MenaraToday.Com - Serang :
Upaya konservasi badak Jawa memasuki babak baru. Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) mulai memanfaatkan teknologi reproduksi berbantuan atau Assisted Reproductive Technology (ART) untuk memperkuat reproduksi badak Jawa. Hal itu terungkap saat menggelar konsultasi publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) periode 2026–2035, bertempat di Hotel Aston, Serang, Banten. Kamis (24/9/2026).
Teknologi tersebut menjadi bagian dari strategi konservasi untuk mendukung pertumbuhan populasi badak Jawa, di samping tetap mengandalkan proses reproduksi alami yang berlangsung di habitatnya.
Kepala BTNUK Ardi Andono mengatakan penggunaan teknologi reproduksi berbantuan merupakan langkah baru dalam konservasi badak Jawa.
“Ini suatu langkah baru dengan teknologi yang sangat canggih. Kita menggunakan bantuan untuk reproduksinya,” ujar Ardi.
Pengembangan teknologi reproduksi menjadi salah satu langkah yang dilakukan di tengah tantangan konservasi badak Jawa.
Kementerian Kehutanan sebelumnya menyebut rendahnya keragaman genetik dan tingginya tingkat inbreeding atau perkawinan sekerabat sebagai tantangan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, upaya konservasi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah populasi, tetapi juga menjaga keberlanjutan populasi dari sisi genetik.
Kajian Population Viability Analysis (PVA) menjadi salah satu dasar penting dalam menyusun strategi konservasi jangka panjang. Kajian tersebut membantu melihat berbagai faktor yang dapat memengaruhi keberlangsungan populasi badak Jawa.
Ardi menyebut populasi badak Jawa saat ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan populasi pada beberapa periode sebelumnya.
Meski demikian, peningkatan populasi tersebut harus diikuti dengan pengelolaan habitat yang berkelanjutan. Habitat yang sehat dan aman menjadi faktor penting agar badak Jawa dapat terus berkembang biak secara alami.
“Pertumbuhan populasi secara alami harus terus didukung dengan kondisi habitat yang sehat dan aman,” kata Ardi.
Kabar positif mengenai reproduksi alami badak Jawa juga datang dari Taman Nasional Ujung Kulon.
Pada 29 Januari 2026, kamera jebak merekam seekor induk badak Jawa bersama anaknya di Blok Cigenter. Rekaman tersebut menjadi dokumentasi anakan badak Jawa pertama yang tercatat pada 2026.
Temuan ini menjadi kabar positif bagi upaya konservasi badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon. Reproduksi alami yang terus berlangsung tetap menjadi bagian penting dalam mempertahankan populasi satwa langka tersebut.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi reproduksi berbantuan menjadi pendekatan tambahan untuk memperkuat strategi konservasi. Dengan demikian, konservasi badak Jawa kini dilakukan melalui sejumlah pendekatan, mulai dari mempertahankan reproduksi alami, pemanfaatan teknologi reproduksi, pengelolaan habitat, hingga penggunaan kajian ilmiah untuk menentukan strategi konservasi jangka panjang. (Ila)
