MenaraToday.Com - Pandeglang :
Kegiatan Masa Orientasi Pramuka (MOP) peserta didik baru SMPN Labuan 2, Kabupaten Labuan, Banten, dihentikan sementara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Keputusan tersebut diambil demi keselamatan siswa setelah aktivitas vulkanik meningkat pada Sabtu (5/9/2026).
Sebanyak 440 siswa baru sebelumnya mengikuti kegiatan Masa Orientasi Pramuka yang terbagi dalam 11 kelas. Dari jumlah tersebut, 14 siswa tidak mengikuti kegiatan karena berbagai alasan, di antaranya sakit dan kepentingan keluarga.
Dewan Kehormatan Gugus SMPN Labuan 2, Nurofikoh, mengatakan kegiatan awalnya dirancang berlangsung selama tiga hari tiga malam. Pada hari pertama, siswa mengikuti upacara pembukaan, pengenalan Pramuka Penggalang, penyampaian materi, serta sejumlah kegiatan lainnya.
Pada hari berikutnya, peserta didik mengikuti salat dan senam pagi. Mereka kemudian dijadwalkan mengikuti kegiatan jelajah hingga sore hari dan dilanjutkan dengan api unggun pada malam harinya. Namun, rencana tersebut akhirnya dihentikan setelah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau.
“Seharusnya hari ini ada jelajah. Anak-anak biasanya berkegiatan sampai sore, kemudian malamnya ada api unggun. Berhubung ada kejadian alam erupsi, daripada membahayakan dan orang tua khawatir, akhirnya mereka dijemput,” ujar Nurofikoh.
Nurofikoh mengatakan, keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama pihak sekolah. Orang tua yang merasa perlu menjemput anaknya juga dipersilakan untuk segera membawa mereka pulang atau mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman.
Menurut dia, situasi tersebut mengingatkan pada pengalaman masyarakat ketika terjadi gempa dan isu tsunami pada 2018. Saat itu, kepanikan sempat membuat masyarakat dan sejumlah peserta didik menyelamatkan diri secara spontan.
“Kalau orang tuanya meminta anaknya pulang atau mengungsi, silakan saja. Yang penting mereka menjaga diri dan menyelamatkan diri,” katanya.
Rencana awal, pada akhir kegiatan peserta didik kelas VII akan menjalani pelantikan dan secara resmi menjadi anggota Pramuka Penggalang SMP 2. Namun, agenda tersebut harus ditunda sampai kondisi dinilai aman dan kondusif.
Pembina Gugus Depan SMPN Labuan 2, Adi Mulyadi, mengatakan pihak sekolah masih memantau perkembangan informasi resmi dari BMKG serta kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Jika situasi dalam beberapa hari ke depan sudah kondusif, kegiatan yang tertunda tetap akan diupayakan untuk dilaksanakan. Namun, bentuk kegiatannya kemungkinan tidak lagi berupa perkemahan dengan menginap.
“Kita masih memantau informasi resmi dari BMKG. Kalau beberapa hari ke depan situasi sudah kondusif, kita akan lanjutkan, tetapi tidak berbentuk perkemahan bermalam,” kata Adi.
Kegiatan lanjutan kemungkinan dilakukan pada Sabtu di luar jam pembelajaran dengan konsep kegiatan outdoor, seperti penjelajahan.
Sementara itu, upacara penutupan tetap akan dilaksanakan karena kegiatan sebelumnya telah diawali dengan upacara pembukaan.
Untuk pembubaran tenda, pihak sekolah juga masih melakukan evaluasi. Informasi awal menyebutkan peserta didik akan kembali ke sekolah pada Minggu untuk melakukan pembubaran tenda.
Namun, rencana tersebut dapat berubah mengikuti kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau dan perkembangan informasi dari pihak berwenang.
Adi mengatakan informasi terbaru akan disampaikan melalui grup wali kelas masing-masing.
"Semakin ke sini, melihat kondisi yang ada, kemungkinan besok peserta didik belum bisa kami undang untuk melanjutkan kegiatan,” ujarnya.
Ia juga mempertimbangkan kondisi siswa apabila mereka harus kembali ke sekolah hanya untuk membongkar tenda sementara situasi belum sepenuhnya kondusif.
“Kalaupun besok disuruh ke sini hanya untuk pembubaran tenda, kami juga kasihan kepada anak-anak,” kata Adi.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi sejak Jumat (4/9/2026) malam dan aktivitasnya berlanjut hingga Sabtu.
Laporan PVMBG menyebut aktivitas erupsi tersebut menyerupai fenomena lava fountain atau air mancur lava. Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti informasi dan rekomendasi resmi terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Sementara itu, BNPB meminta masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung tetap tenang dan tidak panik dalam merespons aktivitas erupsi tersebut.
Pihak SMPN Labuan 2 pun memilih mengutamakan keselamatan siswa dan menunggu situasi benar-benar kondusif sebelum memutuskan jadwal pelaksanaan kembali kegiatan Masa Orientasi Pramuka dan upacara penutupan. (ILA)
