MenaraToday.Com - Pandeglang :
Pelaksanaan program Kampung Rescue Labuan di Desa Cigondang, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, mendapat sorotan dari sejumlah warga yang mengikuti kegiatan. Meski mengapresiasi upaya meningkatkan kesiapsiagaan bencana, mereka menilai pelaksanaan program masih menyisakan sejumlah persoalan, mulai dari pembubaran kepengurusan hingga minimnya pelibatan kelompok rentan.
Salah seorang peserta, Franky, yang juga merupakan perwakilan Karang Taruna Desa Cigondang, mengatakan dirinya sempat ditunjuk sebagai pengurus bidang logistik, sarana, dan prasarana saat rapat pembentukan Kampung Rescue yang diinisiasi badan search and resque nasional (Basarnas).
"Pada rapat pertama saya dibentuk menjadi pengurus bidang logistik, sarana dan prasarana mewakili Karang Taruna," kata Franky. Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan simulasi kebencanaan diikuti sekitar 100 peserta, terdiri dari sekitar 80 warga sekitar dan 20 karyawan PLTU 2 Banten Labuan.
Menurut Franky, kepengurusan kampung rescue yang telah dibentuk kemudian dibubarkan tanpa adanya penjelasan resmi kepada para pengurus.
"Yang saya tahu kepengurusan itu dibubarkan kembali. Saya tidak tahu siapa yang membubarkan. Tidak ada tembusan laporan ataupun klarifikasi kepada kami," ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi catatan dalam pelaksanaan program yang dipelopori Basarnas. Menurutnya, pembentukan kepengurusan seharusnya melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah kecamatan, BPBD provinsi dan kabupaten, Basarnas, hingga unsur kebencanaan lainnya.
Selain itu, Franky juga menyoroti tidak adanya keterlibatan siswa sekolah maupun guru dalam kegiatan simulasi. Padahal, menurutnya, edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak dini kepada masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir.
"Selama kegiatan saya tidak melihat ada keterlibatan anak SD, SMP maupun guru. Padahal mereka termasuk kelompok yang perlu mendapatkan edukasi kesiapsiagaan bencana," katanya.
Ia juga menilai kepengurusan lebih banyak diisi oleh anggota organisasi kebencanaan yang sudah terbentuk sebelumnya, seperti Kampung Siaga Bencana (KSB) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana), sehingga dikhawatirkan tidak memberikan pembaruan dalam penguatan kapasitas masyarakat.
Meski demikian, Franky tetap mengapresiasi pelaksanaan Kampung Rescue sebagai langkah awal membangun kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana.
"Saya berharap kegiatan ini terus berlanjut dan jangan hanya menjadi kegiatan seremonial. Kalau memang anggaran yang dikeluarkan tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, lebih baik dialokasikan untuk membantu warga yang benar-benar membutuhkan," tuturnya.
Hal senada disampaikan salah seorang warga yang juga mengikuti kegiatan tersebut, Mela, Ia menilai simulasi kebencanaan merupakan program yang baik, namun harus diikuti dengan pembinaan secara berkelanjutan.
Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat tidak cukup dibangun melalui satu kali kegiatan, melainkan membutuhkan latihan rutin agar warga memahami langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
"Program ini bagus, tetapi jangan hanya berhenti pada acara seremonial. Kami berharap ada pelatihan rutin dan pembentukan relawan yang benar-benar aktif di masyarakat," ujarnya.
Ia juga berharap pelaksanaan Kampung Rescue ke depan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, guru, lansia, penyandang disabilitas, hingga komunitas relawan di tingkat desa.
"Kalau semua unsur dilibatkan, manfaatnya akan jauh lebih terasa. Kampung Rescue harus menjadi program jangka panjang agar masyarakat benar-benar siap menghadapi bencana," katanya.
Warga berharap hasil evaluasi dari pelaksanaan Kampung Rescue Labuan dapat menjadi bahan perbaikan sehingga program kesiapsiagaan bencana tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi mampu memperkuat kapasitas masyarakat pesisir dalam menghadapi potensi bencana. (ILA)
