Empat Perupa Bali Tawarkan Tafsir Spiritualitas dan Refleksi Diri di Bali Megarupa VIII 2026

IMG-20260728-WA0004


Empat perupa Bali menghadirkan tafsir artistik mengenai spiritualitas, refleksi diri, hingga hubungan manusia dengan alam melalui karya-karya yang akan dipamerkan dalam Bali Megarupa VIII 2026, bagian dari rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ). Pameran yang berlangsung pada 11–25 Juli 2026 di Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, dan Nata-Citta Art Space (N-CAS), ISI Bali, mengusung tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi. Tema tersebut mendorong seniman menghadirkan karya yang berangkat dari intuisi, pengalaman batin, hingga pembacaan terhadap mitologi dan tradisi spiritual Bali.


Salah satu karya yang ditampilkan adalah Patamanan Pengilon karya Made Tiartini Mudarahayu. Instalasi intermedium berukuran 200 x 130 x 60 sentimeter ini memadukan kain putih dengan beragam teknik tusuk hias, rangkaian bunga, dan elemen metailustrasi sebagai simbol perjalanan batin manusia. Judul karya diambil dari bahasa Jawa, yakni patamanan yang berarti taman bunga dan pengilon yang berarti bercermin. Melalui karya tersebut, Tiartini mengangkat kisah I Japatuan, tokoh dalam khazanah sastra Bali yang menempuh perjalanan spiritual dengan terlebih dahulu bercermin pada dirinya sendiri. Menurutnya, kasih tulus hanya dapat ditemukan ketika manusia berani menerima berbagai sisi kehidupannya, termasuk kekurangan dan luka yang dimiliki.


Sementara itu, Ni Luh Ayu Pradnyani Utami menghadirkan karya Lila Citra, sebuah eksplorasi material berbasis denim bekas yang diolah menjadi komposisi bunga tiga dimensi. Pemanfaatan celana jeans yang sudah tidak terpakai menjadi medium utama merupakan bentuk praktik seni berkelanjutan sekaligus simbol transformasi. Inspirasi karya tersebut berasal dari konsep Lila dalam filsafat Hindu, yang memaknai penciptaan alam semesta sebagai permainan ilahi yang berlangsung dengan sukacita, kebebasan, dan kreativitas. Susunan bunga denim merepresentasikan kompleksitas dunia material, sementara tenun ikat berwarna-warni yang tersisip di baliknya melambangkan dimensi spiritual atau niskala. Kehadiran mutiara di setiap bunga menjadi simbol kesadaran, sedangkan bunga fuchsia yang tumbuh dari kantong denim menggambarkan kebebasan jiwa yang mampu melampaui keterikatan materi.


Eksplorasi mengenai pengalaman batin juga tampak pada karya keramik Polifoni ciptaan Ida Ayu Gede Artayani. Karya berbahan ceramic stoneware berukuran 45 x 70 sentimeter itu menampilkan tujuh wajah manusia yang menyatu dalam satu struktur vertikal. Artayani meminjam istilah musikal "polifoni" sebagai metafora banyaknya suara batin yang hidup dalam diri manusia. Setiap wajah merepresentasikan identitas, emosi, dan pengalaman yang terus berkembang sepanjang kehidupan. Dedaunan yang tumbuh menyatu dengan figur wajah menjadi simbol hubungan manusia dengan alam sebagai sumber kehidupan dan keseimbangan jiwa. Melalui perpaduan bentuk figuratif dan organik, tekstur berlapis, serta warna-warna tanah yang tenang, karya tersebut menghadirkan ruang kontemplasi mengenai kompleksitas identitas manusia dan dialog yang terus berlangsung antara tubuh, alam, dan kesadaran.


Tema transformasi spiritual juga diangkat melalui karya tapestri Awakening yang diciptakan oleh Ni Kadek Karuni. Menggunakan benang katun dan limbah kain kaus sebagai medium, karya berukuran 180 x 87 sentimeter tersebut mengisahkan perjalanan spiritual tokoh Lubdaka pada malam Siwaratri. Dominasi warna hitam dan hijau tua menggambarkan kepekatan hutan sekaligus ketakutan batin sang pemburu. Komposisi vertikal menyerupai pepohonan, dipadukan dengan semburat kuning dan merah di bagian atas karya, menjadi simbol perpindahan dari kegelapan menuju kesadaran baru. Rangkaian daun-daun kecil yang menggantung pada bidang tenun mempertegas makna pelepasan keterikatan duniawi menuju pencerahan spiritual.


Keempat karya tersebut memperlihatkan beragam pendekatan artistik dalam merespons tema “Sukma Rupa: Artistika Atma Kerthi”. Meski menggunakan medium yang berbeda—mulai dari instalasi intermedium, tekstil, keramik, hingga material daur ulang—seluruhnya berangkat dari pencarian makna mengenai jiwa, perjalanan hidup, hubungan manusia dengan alam, serta refleksi atas nilai-nilai spiritual yang hidup dalam kebudayaan Bali.


Melalui Bali Megarupa VIII, para perupa tidak hanya menampilkan capaian estetik, tetapi juga menghadirkan ruang dialog mengenai pengalaman batin dan identitas manusia dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama