MenaraToday.Com - Tulangbawang Barat :
Warga Tulangbawang Barat khususnya konsumen SPBU Tiuh Murni Jaya 23.345.116 merasa terzolimi okeh pihak SPBU, pasalnya pihak SPBU diduga mengotak arik mesin Flow Meter bahan bakar minyak bersubsidi dan atas dasar tersebut dihadapkan pihak BPH Migas dan Aparat Penegak Hukum dapat mengambil tindakan tegas terkait hal ini
Hasil pengamatan awak media, Minggu (19/7/2026) terlihat pihak SPBU diduga telah membuka dan melegalkan sistem pelansiran terhadap para pemilik kendaraan roda 4 selaku pelansir minyak subsidi jenis solar dan pertalite dimana diduga pebisnis bukan mengutamakan konsumen umum dimana diduga kuat pihak perusahaan telah melanggar dan rusak mengindahkan aturan BPH Migas, Aparat Penegak Hukum dan instansi terkait lainnya .
"Terus terang dengan adanya peristiwa ini saya selaku konsumen dan sebagai masyarakat sadar dan taat hukum Saya sangat merasa kecewa, Geram terhadap ulah oknum pengawas perusahaan yang mengaku berinsial DN saat saya pertanyakan identitasnya" jelas Helmi saat berasa di area SPBU.
Dirinya menyebutkan setelah selesai mengisi BBM, dirinya merasa kecewa dan terpukul didepan khalayak ramai. Dan atas kejadian tersebut menjadi problem yang menimbulkan gejolak dan polemik sehingga viral di beberapa mediam
Dengan adanya hal itu tentunya ia merasa geram, dengan spontan ia kaget dan menjerit dalam hati setelah ia dipermalukan saat selesai mengisi minyak mobilnya jenis minibus datsun go+panca warna merah marun miliknya di SPBU setempat.
Hal serupa biasanya ia mengisi minyak dengan harga Rp. 100 ribu baik di SPBU manapun dipastikannya ketika mengacu ke spedometer mobilnya yang normal patokannya ia selalu mendapatkan tiga garis balok setiap membeli dengan harga Rp 100 ribu, namun apesnya kali ini kenapa ia beli dengan harga yang sama harus mendapati tambahan minyak satu garis balok saja, bukan bertambah menjadi lima garis balok dari sebelumnya dua garis balok, ada apa sebenarnya yang terjadi di balik semua ini???
Kenapa tambahan saat pengisian minyak mobilnya yang dari dua garis balok semula sebelum diisi dan barusan turun dari tiga garis balok menjadi dua garis balok hanya bertambah satu garis balok saja??? tapi aneh kenyataanya di spedometer mobilnya hanya mendapati tambahan minyak satu garis balok saja, padahal mobil sudah berkali kali di hidup matikan mesin nya dan di saksikan salah satu petugas operator pelayanan pengisian bahan bakar minyak subsidi.
Dari hal itu ia mengecam keras dan menduga kuat terhadap oknum SPBU ini diduga kuat telah menggunakan siasat buruk dan curang untuk mengelabui serta merugikan Konsumen umum demi meraup keuntungan besar.
Selain itu Helmi sebagai wartawan menduga kuat dengan adanya oknum pihak perusahaan ini telah membuka sistem pelansiran. disitu juga besar dugaan nya oknum pihak perusahaan telah membuat kesepakatan terhadap para pelansir secara terselubung, untuk melebihi harga standar subsidi demi mencari keuntungan pribadi dan oknum diduga telah melanggar dan melebihi harga yang sudah di terapkan Pemerintah terhadap pihak pelansir.
Tak hanya itu saja, dengan adanya dugaan oknum telah melegalkan membuka peluang pelansiran oknum pihak SPBU tentunya diduga kuat telah menghambat perjalanan dan merugikan waktu pihak konsumen umum dikarenakan mereka telah ikut mengantri berjam jam menunggu giliran tiba dan oknum telah membuat jalan raya seputaran menjadi sempit di sepanjang bahu jalan raya seputaran SPBU dan hal itu bisa menimbulkan Gejolak yang tidak di inginkan seperti kecelakaan lalu lintas yang menimbulkan kefatalan.
