MenaraToday.Com - Pandeglang :
Erupsi yang terjadi sejak Jumat malam membuat sejumlah masyarakat di wilayah Labuan, Kabupaten Pandeglang, mulai panik. Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas sekolah, dengan sejumlah orang tua memilih menjemput anak mereka lebih awal. Di SDN Labuan 3, kegiatan belajar mengajar pada Sabtu masih berlangsung. Pihak sekolah memilih tetap siaga sambil menunggu informasi resmi dari BMKG maupun arahan dari pimpinan terkait.
Kepala SDN Labuan 3, Aat Supriatna, S.Pd., mengatakan pihak sekolah belum mengambil keputusan untuk meliburkan seluruh siswa karena masih menunggu perkembangan situasi.
“Untuk sementara kita masih dalam kondisi siaga. Kita akan menunggu informasi dari BMKG atau dari pimpinan yang ada di sini,” ujar Aat. Sabtu (5/9/2026).
Menurut Aat, kepanikan orang tua semakin meningkat setelah beredar informasi di media sosial mengenai sejumlah sekolah yang memulangkan siswa atau meliburkan kegiatan belajar.
Pihak sekolah kemudian memberikan keleluasaan kepada orang tua yang khawatir untuk menjemput anaknya.
“Kalau mau dijemput, istirahat, jemput saja. Tapi kita tidak memulangkan semuanya karena menunggu informasi selanjutnya dari BMKG atau pimpinan kita yang tertinggi,” katanya.
Aat menyebut, sekitar 50 persen siswa yang hadir di sekolah akhirnya dijemput oleh orang tua.
“Kalau dilihat hampir setengahnya, sekitar 50 persen, orang tua datang ke sekolah untuk menjemput karena kekhawatiran tadi,” ungkapnya.
Sementara siswa yang masih berada di sekolah tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar. Terlebih, agenda sekolah pada Sabtu tersebut diisi dengan kegiatan “Sabtu Ceria” serta latihan persiapan pengibaran bendera Merah Putih.
“Untuk anak yang datang, proses KBM tetap berjalan. Kebetulan hari ini Sabtu Ceria dan ada latihan untuk persiapan pengibaran bendera Merah Putih,” jelas Aat.
Menurutnya, siswa kelas atas masih banyak yang bertahan di sekolah. Sedangkan siswa kelas bawah lebih banyak yang dijemput oleh orang tua.
Jika kondisi erupsi dan kepanikan masyarakat berlanjut dalam beberapa hari ke depan, pihak sekolah masih menunggu arahan resmi sebelum menentukan kebijakan selanjutnya.
Aat menegaskan, hingga saat ini belum ada pemberitahuan resmi kepada orang tua untuk meliburkan sekolah.
“Kita memang luar biasa ini, tetap memantau informasi dari BMKG. Karena yang namanya alam kan kita tidak tahu,” ujarnya.
Ia meminta para guru dan orang tua tidak ikut terbawa kepanikan, tetapi tetap menjaga kewaspadaan dan keselamatan anak-anak.
“Kita siap siaga di sekolah untuk menyampaikan informasi dan menenangkan. Di sini kita tidak bisa ikut-ikutan panik. Orang tua dan guru harus benar-benar saling menjaga,” tegasnya.
Mayoritas siswa SDN Labuan 3 merupakan warga sekitar sekolah, terutama dari Kampung Baru dan Muncang. Sebagian lainnya berasal dari wilayah pesisir, meski jumlahnya tidak terlalu banyak.
Aat pun mengimbau agar tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang.
“Saya berpesan mudah-mudahan situasi dan kondisi tetap tenang dan tidak erupsi. Kita tetap waspada dan menjaga kondisi di lingkungan sekolah. Harapan saya, tetap tenang dan mudah-mudahan tidak ada apa-apa,” ucapnya.
Erupsi Gunung Anak Krakatau juga berdampak terhadap aktivitas belajar mengajar di SDN Caringin 1. Sejumlah siswa memilih tidak masuk sekolah pada hari ini akibat kondisi yang ditimbulkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau.
Salah satu guru SDN Caringin 1, Deni Kurnia, mengatakan bahwa jumlah siswa yang hadir di sekolah pada hari ini mengalami penurunan.
“Pada hari ini banyak anak yang tidak bersekolah akibat erupsi Gunung Anak Krakatau,” tutur Deni Kurnia.
Menurut Deni, kondisi tersebut membuat kehadiran siswa di SDN Caringin 1 tidak seperti biasanya. Sejumlah orang tua memilih untuk tidak mengizinkan anak mereka berangkat ke sekolah karena mempertimbangkan kondisi akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Situasi tersebut turut memengaruhi kegiatan belajar mengajar di SDN Caringin 1. Pihak sekolah terus memantau perkembangan kondisi di wilayah sekitar dan mempertimbangkan keselamatan siswa serta tenaga pendidik.
Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian masyarakat, khususnya bagi warga yang berada di wilayah terdampak. Kondisi aktivitas gunung api tersebut juga berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendidikan. (ILA)
