnya. (ILA)