"Selain itu, Helmi juga sebagai wartawan menduga keras terhadap oknum pihak SPBU ini setelah dirinya mendapati informasi dari beberapa nara sumber baik selaku konsumen atau pelansir yang enggan disebut identitas mereka dikarenakan mungkin mereka selaku pelansir di SPBU ini.
"Bisa jadi bang kami juga terkadang bingung dan tercengang, soalnya minyak yang kami beli dengan harga sekian kok ngak sesuai dengan ukuran saat kami beli sebelumnya, " Ucap Nara sumber.
"ya gimana kami mau protes bang kami ngak tau mesin komputer minyak itu bisa dipermainkan dan di otak atik," Sambung Nara sumber.
Dikonfirmasi tim wartawan pengawas Perusahaan SPBU setempat yang menyebut namanya inisial DN dan EX selaku pihak kantor didampingi YG saat di pertanyakan tim media ini Di hari itu ditempat yang sama pada hari Rabu (15/7/2026) kemarin. Dengan nada sentakan DN membangah tim wartawan, dimana DN terkesan menolak dugaan wartawan lalu ia menjelaskan.
"Saya selaku pengawas di SPBU ini saat ini kami sedang mengecek ukuran takaran minyak saya bekerja sudah cukup lama disini sudah tujuh tahun kok,. Memang benar saya bukan petugas pengawas dari Pertamina pusat saya hanya pengawas dari perusahaan SPBU ini saja, " ujar DN.
Sementara EK sebagai pengawas kantor atau amin kasih menyebutkan dirinya kurang memahami tentang mesin
"Saya pengawas kantor atau admin kasir pak kalau bidang mesin saya terus terang ngak paham karna bukan bidang saya". Ujar EK
"Saya YG dan ini saya sedang mengontrol ukuran takaran BBM ternyata ukuran takaran sekarang ini bagus pak, coba bapak saksikan saja, coba saya lihat bukti di speedometer mobil bapak, ijin ya, heran juga saya pak, "kata (yg) terkesan mendukung dugaan aksi bejat oknum pengawas nama (dn)
Dikarenakan DN dan YG bukan pengawas dari pihak pertamina saat dikonfirmasi tim media ini. Dari hal itu mana mungkin tim wartawan mau percaya terhadap tim perusahaan SPBU, ada pepatah. Mana orang yang bersalah bakalan mau ngaku atas kesalahannya??? Kalau semua orang yang bersalah mau mengakui kesalahannya mungkin semua tahanan itu penuh, apalagi saat tim perusahaan tersebut jelas jelas setelah problem tersebut kebaca oleh seorang konsumen dan juga seorang wartawan, kedua oknum pengawas tersebut di duga kelagapan segera merapihkan kembali menjadi normal.
Dengan adanya pengakuan (dn) terhadap tim media dan didukung oleh timnya berinisial YG sebagai petugas pengawas perusahaan SPBU setempat dan mereka bukan pengawas dari Pertamina Pusat, di duga kuat setelah konsumen Helmi mengisi BBM subsidi untuk mobilnya dan setelah terjebak siasat buruk kedua oknum ini hingga membuat suasana seputaran SPBU jadi boomerang heboh dan hal tersebut semakin muncul dugaan kuat oknum (dn) dan YK diduga telah menjalin kerja sama Kong kalikong demi meraup untung besar dan memperkaya diri pribadi.
Dengan adanya Polemik ini kami segenap tim media ini tentunya siap mendukung sepenuhnya terhadap pihak Aparat penegak hukum (APH) di wilayah hukumnya dan terhadap pihak instansi terkait BPH Migas serta pihak terkait lainya dan kami sebagai mitra kerja sama selaku tim media ini meminta terhadap pihak berwenang dan instansi terkait untuk segera mengambil sikap tegas sesuai prosedur dan peraturan yang sudah di terapkan. (red..tim.)

